Menu
Sign in
@ Contact
Search
Ilustrasi

Ilustrasi

Krisis Lingkungan di Depan Mata, PenerapanSustainable Financetidak Bisa Ditawar

Jumat, 18 Feb 2022 | 13:54 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menilai, ruang bagi Indonesia untuk menumbuhkan instrumen keuangan berkelanjutan masih terbuka lebar. Hal ini melihat makin meningkatnya kebutuhan akan pendanaan untuk keuangan berkelanjutan.

Ketua Umum Perbanas Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan, banyak negara yang saat ini menaruh perhatian serius terhadap isu perubahan iklim. Pasalnya, isu perubahan iklim ini masuk dari 10 risiko terbesar yang akan dihadapi dunia dalam sepuluh tahun mendatang.

"Di dalam 10 risiko terbesar yang akan dihadapi dunia adalah kegagalan untuk penanganan perubahan iklim, cuaca buruk, hilangnya keanekaragaman hayati, krisis mata pencaharian, penyakit menular, kerusakan lingkungan manusia dan lainnya," jelas Kartika dalam rangkaian acara Presidensi G20 Indonesia secara virtual, Jumat (18/2).

Baca juga: DBS: Investasi Berbasis ESG Prospektif

Advertisement

Sejalan dengan hal itu, peneritan instrumen keuangan berbasis lingkungan, sosial dan tata kelola (environment, social and governance/ESG) terus meningkat. Selama pandemi, Perbanas mencatat, penerbitan global bond berbasis ESG mencapai hampir US$ 700 miliar. 

Dalam hal ini, Indonesia juga sedang membangun ekosistem keuangan berkelanjutan (sustainable finance). Hal ini dilakukan melalui peningkatan kesadaran akan pentingnya keuangan berkelanjutan. Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah mengeluarkan pedoman melalui Roadmap Keuangan Berkelanjutan Tahap I dan II serta Taksonomi Keuangan Berkelanjutan.

Baca juga: Insentif Penerapan ESG

Di sisi lain, pelaku industri, baik perbankan maupun korporasi lain juga mulai menerbitkan instrumen investasi berkelanjutan. Perbanas mencatat, perbankan sudah menyalurkan kredit untuk sektor berkelanjutan sekitar US$ 55,9 miliar. Selain itu, beberapa emiten juga sudah menerbitkan obligasi berkelanjutan dalam mata uang asing sebesar US$ 2,22 miliar dan dalam mata uang lokal sebesar US$ 35,12 juta.

"Ruang untuk menumbuhkan instrumen keuangan berkelanjutan masih terbuka lebar di Indonesia," ujar Kartika yang juga menjabat sebagai Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini.

Editor : Gita Rossiana (gita.rossiana@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com