Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor melihat monitor saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Investor melihat monitor saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

IHSG Tembus 6.700, Bukti January Effect Terjadi Tahun ini?

Sabtu, 22 Januari 2022 | 07:19 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level resistance 6.700. Setelah pada perdagangan Jumat (21/1) IHSG ditutup menguat 99,5 poin atau 1,50% di level 6.726,37. Hal ini berpotensi akan menjadi level support baru bagi pergerakan IHSG kedepanya. Apakah hal ini membuktikan bahwa January effect terjadi pada tahun ini?

Analis Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, jika berbicara mengenai January effect, ekspektasinya perdagangan IHSG akan selalu naik pada bulan itu. Jika seperti itu, ini sudah terjadi dengan IHSG berhasil menembus 6.700 keatas lagi pada penutupan Jumat (21/1). Namun, secara historis, January effect tidak sekuat window dressing pada Desember. Hal itu terlihat dalam 20 tahun terakhir, Window dressing selalu terjadi dan IHSG tidak pernah negatif pada Desember.

Baca juga : IHSG Pekan Ini Ditutup Meningkat ke level 6.700

“Namun, jika dilihat January effect, ada historisnya tidak selalu mengalami positif. Ada beberapa kali mengalami kerugian juga pada Januari,” ungkapnya kepada Investor Daily, Jumat (21/1).

Pada tahun ini, lanjut Wawan, kenaikan IHSG lebih pada katalis utama, yaitu pertama, harga komoditas lagi bagus. Kedua, dari sisi kesehatan. Sebab, sebelumnya IHSG sempat terkoreksi akibat kekhawatiran adanya kebijakan pengetatan. Tapi sampai saat ini masih belum ada. Alhasil, sampai sekarang IHSG cera ceria. “Jadi saya melihat jika January effect selalu positif, tahun ini sudah terjadi. Sebab, sebelumnya IHSG hanya bergerak di 6.600an, sedangkan saat ini telah menembus 6.700an. Bahkan ini sudah terbilang tinggi karena hampir diatas 2% atau sudah diatas rata-rata return bulanan IHSG,” jelasnya.

Namun, Wawan mengingatkan, perjalanan IHSG masih ada 10 hari lagi sampai Januari berakhir. Alhasil, masih ada potensi January effect mengalami kegagalan pada tahun ini. Kegagalan January effect akan terjadi apabila pertama, tiba-tiba pemerintah kembali menaikkan level PPKM. Keputusan ini sudah hampir dipastikan akan membuat IHSG terkoreksi dalam dan berpotensi membuat IHSG kembali berada di bawah 6.600. Untuk itu, jumlah penderita baru Covid-19 dari varian Omicron akan menjadi sorotan pelaku pasar kedepannya.

Baca juga : IHSG Akhir Pekan Melambung 99,5 Poin, Seluruh Sektor Saham Naik

Kedua, Wawan menyebutkan, dari sisi laba dari emiten-emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Mengingat sudah ada beberapa yang sudah mulai bisa diproyeksi kinerja tahun lalu. Sepanjang itu in line atau di atas ekspektasi tentu akan membuat pergerakan IHSG naik. Tapi, jika dibawah ekspektasi itu bisa saja membuat IHSG terkoreksi. Kedua hal ini yang paling kuat. Kalau dari sisi tapering suku bunga, ia menilai belum akan terjadi pada semester I. Terlebih, AS paling cepat naik pada Maret, Indonesia pun baru akan naik mengikutinya.

“Tidak ada alasan BI menaikan suku bunga saat ini. Mengingat inflasi masih rendah dan memburu pertumbuhan ekonomi. Sehingga BI akan menjaga suku bunga relatif rendah,” tegas Wawan.

Dengan pergerakan IHSG yang menembus 6.700, Wawan menilai akan menjadi support baru IHSG. Mengingat, selama ini jika menembus level tersebut, pelaku pasar selalu melakukan profit taking yang akhirnya melorot ke level bawah lagi. Untuk itu, diharapkan level 6.700 akan tetap bertahan hingga akhir Januari. Namun, hal ini membutuhkan katalis positif seperti ekspektasi pertumbuhan laba dan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga. Apalagi, sepanjang harga komoditas masih bagus, terutama batu bara, dan hal ini sangat menguntungkan.

Baca juga : IHSG Ditutup Bertahan di Zona Hijau

Tren kenaikan harga komoditas ini juga akan secara signifikan mempengaruhi pergerakan IHSG. Jika dilihat dari sektor energi, yang merupakan utamanya dari komoditas, memang porsinya hanya sekitar 10%an. Tapi hal ini mempunyai multiplier effect, jika harga komoditas lain naik akan mempengaruhi sektor lainnya juga. Bahkan akan membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia akan bagus karena pemerintah akan mempunyai banyak uang dan pendapatan negara bagus. Sehingga memacu pemerintah lebih yakin untuk membuat kebijakan pendukung.

“Misalnya saja program insentif PPnBm. pada akhirnya akan mempengaruhi sektor lain, seperti otomotif, keuangan, dan lainnya. Batu bara bagus bisa memberikan insentif pada sektor lainnya juga,” tegasnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN