Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tower milik PT Sarana Menara Nusantara Tbk.

Tower milik PT Sarana Menara Nusantara Tbk.

Intip Sengitnya Persaingan Emiten Menara Telekomunikasi

Senin, 24 Januari 2022 | 21:39 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Sejumlah perusahaan menara telekomunikasi ternama, yaitu PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) bakal menggenjot belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini. Hal tersebut menyebabkan persaingan di antara mereka makin sengit.

Direktur Investasi Mitratel Hendra Purnama mengatakan, tahun ini, perseroan menyiapkan capex sebesar Rp 9,9 triliun, yang bersumber dari dana hasil IPO sebesar Rp 18,8 triliun. Dengan jumlah capex 2022 tersebut, perseroan menargetkan dapat meraih pertumbuhan pendapatan secara tahunan sekitar 10% sampai 11% hingga 2025.

“Peningkatan revenue per tahun sekitar 10%. Tahun 2021, target kita sekitar Rp 6,6 triliun sampai Rp 6,7 triliun. Jadi tahun 2021, 2022, 2023, tumbuh lagi 10%. Sementara, pertumbuhan di industri hanya sekitar 5% atau 6%. Selebihnya, kita tingkatkan dua kali lipat dari pertumbuhan industri,” kata Hendra.

Target pertumbuhan tersebut tidak lepas dari proyeksi bisnis menara ke depan. Hendra melihat, tendensi usaha di sektor menara akan banyak ditandai oleh beberapa operator yang melakukan ekspansi sehingga, beberapa perusahaan yang bergerak di sektor sejenis akan menggenjot capex. Tendensi ini juga sejalan dengan rencana bisnis Mitratel ke depan.

Dengan demikian, perseroan menganggarkan capex sebesar Rp 9,9 triliun pada 2022 karena tahun ini dan tahun depan, MTEL masih dalam proses ekspansi besar-besaran sehingga target yang dipatok pun tinggi.

Baca juga: Oke INA! Borong Terus Saham Mitratel (MTEL)

Terlebih, pada 2023, MTEL berencana menjadi perusahaan infrastruktur digital. Sebab itu, perseroan perlu memastikan alokasi capex tahun ini agar perseroan lebih siap menggarap pasar 5G sebagai perusahaan infrastruktur digital. “Jadi, dengan adanya 5G, bisnis model kita berubah. Makanya, kita optimistis untuk mempersiapkan ke arah sana,” tuturnya.

Berdasarkan hasil riset Nielsen di bisnis menara, tenancy podcast mengalami pertumbuhan sebesar 35% terhitung sejak 2020 hingga 2026. Artinya, akan ada sekitar 56 ribu tower yang diperlukan untuk menjangkau kebutuhan tersebut. “56 ribu itu terdiri atas tenancy growth, coverage sekitar 2000-an, intensification sekitar 36 ribu. Jadi, pasarnya memang masih besar sekali,” ungkap riset Nielsen.

Untuk itu, secara bertahap, perseroan akan merealisasikan capex 2022 bukan hanya untuk pengembangan bisnis organik, tetapi juga anorganik. Terkait bisnis organik, Hendra menegaskan bahwa Mitratel akan menggunakan dana capex untuk peningkatan kolokasi, membangun menara baru, dan serat optik. Sedangkan anorganik, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tersebut akan mengakuisisi atau mengembangkan lini usaha lain yang terhubung dengan bisnis menara atau ekosistem perusahaan.

“Salah satunya akuisisi menara milik Telkomsel. Mitratel juga akan mengakuisisi menara-menara mobile operator lain. Bisa juga akuisisi serat optik atau bisnis lain yang terhubung dengan bisnis utama tower. Tapi saya belum bisa sebutkan nama operatornya,” imbuh Hendra.

Baca juga: Tambah Menara, Tower Bersama (TBIG) Rogoh Kocek Rp 3 Triliun

Bahkan dalam waktu dekat, ia mengharapkan perseroan dapat menandatangani kemitraan baru sebagaimana kolaborasi yang sudah terjalin pada Desember 2021 dengan perusahaan sektor telekomunikasi, PT Alita Praya Mitra. Kedua pihak sepakat untuk memperluas cakupan layanan serat optik. “Kalau misalnya sudah ada MoU atau akuisisi akan kami sampaikan,” ujarnya.

Sementara itu, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berpotensi meningkatkan capex tahun ini sebesar 50% dibandingkan alokasi capex tahun lalu yang sebesar Rp 2 triliun. Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure Helmy Yusman Santoso menyebutkan, jumlah capex yang dialokasikan perseroan tahun ini sebesar Rp 2-3 triliun yang sumbernya berasal dari kas internal dan pinjaman bank.

Capex 2022 akan digunakan perseroan untuk pertumbuhan bisnis organik. “Jadi, fokus membangun tower secara organik sesuai dengan pesanan dari operator telekomunikasi,” ungkap Helmy kepada Investor Daily.

Selain TBIG dan MTEL, perusahaan menara telekomunikasi yang lain, yakni PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), juga akan menggenjot capex tahun ini. Namun, perseroan belum menyebutkan nilai belanja modal tersebut.

Wakil Direktur Utama Sarana Menara Nusantara Adam Gifari mengatakan, nilai belanja modal TOWR akan difinalisasi pada awal Februari 2022. Sebab PT Indosat Tbk (ISAT) sebagai klien besar perseroan baru saja merampungkan merger dengan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I) pada awal tahun ini, sehingga kini menjadi Indosat Ooredoo Hutchison. “Jadi, tunggu sedikit lagi, biar kami selesaikan dulu,” ucap Adam kepada Investor Daily.

Sebelumnya, entitas Grup Djarum ini tengah fokus melakukan konsolidasi menara pada anak usahanya, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo).

Baca juga: Anak Usaha Sarana Menara Nusantara (TOWR), Protelindo Akuisisi Komet Infra Nusantara

Melalui strategi tersebut, perseroan lewat Protelindo menyuntikkan deposit sebesar Rp 110 miliar guna mengakuisisi menara anak usahanya, PT Komet Infra Nusantara (KIN). Sekretaris Perusahaan Sarana Menara Nusantara Irfan Ghazali menjelaskan, deposit Protelindo kepada KIN ini merupakan bagian dari rencana bisnis perseroan ke depan untuk mengonsolidasikan menara telekomunikasi kepada Protelindo.

Perseroan berharap, dengan konsolidasi menara ini dapat memberikan hasil yang maksimal kepada Protelindo. “Protelindo dan KIN telah menandatangani perjanjian pemberian deposit terkait rencana pembelian aset pada tanggal 7 Januari 2022,” kata Irfan.

Dalam perjanjian itu, KIN bermaksud melakukan restrukturisasi dengan menjual menara dan Protelindo setuju melakukan telaah atau uji tuntas terhadap menara atau aset milik KIN. Karena itu, Protelindo akan membayar sebesar Rp 110 miliar kepada IKN sebagai deposit.

Sebagai informasi, TOWR merupakan pemegang saham mayoritas Protelindo dengan kepemilikan penuh atas 99,9997% saham Protelindo. Sedangkan KIN merupakan anak perusahaan yang 99,99% sahamnya dimiliki Protelindo.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN