Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
(kiri-kanan) Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril, Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Susana Indah K Indriati, Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri Rohan Hafas, dan Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan meresmikan pengoperasian SPKLU Plaza Mandiri dalam rangka mendukung energi terbarukan di Jakarta, Senin (10/1/2022). Foto: IST

(kiri-kanan) Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril, Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Susana Indah K Indriati, Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri Rohan Hafas, dan Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri Panji Irawan meresmikan pengoperasian SPKLU Plaza Mandiri dalam rangka mendukung energi terbarukan di Jakarta, Senin (10/1/2022). Foto: IST

GWM Bank Dinaikkan Bertahap, Saham Bank Tetap Menarik

Jumat, 21 Januari 2022 | 08:35 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Peningkatan giro wajib minimum (GWM) perbankan bisa berefek terhadap penurunan rasio bunga bersih (net interest margin/NIM). Hal ini seiring dengan rencana Bank Indonesia (BEI) untuk menaikkan GWM sekitar 300 basis poin mulai 1 Maret 2022.

Analis CGS CIMB Sekuritas Yulinda Hartanto dan Ilham Firdaus mengatakan, rapat dewan gubernur BI kemarin mempertahankan tingkat suku bunga 3,5%, tetapi bank sentral akan mulai melakukan normalisasi kebijakan likuiditas dengan menaikkan secara bertahap giro wajib minimum (GWM) rupiah perbankan mulai awal Maret 2022. GWM bakal dinaikkan sebanyak 300 bps secara bertahap mulai Maret 2022.

Advertisement

Baca juga: BI Mulai Normalisasi Kebijakan Likuiditas Maret 2022

Kenaikan GWM rupiah untuk bank umum konvensional yang saat ini sebesar 3,5% adalah sebagai berikut: pertama, kenaikan 150 bps sehingga menjadi 5,0% dengan pemenuhan secara harian sebesar 1,0% dan secara rata-rata sebesar 4,0% berlaku mulai 1 Maret 2022.

Kedua, kenaikan 100 bps sehingga menjadi 6,0% dengan pemenuhan secara harian sebesar 1,0% dan secara rata-rata sebesar 5,0% berlaku mulai 1 Juni 2022. Ketiga, kenaikan 50 bps, sehingga menjadi 6,5% dengan pemenuhan secara harian sebesar 1,0% dan secara rata-rata sebesar 5,5% berlaku mulai 1 September 2022.

Sedangkan GWM rupiah untuk bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) yang saat ini sebesar 3,5% adalah sebagai berikut: pertama, kenaikan 50 bps, sehingga menjadi 4,0% dengan pemenuhan secara harian sebesar 1,0% dan secara rata-rata sebesar 3,0% berlaku mulai 1 Maret 2022.

Kedua, kenaikan 50 bps, sehingga menjadi 4,5% dengan pemenuhan secara harian sebesar 1,0% dan secara rata-rata sebesar 3,5% berlaku mulai 1 Juni 2022. Ketiga, kenaikan 50 bps, sehingga menjadi 5,0% dengan pemenuhan secara harian sebesar 1,0% dan secara rata-rata sebesar 4,0% berlaku mulai 1 September 2022.

“Berdasarkan kalkulasi kami, dampak kebijakan peningkatan GWM perbankan mulai Maret tersebut hanya berdampak minimal terhadap NIM perbankan. Sedangkan dampak paling rendah akan dicatatkan PT Bank Centrak Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) berkisar 3 bps. Sedangkan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) menjadi bank yang paling terdampak besar atas kebijakant ersebut berkisar 10 bps,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.

Mengapa dampak kebijakan tersebut rendah pengaruhnya terhadap NIM beberapa bank? Karena mayoritas bank telah memiliki GWM di atas 3,5% sejak September 2021, BI juga akan memberikan bunga atas cadangan tersebut mencapai 1,5% per tahun, perhitungan GWM berdasakan dua komponen harian dan rata-rata, dan peningkatan GWM juga secara bertahap.

Baca juga: BI Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%

Dia mengatakan, dampak paling besar terhadap NIM adalah peningkata suku bungan bank central, karena mendorong peningkatan deposito berdurasi 1-3 bulan. Berbagai faktor tersebut mendorong CGS CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi overweight saham perbankan. Sedangkan sentimen positif sektor ini adalah pertumbuhan ekonomi yang lanjutkan pemulihan tahun ini, sehingga berimbas terhadap peningkatan kredit.

CGS CIMB Sekuritas mempertahankan rekomendasi add saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan target harga Rp 8.300, rekomendasi add saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan target harga Rp 8.710, dan rekomendasi add saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan target harga Rp 5.000.

Prospek Saham Bank

Rekomendasi

Target harga

BMRI

add

Rp 8.300

BBNI

add

Rp 8.710

BBRI

add

Rp 5000

CGS CIMB Sekuritas

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN