Menu
Sign in
@ Contact
Search
Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kenaikan Harga CPO Lambungkan Kinerja Astra Agro Lestari (AALI)

Kamis, 24 Februari 2022 | 23:55 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id — Kinerja PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) terus merangkak naik pada awal 2022, sejalan dengan lonjakan harga minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO). Saham emiten sawit ini pun kian diincar investor. Sampai kapan?

Tahun ini, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) CPO, bahan baku minyak goreng, diperkirakan naik sebesar 11%. Kenaikan ASP tersebut berpotensi mendongkrak laba bersih Astra Agro Lestari hingga 19%.

Analis CGS CIMB Sekuritas Fernaldy Tanoko mengatakan, tingginya ASP pada 2022 akan menaikkan kinerja Astra Agro Lestari dari sisi laba bersih dan pendapatan. Meski demikian, investor harus selalu siap untuk mengantisipasi potensi pembalikkan arah pergerakan harga. Karena kenaikan harga CPO yang terjadi ini masih berupa sentimen jangka pendek.

Sementara itu, laba bersih perseroan tahun ini diproyeksikan sebesar Rp 1,28 triliun, lebih rendah dibanding perkiraan tahun lalu Rp 1,33 triliun.

Harga saham AALI dalam satu dekade terakhir
Harga saham AALI dalam satu dekade terakhir

Sedangkan pendapatan Astra Agro diproyeksikan naik menjadi Rp 26,04 triliun pada 2022, dibandingkan estimasi tahun lalu Rp 24,44 triliun.

“Ada banyak katalis untuk emiten sawit tahun ini. Seperti halnya komoditas yang bergantung pada supply dan demand, kenaikan harga CPO bisa mereda menjadi stabil,” ujar Fernaldy dalam risetnya, baru-baru ini.

Beberapa waktu lalu, Menteri Perdagangan (Mendag) M Lutfi telah menetapkan aturan baru untuk ekspor CPO, refined, bleached, and feodorized palm olein (RBD Palm Olein), dan Used Cooking Oil (UCO). Selama tiga tahun terakhir, penjualan lokal dan ekspor Astra Agro berada di posisi 40% dan 60%.

Baca juga: Harga CPO Tren Naik, Bagaimana Prospek Saham Astra Agro (AALI)?

Fernaldy menyampaikan, aturan ekspor baru mewajibkan perseroan untuk menjual 20% dari alokasi ekspornya di pasar domestik. Sebanyak 38% produksi perseroan harus berada di bawah harga pasar yakni Rp 14.900 per kg pada 10 Feb 2022. Lebih lanjut, aturan tersebut bisa menekan margin Astra Agro hingga 58%.

Di dalam negeri, katalis positif yang akan menjadi pendorong harga CPO adanya kebijakan oleh pemerintah yang berupaya untuk mengurangi ketergantungan energi fosil dengan memproduksi green diesel D100, atau produk bahan bakar diesel yang seluruh komponennya berbasis minyak sawit (CPO).

Harapannya, produk yang dinilai memiliki beberapa keunggulan dari bahan bakar fosil tersebut bisa dikembangkan untuk menjadi produk avtur dan gasolin.

Prospek AALI
Prospek AALI

Melalui kebijakan ini, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) memprediksi akan menyerap produksi CPO nasional sebesar 30 juta ton setiap tahunnya. Mengingat, kebijakan B30 (bahan bakar campuran solar dengan komponen biodiesel sebesar 30%) bisa menyerap produksi nasional sebesar 9 juta ton dalam setahun.

Apabila prediksi tersebut benar, jumlah permintaan ekspor yang eksisting dan potensi permintaan akibat D100 akan membuat total permintaan melebihi jumlah produksi nasional. Hal ini akan mengakibatkan harga CPO cenderung meningkat. Dengan mempertimbangkan perkembangan harga CPO dan prospek kinerja perusahaan ke depannya,

Baca juga:  Mirae Asset Sekuritas: Target Harga Saham Astra Agro (AALI) Dinaikkan, Jadi Berapa?

CGS CIMB Sekuritas merekomendasikan beli saham AALI dengan target harga (target price/TP) sebesar Rp 12.300 yang didasarkan pada P/E sebesar 13,4 kali atau diskon 25% untuk rata-rata P/E 10 tahun ke EPS tahun 2023. Harga saham AALI saat ini berada di posisi Rp 11.475.

“Adapun sentimen yang perlu diperhatikan investor adalah kondisi cuaca buruk dan permintaan yang lebih lemah karena harga CPO yang tinggi,” jelas Fernaldy.

Area Tanam

Ilustrasi sawit
Ilustrasi sawit

Selanjutnya, Analis Mirae Asset Sekuritas Juan Harahap merekomendasikan beli saham AALI dengan target harga lebih tinggi menjadi Rp 14.500 dari sebelumnya Rp 12.100.

Target harga tersebut menggunakan metode penilaian P/E dengan target ganda sepanjang 2022 P/E sebesar 12 kali. Rekomendasi ini didorong oleh hasil tanam buah segar (TBS) tertinggi di cakupan Mirae Asset Sekuritas, dan harga CPO yang menguntungkan pada 2022.

Astra Agro mencatat produksi TBS yang lebih rendah sebesar 299 ribu ton atau turun 11,3% month to month (MoM) dan turun 25,7% year on year (YoY) pada Desember 2021. Artinya, produksi TBS yang lebih rendah pada angka kumulatif sebesar 4,3 juta ton (-6,6% YoY) di sepanjang 2021.

Baca juga:  Astra Agro Lanjutkan Penerapan Prinsip Sustainability hingga 2025

Pencapaian tersebut berada di bawah perkiraan produksi 4,6 juta ton TBS. Sejalan dengan produksi TBS, produksi CPO Astra Agro juga turun sebesar 104 ribu ton (-8,0% MoM; -18,8% YoY), sehingga produksi CPO pada tahun 2021 menjadi 1,5 juta ton (+3,1% YoY).

Meski demikian, Astra Agro berhasil menanami kembali 5.020 hektare lahan sawit, sesuai dengan harapan sebesar 5 ribu hektare pada tahun 2021.

“Untuk 2022, kami mengharapkan 5 ribu hektare kegiatan penanaman kembali dengan 42% dari profil tanaman menghasilkan sudah di atas 21 tahun. Kami mencatat bahwa usia rata-rata Astra Agro untuk tanaman menghasilkan sudah mencapai 15,3 tahun pada tahun 2021,” tulis Juan dalam risetnya.

Menurut Juan, pihaknya menurunkan perkiraan pada 2021 karena produksi TBS dan CPO yang lebih rendah dari perkiraan. Oleh karena itu, diperkirakan laba bersih akan mencapai Rp 1,9 triliun pada 2021.

Baca juga: Melalui Digitalisasi, Astra Agro Tingkatkan Pelayanan kepada Petani Mitra

Juan berharap, produksi CPO yang lebih tinggi akan berlanjut di 2022 dengan total pertumbuhan 2,9% YoY. Asumsi ini didorong oleh produksi TBS yang lebih tinggi sebesar 3,4% YoY untuk sepanjang 2022.

Di sisi lain, Astra Agro Lestari atau Astra Agro berkomitmen dalam penerapan prinsip sustainability (keberlanjutan) untuk terus diwujudkan dalam aksi lebih komprehensif dan operasional.

Setelah menuntaskan Rencana Aksi Keberlanjutan 2018-2020, Astra Agro kini melangkah lebih maju ke dalam Rencana Aksi Keberlanjutan 2021-2025.

“Fase lanjutan ini akan lebih komprehensif dan diterapkan dalam operasi secara semestinya,” kata Chief Executive Officer Astra Agro Lestari Santosa saat acara Talk to The CEO 2022 yang berlangsung secara online.

Chief Executive Officer (CEO) Astra Agro, Santosa saat acara Talk to The CEO yang digelar secara online, Selasa (15/2/2022). Foto: Astra Agro
Chief Executive Officer (CEO) Astra Agro, Santosa saat acara Talk to The CEO yang digelar secara online, Selasa (15/2/2022). Foto: Astra Agro

Rencana aksi lima tahun ke depan ini disusun setelah melalui tahap evaluasi atas pelaksanaan rencana aksi sebelumnya, yang menggandeng pihak independen ketiga.

Dari hasil evaluasi tersebut diketahui bahwa sebagian besar target yang ditetapkan telah tercapai dengan baik.

Namun, beberapa target masih dalam proses pemenuhan di mana ada keterlambatan sebagai dampak dari pandemic Covid-19. Tujuan dari evaluasi ini juga untuk memberikan rekomendasi strategis rencana aksi berikutnya.

Astra Agro juga menegaskan komitmen untuk konsisten melakukan konservasi hutan dan gambut. Tidak melakukan deforestasi, pembakaran hutan dan tindakan -tindakan yang merusak lingkungan.

Strategi penurunan emisi green house gas (GHG) sesuai komitmen nasional juga terus dilanjutkan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com