Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Suasana di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Suasana di main hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Menurun, Peran Investor Institusi di BEI

Rabu, 26 Januari 2022 | 14:41 WIB
Lona Olavia ,Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id) ,Indah Handayani (handayani@investor.co.id) ,Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Volatilitas harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang cukup tajam beberapa tahun terakhir disebabkan oleh penurunan peran investor institusi.

Sebagaimana terjadi di berbagai negara sepanjang sejarah pasar modal, kehadiran investor institusi sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar dan mengangkat indeks. Pasar saham yang didominasi investor ritel terbukti menimbulkan volatilitas yang terlalu tinggi seperti yang terjadi di BEI.

IHSG mencatatkan kejatuhan cukup dalam selama dua hari terakhir. Berdasarkan data BEI, IHSG ditutup melemah sebesar 1,06% ke level 6.655,17 pada perdagangan Senin (24/1). Kemudian, pada perdagangan Selasa (25/1) kemarin IHSG ditutup turun 1,31% menjadi 6.568,17.

Seorang investor memantau pergerakan saham melalui ponselnya di kawasan Depok. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza
Seorang investor memantau pergerakan saham melalui ponselnya di kawasan Depok. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Secara year to date (ytd), IHSG melemah 0,2%. Pelemahan juga terjadi pada indeks LQ45 dalam dua hari terakhir, masing-masing sebesar 1,07%, dan ditutup di level 939,34 pada perdagangan kemarin.

Secara year to date (ytd), indeks LQ45 mencatatkan kenaikan 0,85%. Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, trader dibutuhkan pasar karena akan mempengaruhi likuiditas harian. Namun, jika semua diisi oleh para trader maka IHSG tidak akan bergerak kemana-mana.

Kepemilikan saham oleh investor

Karena itu, di bursa saham sangat perlu investor dengan holding periode menengah panjang yaitu investor institusi.

“Saya juga meyakini, institusi juga masih menjadi pertimbangan bagi investor ritel dalam bertransaksi. Jadi, peran sebagai penggerak pasar dan stabilitas masih bisa dimainkan oleh institusi,” kata Alfred Nainggolan kepada Investor Daily, Selasa (25/1).

Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Capital. Sumber: BSTV
Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Capital. Sumber: BSTV

Dalam beberapa tahun terakhir, lanjut dia, terjadi penurunan aktivitas investor institusi terutama domestik.

“Faktor pandemic Covid-19 dan juga permasalahan besar yang menjerat beberapa investor institusi besar kita menjadi faktor turunnya aktivitas investor institusi domestik kita,” ujar dia.

Terkait strategi, Alfred menjelaskan, strategi tentu berbeda setiap institusi, namun tentu hal-hal yang masih menjadi prioritas bagi institusi dalam investasi di pasar modal adalah fundamental perusahaan, termasuk kondisi sektoral dan makro, serta dan likuiditas seperti kapitalisasi dan nilai transaksi.

“Dan investor institusi lebih konsisten dibandingkan ritel seperti dalam hal priode investasi, target return dan metode atau acuan pemilihan portofolio,” ucap dia.

Adapun saham-saham yang menjadi pilihan investor institusi adalah saham dengan fundamental dan likuiditas yang baik. Apalagi, investor intitusi memiliki dana yang sangat besar, sehingga pertimbangan likuiditas seperti size kapitalisasi pasar dan juga nilai transaksi menjadi amat penting.

Alhasil, pilihan investor institusi akan condong ke saham-saham first liner. “Terkait dengan alokasi sangat bergantung kepada tujuan investasi masing-masing, seperti jangka waktu, target return dan nilai dana yang diinvestasikan,” tambah Alfred.

Jumlah investor ritel dan institusi
 

Berdasarkan catatan di akhir tahun 2021, kepemilikan investor individual domestik mengalami kenaikan dari 13% menjadi 15%. Jumlah investor di bursa di tahun 2021 juga melonjak 93% menjadi 7,5 juta di mana 99% adalah investor ritel, artinya ada penambahan yang signifikan investor ritel Tanah Air. Dampaknya pun terlihat terhadap nilai transaksi harian (NTH) di BEI mengalami kenaikan signifikan.

Lebih lanjut, Alfred menjelaskan, jika melihat porsi saham ritel terhadap free float, ritel memiliki kemampuan untuk menjadi penggerak pasar.  Apalagi perbedaan investor institusi dengan ritel yang sangat mencolok adalah holding periode transaksi, di mana ritel jauh lebih pendek dibandingkan institusi sehingga saat investor institusi tidak sedang transaksi, maka investor ritel menjadi penggerak pasar dalam jangka pendek.

Adapun, dengan komposisi ritel terhadap kepemilikan free float sebesar 50%, maka bobot transaksi minimal 40%-60% terhadap transaksi saham di bursa.

Perlu Keseimbangan

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (Foto: Beritasatu Photo/Uthan)
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (Foto: Beritasatu Photo/Uthan)

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pertumbuhan investor ritel domestik di pasar modal juga harus diimbangi dengan pertumbuhan investor institusi dan global. Hal ini juga guna mempertahankan stabilitas pasar.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen menjelaskan, jumlah investor di pasar modal Indonesia meningkat pesat dari sekitar 1 juta investor pada 2017 menjadi hampir 7,5 juta investor pada tahun 2021.

“Ke depan memang kita harus terus kembangkan pasar modal melalui pertumbuhan investor domestik. Tapi jangan lupa untuk terus berupaya meningkatkan partisipasi dari investor global,” kata Hoesen dalam Seminar Pencapaian Pasar Modal 2021 secara daring, Selasa (25/1).

Dia menyebutkan, pertumbuhan investor ritel memang akan meningkatkan daya tahan pasar modal. Namun, tetap harus diimbangi dengan pertumbuhan investor institusional maupun global karena aset investor ritel tentu terbatas dibandingkan yang dimiliki investor institusional maupun investor asing. Karena itu, dia kembali mengingatkan, perlu ada keseimbangan.

“Ini harus jadi orientasi kitamenyeimbangkan,” terang Hoesen.

Salah satu cara meningkatkan jumlah investor adalah mendorong initial public offering (IPO) dari perusahaan perintis (start-up) unicorn maupun decacorn.

Menurut Hoesen, dengan IPO dan masuknya perusahaan kategori new economy itu ke Bursa Efek Indonesia (BEI) selain diharapkan dapat meningkatkan kapitalisasi pasar di BEI juga menjadi daya tarik investor.

“Masuknya perusahaan kategori new economy diharapkan bisa menjadi daya tarik bagi investor regional dan global untuk masuk ke pasar modal Indonesia,” sebut Hoesen.

Direktur Utama PT BEI Inarno Djajadi saat Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2021 secara virtual pada Kamis (30/12/2021).  Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
Direktur Utama PT BEI Inarno Djajadi   Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengungkapkan, data per 21 Januari 2022 mencatat bahwa jumlah investor di pasar modal Indonesia mencapai 7,75 juta investor. Adapun untuk jumlah investor sahamnya sebanyak 3,5 juta investor.

“Dari sisi investor pasar modal per 21 Januari 2022, telah terdapat penambahan lebih dari 260.000 investor pasar modal baru (dibandingkan Desember 2021) menjadi 7,75 juta investor. Di antara investor pasar modal itu, jumlah investor saham juga mengalami peningkatan lebih dari 80.000 investor menjadi 3,5 juta investor,” terang Inarno.

Dia menyampaikan, peningkatan jumlah investor merupakan hasil dari upaya BEI bersama stakeholders yang terus-menerus dalam melakukan sosialisasi dan edukasi. Sebelumnya, BEI menargetkan jumlah investor pasar modal yang tercermin dalam Single Investor Identification (SID) bisa mencapai lebih dari 10 juta orang pada tahun 2022. Sosialisasi dan edukasi akan terus dilakukan untuk meningkatkan jumlah investor tersebut.

Periode Transisi

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee. Foto: IST
Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee. Foto: IST

Direktur PT Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menyebut saat ini pasar modal Indonesia memasuki periode transisi, yaitu investor ritel mulai mendominasi transaksi. Terutama dari sisi frekuensinya. Hal ini bahkan membuat investor ritel terbilang lumayan sudah menjadi penggerak pasar. Namun, Hans Kwee menambahkan, secara volume atau bobot transaksi masih didominasi oleh investor institusi dan asing.

Alhasil, jika dilihat dari size tersebut, investor institusi dan asing masih lebih banyak mempengaruhi pergerakan IHSG dan LQ45. “Dominasi utama tetap dari investor institusi dan asing ini. Memang ada transisi ke investor ritel yang juga menjadi penggerak pasar,” ungkapnya kepada Investor Daily, Selasa (25/1).

Sayangnya, Hans Kwee menjelaskan, saat ini investor asing lebih terlihat tengah mengurangi porsinya di Indonesia. Sedangkan investor institusi banyak yang mengalami masalah. Misalnya saja Jiwasraya dan lainnya, yang mengalami permasalahan belakangan ini. “Tapi ketika semuanya sudah membaik, investor asing dan institusi akan kembali ke Indonesia dan akan menjadi penggerak dominan lagi di pasar modal Indonesia,” jelasnya.

Biasanya, lanjut Hans Kwee, investor institusi dan asing dalam berinvestasi lebih banyak berinvestasi dalam jangka panjang.

Tak heran apabila keduanya lebih melihat saham-saham berdasarkan fundamentalnya, seperti ASII dan UNIV.

Andil Investor Institusi

Jumlah investor asing dan domestik
 

Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) Bambang Sri Muljadi meyakini, investor institusi, khususnya dana pensiun tidak ikut andil dalam koreksi IHSG dalam dua hari terakhir. Aksi jual kemungkinan dilakukan trader yang diliputi kekhawatiran akan kondisi di Amerika Serikat serta peningkatan kasus Omicron di dalam negeri.

“Jadi rata-rata investor sekarang, terutama yang asing untuk sementara keluar dulu sambil menunggu kepastian dari The Fed. Dan biasanya kalau asing keluar, secara psikologis investor domestik ikut-ikutan. Padahal seharusnya kalau mereka paham, dan lebih tenang sedikit, penurunannya tidak akan dalam. Saya yakin dana pensiun tidak ikut-ikut,” jelas dia.

Bambang mengungkapkan, dana pensiun umumnya lebih tenang dalam menghadapi gejolak pasar. Bahkan, dana pensiun saat ini masih menunggu laporan keuangan emiten 2021 yang diproyeksi mencatatkan kinerja positif.

“Saya yakin nanti saat musim laporan keuangan emiten dirilis, kinerja sahamnya akan naik. Jadi saya kira, dana pensiun harus sabar,” ujar dia.

Sehingga, lanjut Bambang, dana pensiun saat ini mengambil posisi wait and see sambil menunggu laporan keuangan emiten 2021. “Jadi dana pensiun sekarang tidak ikut-ikutanexit,” tegas dia.

Bambang menduga, apabila koreksi indeks cukup dalam, hal itu bisa saja dimanfaatkan dana pensiun besar untuk membeli saham yang sudah murah di pasar.

Hingga kini, kata Bambang, dana pensiun mengalokasikan sekitar 12% atau Rp 25 triliun ke portofolio saham dari total aset. “Jadi ini cukup besar untuk pasar modal,” ujar dia. Sementara itu, mengutip investor.id, total aset tersedia industri dana pensiun mencapai Rp 323,27 triliun atau tumbuh 5,63% secara year on year (yoy) per November 2021.

Nilai transaksi rata-rata
 

Para pendiri dana pensiun pemberi kerja program pensiun manfaat pasti (DPPK PPMP) diharapkan segera mengalihkan ke program pensiun iuran pasti (PPIP).

Mengacu statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan aset data pensiun itu didorong meningkatnya total aset investasi menjadi Rp 313,15 triliun per November 2021. Nilai itu tumbuh 5,95% (yoy) dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 295,54 triliun.

Semua instrumen aset investasi tumbuh, kecuali aset obligasi korporasi dan sukuk korporasi. Sedangkan saham, reksa dana, deposito berjangka, dan SBN menunjukkan peningkatan masing-masing menjadi sebesar Rp 31,20 triliun, Rp 16,30 triliun, Rp 80,44 triliun, dan Rp 91,39 triliun.

Berdasarkan segmen program, total aset DPPK PPMP tercatat mencapai Rp 172,30 triliun atau tumbuh 5,21% (yoy). Total aset tersedia DPPK PPIP sebesar Rp 40,54 triliun atau meningkat 8,11% (yoy).

Sedangkan total aset dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) tercatat naik 5,40% (yoy) menjadi Rp 110,43 triliun.

Antisipasi Kebijakan Fed

Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC.,  Amerika Serikat (AS) pada 1 Juli 2020. ( Foto: Daniel SLIM / AFP )
Gedung The Federal Reserve (The Fed) di Washington, DC., Amerika Serikat (AS)   ( Foto: Daniel SLIM / AFP )

Dihubungi terpisah, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, koreksi susulan indeks masih terjadi pada perdagangan Selasa (25/1), di tengah antisipasi investor terhadap kebijakan The Fed yang ketat untuk mengatasi inflasi yang terjadi secara global.

Selain itu juga adanya kekhawatiran akan situasi yang memanas antara Rusia-Ukraina, sehingga indeks kawasan Asia kompak terkoreksi.

“Dari kasus Omicron juga terakhir masih menunjukkan tren peningkatan kasus harian sehingga rentetan sentimen negatif ini memicu aksi jual saham,” terang dia.

Ivan menilai, investor institusi kemungkinan masih akan konservatif melihat situasi yang sedang berkembang.

“Langkah untuk melakukan akumulasi saham diperkirakan baru akan dilakukan secara lebih agresif apabila tekanan jual menunjukkan tanda-tanda mereda, dan secara valuasi harga saham sudah murah,” ujar dia. (pri/jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN