Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Pelaku Pasar Wait and See, IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

Rabu, 26 Januari 2022 | 07:51 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pilarmas Investindo Sekuritas memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) berdasarkan analisa teknikal, berpeluang bergerak menguat terbatas pada perdagangan Rabu (26/1). IHSG diperkirakan akan diperdagangkan pada kisaran 6.529 – 6.635.

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai potensi koreksi akan kerap terjadi dan pelaku pasar dan investor akan terlihat wait and see hari ini menjelang keputusan The Fed. Apabila The Fed optimis untuk menaikkan tingkat suku bunga pada Maret mendatang, ada kemungkinan koreksi akan kembali terjadi. 

Baca juga : Saham Pilihan untuk Trading 26 Januari dan Target Harganya

Selaini itu, Pilarmas Investindo Sekuritas menilai kabar lainnya juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Salah satunya IMF yang pada akhirnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya untuk tahun 2022 menjadi 4,4%, karena market outlook mereka terhadap Amerika dan China yang diproyeksikan akan jauh lebih rendah dari sebelumnya di tambah dengan tekanan yang datang dari inflasi. Perekonomian global diproyeksikan akan turun dari proyeksi sebelumnya IMF di 4,9% pada Oktober akan turun menjadi 4,4% pada tahun ini.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2023 akan berada di 3.8%, naik tipis dari sebelumnya. Namun secara ekspansi kumulatif, selama 2 tahun akan ada 0.3% lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. IMF melihat Amerika, sebagai perekonomian terbesar di dunia akan mengalami penurunan akibat tertundanya prospek stimulus Joe Biden dan pelambatan perekonomian Tiongkok. Ekonomi dunia tumbuh sebesar 5,9% pada tahun lalu dan IMF memproyeksikan pertumbuhan tersebut merupakan yang terbesar dalam kurun waktu 4 dekade dimana sebelumnya perekonomian dunia terkontraksi hingga 3,1% pada tahun 2020.

“IMF sudah menyampaikan pandangannya, dan hal ini masih sesuai dengan proyeksi kami, meskipun kami berharap bahwa pandemic dapat berakhir tahun ini dengan dukungan vaksin dan berhentinya mutasi, mungkin pemulihan akan benar benar terjadi. Seperti yang kami katakan sebelumnya, pemulihan ekonomi yang berkelanjutan dan konsistenlah yang akan menjadi kunci,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas dalam risetnya.

Dari dalam negeri, Pilarmas Investindo Sekuritas menyoroti tentang kebijakan pemerintah terkait implementasi nol kendaraan Over Dimension Over Load atau ODOL memiliki perhatian khusus baik bagi pelaku usaha maupun masyarakat. Mengingat penuhnya kapasitas dari truk pengangkut tersebut dinilai cukup membahayakan pengendara lain. Di satu sisi, upaya perusahaan untuk menekan biaya operasional juga menjadi pilihan guna dapat menjaga harga jual produk dan dapat tetap bersaing.

Baca juga : IHSG Berpeluang Technical Rebound, Cermati ADRO, HRUM, PGAS

Apabila kebijakan tersebut tetap dilaksanakan pada awal 2023, Kami melihat beberapa poin yang dapat menjadi dampak jika aturan zero ODOL tersebut, yaitu Penambahan armada dan sumber daya manusia (SDM) otomatis menambah biaya logistik pabrikan. Pada akhirnya, perusahaan bakal menambah modal kerja untuk memenuhi kedua hal itu. Biaya logistik nasional akan semakin mahal. Sedangkan kontribusi biaya logistik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) 23%, lebih tinggi ketimbang negeri jiran kisaran 15%.

“Kapasitas produksi di pabrik makanan dan minuman diprediksi turun. Ini karena kendaraan ODOL yang mengangkut bahan baku untuk industri makanan dan minuman seperti minyak sawit mentah, tertahan,” jelasnya.

Pada perdagangan Selasa (25/1), IHSG ditutup melemah 87 poin atau 1,31% menjadi 6.568. Sektor technology, transportation&logistic, financials, energy, industrials, infrastructures, properties & real estate, consumer cylicals, consumer non-cyclicals, basic materials, healtcare bergerak negatif dan mendominasi penurunan IHSG kali ini. Investor asing di seluruh pasar membukukan pembelian bersih sebesar Rp 110 miliar. (iin)

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN