Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pialang memantau pergerakan saham di sebuah sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Pialang memantau pergerakan saham di sebuah sekuritas, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Investor Shifting, Analis Ungkap Peluang Saham Sektor Teknologi 

Sabtu, 22 Januari 2022 | 07:28 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Saham-saham sektor teknologi mendulang kesuksesan pada 2021. Bahkan, Indeks teknologi yang pada tahun 2021 melesat di atas 700%. Sayangnya, pada pekan ketiga Januari sektor ini terkoreksi 5,31%. Hal ini disinyalir terjadi akibat investor shifting ke sektor lain. Lalu bagaimana peluangnya sepanjang 2022?

Analis Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan, saham-saham teknologi terkoreksi terjadi karena para pemegangnya mulai melakukan shifting ke saham lain. Bahkan, ini sudah terjadi sejak tahun lalu. Saham sektor teknologi menjadi pendorong utama IHSG pada semester I 2021 karena saat angka penderita Covid-19 meningkat akibat varian Delta. Namun, setelah itu valuasi saham teknologinya menjadi mahal. Ada beberapa saham teknologi secara fundamental belum baik dan pasti merugi, dan ternyata pertumbuhannya tidak sesuai dengan ekspektasi investor.

Baca juga : Saham Teknologi Terpuruk, Bagaimana Nasib ke Depannya?

“Akhirnya, investor malah cut loss untuk keluar dan pindah ke sektor yang lebih menjanjikan saat ini,” ungkap Wawan kepada Investor Daily pada Jumat (22/1).

Kedepannya, Wawan mengatakan pasti akan ada keseimbangan baru terutama apabila terjadi perbaikan kinerja pada saham-saham sektor teknologi. Serta, masih ada peluang saham-saham teknologi akan bangkit kembali. Ia memprediksi setidaknya masih ada peluang pada beberapa saham teknologi yang berpotensi disukai pasar karena memiliki kinerja yang bagus. Diantaranya EMTEK, DMMX dan MTDL. “Sayangnya, selama tiga bulan terakhir DCII dan BUKA terkoreksi,” jelas dia.

Sedangkan peluang decacron melantai di BEI pada tahun ini, Wawan menilai apabila basicly sama seperti BUKA, kemungkinan masih belum akan disukai oleh investor. Misalnya saja apabila GOTO ingin melantai, harus belajar dari kasus BUKA tentang alasan tidak disukai oleh investor. Namun, secara probabilitas, sektor teknologi merupakan sektor yang masih akan terus bertumbuh sehingga belum menjadi konsern utama. Sehingga, hal ini membuat sektor ini harus lebih komunikasi kepada investor mengenai pertumbuhan, bisnis yang akan dicapai, sehingga harapannya bisa diterima dengan baik oleh investor.

“Memang secara fundamental agak berbeda dengan sebelumnya. GOTO market leader. Biasanya emiten apapun jika market leader pasti premium. Sebenarnya yang paling ingin dilihat investor adalah growth. Apabila hal itu bisa disampaikan kepada investor dengan baik, berarti bisa diterima investor,” jelas Wawan.

Baca juga : Saham Teknologi dan Bank Digital akan Kuasai Top Gainers 2022

Wawan memperkirakan apabila perusahaan decacorn akan melantai, diperkirakan akan hype dan tinggi di awal perdagangan. Namun, harga saham merupakan proyeksi dari fundamental atau pendapatan dari emiten tersebut di masa depan. Apabila investor tidak yakin cenderung akan ganti, lepas, bahkan cut loss pada saham tersebut. Oleh karena itu, jika sampai GOTO menjadi tidak diminati oleh investor, dikhawatirkan akan memberatkan IHSG. Tapi, memberatkan bukan negatif, mengingat itu hanya karena harga saham yang turun.

Sekali lagi, Wawan menegaskan semua itu tergantung dari minat investor. Karena kalau bicara IHSG, tentu saja ada sektor lain yang diminati dan sedang naik. Seperti saat ini yang sedang diminati adalah komoditas. Mungkin teknologi bisa balik lagi diminati dan harga BUKA akan naik kembali. “Hal ini bahkan pernah dialami sekelas Facebook yang ketika dulu awal IPO harganya anjlok. Tapi setelah sekian lama dan menunjukan ada pertumbuhan sekarang bahkan sudah beberapa kali lipat. Karena sudah profit dan inilah yang dicari oleh para investor,” tutupnya.

 

 

 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN