Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di depan monitor pergerakan harga saham di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Karyawan melintas di depan monitor pergerakan harga saham di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Perhatian! Dua Sentimen Ini Jadi Penentu Pergerakan IHSG

Senin, 24 Januari 2022 | 17:06 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Dibuka dibuka terkoreksi 25,5 poin (0,38%) di level 6.700,82, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup pada melemah perdagangan sesi II Senin (24/1). IHSG terkoreksi 71,2 poin atau 1,06% ke level 6.655,16. Penurunan IHSG pada hari ini disinyalir akibat terpengaruh dua sentimen yang tengah menyita banyak perhatian para pelaku pasar. Apa saja keduanya?

Analis pasar modal Hans Kwee menyebut ada dua sentimen tersebut tidak hanya akan mempengaruhi pergerakan IHSG pada hari ini saja. Tapi juga pada perdagangan sepekan ini. “Keduanya akan sangat signifikan mempengaruhi pergerakan IHSG pada sepekan ini. Sebab, pelaku pasar sangat mengkhawatirkan keduanya,” ungkapnya kepada Investor Daily, Senin (24/1).

Baca juga : IHSG Terperosok 1,06%, Investor Asing Justru Net Buy Saham Rp 27,21 Miliar

Hans menyebut sentimen pertama adalah Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) The Fed atau bank sentral Amerika Serikat (AS) menggelar pertemuan kebijakan moneter dua hari pada 25 Januari hingga 26 Januari 2022. Dalam hal ini, pelaku pasar menanti sinyal dari The Fed mengenai pengurangan neraca AS. “Hal ini direspon pelaku pasar karena khawatir akan kejutan apa yang akan diberikan The Fed dari hasil pertemuan tersebut,” jelasnya.

Kedua, lanjut Hans, kekhawatiran pelaku pasar akan peningkatan kasus Covid-19 akibat varian Omicron di Indonesia yang terjadi dalam beberapa hari belakangan ini. Berdasarkan data Satgas Covid-19, berdasarkan 23 Januari 2022, tercatat ada 2.925 kasus baru. Bahkan dalam tujuh hari terakhir rata-rata kenaikan kasus baru mencapai 2.104 kasus.

“Peningkatan kasus ini dikhawatirkan oleh para pelaku pasar akan membuat pemerintah menaikan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Mengingat pemerintah pasti ingin menekan dan mencegah terjadinya peningkatan kasus baru,” paparnya.

Baca juga : Tertekan Omicron dan The Fed, IHSG Ditutup Melemah 1,06%

Menurut Hans Kwee, selama kedua sentimen ini belum bisa dikendalikan atau dipastikan, akan membuat pergerakan IHSG akan kembali menyentuh level 6.600-6.700. Bahkan, terburuknya akan mencapai level 6.500.

Dalam kondisi seperti saat ini, Hans Kwee menambahkan saham sektor teknologi valuasinya menjadi tidak menarik. Hal itu mengingat sektor ini sangat mengandalkan pertumbuhan jangka panjang. Tak heran apabila banyak dilepas oleh para investor. Hal ini pun tidak hanya terjadi di Indonesia saja, tapi juga di global. “Pada kondisi seperti saat ini, saham yang dapat dicermati dan dikoleksi adalah saham sektor consumer goods dan banking,” tutupnya.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN