Menu
Sign in
@ Contact
Search
Investor memotret pergerakan saham. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Investor memotret pergerakan saham. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IHSG Mau Berangkat ke 7.000, Jangan Lewatkan Saham-saham Ini!

Senin, 21 Februari 2022 | 06:32 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan menguji level psikologis 7.000 dalam jangka pendek. Secara fundamental, sejumlah indikator ekonomi yang positif bakal menopang pergerakan IHSG. Sedangkan secara teknikal, IHSG keluar dari level 6.500-6.700.

Indikator positif tersebut di antaranya dapat dilihat dari data ekonomi Indonesia yang terjaga hingga awal 2022. Dari laporan Bank Indonesia (BI), surplus neraca pembayaran Indonesia (NPI) 2021 tercatat US$ 13,5 miliar, meningkat tajam dibandingkan capaian surplus pada tahun sebelumnya, US$ 2,6 miliar.

Begitu juga dari indikator pertumbuhan ekonomi 2021 yang meningkat sebesar 3,69%, lebih tinggi dibandingkan capaian 2020 yang terkontraksi 2,07% dan inflasi yang terjaga di angka 1,87% atau berada di batas bawah target BI yaitu 3% plus/minus 1%. Termasuk realisasi investasi yang mencapai Rp 901 triliun, tumbuh 9% (yoy) dan melampaui target Rp 900 triliun.

Baca juga: Hanya dalam Sepekan, 10 Saham Ini Terbang 25% hingga 148%

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mencermati bahwa sejumlah indikator tersebut akan menjadi support secara fundamental domestik dan berpotensi mendongkrak IHSG keluar dari level 6.500-6.700.

Hasilnya, indikator-indikator perbaikan itu bakal turut mendorong sektor-sektor seperti perbankan dan finansial, transportasi logistik, energi dan komoditas, serta telekomunikasi digital. Terlebih, jika pandemi sudah beralih status menjadi endemi. Kemudian, restriksi di berbagai daerah dikurangi sehingga sektor konsumer juga berpotensi bangkit.

Adapun emiten yang diproyeksi positif adalah BBCA, BBNI, BMRI, dan BBRI. ASII yang kini masuk lebih dalam ke ekosistem bisnis logistik juga diperkirakan sahamnya akan terbang. Termasuk SMDR, IATA, WEHA, dan ASSA. Sementara dari sektor energi, Wahyu mencermati saham ITMG, PGAS, PTBA, dan ADRO. Lalu, dari sektor komoditas terdapat ANTM, INCO, TINS dan dari sektor telekomunikasi terdapat MTEL dan TLKM, MTDL, TFAS, serta DMMX.

Baca juga: IHSG Capai Rekor Baru, Market Cap BEI Pekan Ini Bertambah Rp 107,92 Triliun

“Hanya saja yang paling krusial, bagusnya fundamental dan teknikal di domestik akan kurang berarti jika tekanan keluar kapital sangat besar. Tapi, beruntung kondisi AS dan Eropa saat ini cenderung melemah dan membuat kita lebih menarik,” ucap Wahyu kepada Investor Daily.

Buktinya, secara year to date (ytd), asing mencatatkan transaksi beli bersih (net buy) saham di semua pasar sebesar Rp 19,18 triliun. Dalam sepekan terakhir, net buy asing mencapai Rp 3,6 triliun.

Menurut Wahyu, ada masalah besar yang membuat kondisi AS dan Eropa cenderung melemah. Pertama, soal inflasi dan yield. AS dan Eropa terancam inflasi layaknya di era 70-an karena harga komoditas yang mirip super cycle. Diperburuk lagi, Eropa menghadapi masalah gas alam dan geopolitik antara Ukraina dan Rusia.

Sementara itu, analis Indo Premier Sekuritas Mino mengatakan, para pelaku pasar perlu mencermati ketegangan geopolitik antara Ukraina dan Rusia karena memiliki risiko yang cukup besar.

Baca juga: Agresif Borong Saham, Net Buy Asing Tembus Rp 19,18 Triliun

Jika Ukraina dan Rusia benar-benar berperang misalnya, tentu akan membuat harga energi mengalami kenaikan. Di satu sisi, konflik tersebut akan berdampak positif bagi Indonesia sebagai penghasil komoditas. Sayangnya, di sisi lain, konflik tersebut juga bisa memicu inflasi naik cukup tinggi di negara-negara seperti AS.

“Dampak lanjutannya, AS bisa menaikkan suku bunga bahkan lebih besar dibandingkan perkiraan sekarang,” tuturnya.

Jika hal demikian terjadi, lanjut Mino, maka dampaknya akan merembet ke pasar domestik. BI tentu akan mengantisipasinya. Kendati begitu, harapannya perang antara Ukraina dan Rusia tidak benar-benar terjadi. “Jadi, kebijakan-kebijakan moneter yang selama ini diekspektasikan tidak melenceng dan akan menjadi sesuatu yang positif bagi market kita,” ujar Mino.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com