Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
HSBC Wealth Outlook 2022, Foto: perseroan

HSBC Wealth Outlook 2022, Foto: perseroan

HSBC Indonesia: Potensi Investasi di New Economy dan Industri Hijau Indonesia Sangat Menarik

Jumat, 25 Februari 2022 | 14:57 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  - PT Bank HSBC Indonesia menilai perekonomian global tahun ini masih akan menghadapi sejumlah tantangan. Namun, perekonomian Asia mulai pulih dan Indonesia akan mendapatkan manfaat dari perkembangan new economy dan industri hijau.

Presiden Direktur HSBC Indonesia Francois De Maricourt mengatakan, perekonomian dunia saat ini berada dalam The Great Reset. Artinya, para pembuat kebijakan dan praktisi ekonomi berkolaborasi dalam menentukan arah baru perekonomian yang sangat memperhatikan aspek berkelanjutan. Dalam hal ini, HSBC sudah menerapkan aspek berkelanjutan sebagai bagian dari portofolio investasi dalam mengelola risiko dan mencari peluang.

Di sisi lain, Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Johnny G Plate mengatakan, Indonesia bisa menjadi pusat ekonomi digital di Asia Tenggara. Berdasarkan data konsultan global Kearney, konsumen digital di Indonesia mencapai 219 juta pada 2021 dengan potensi ekonomi digital dalam gross merchandise value (GMV) ekonomi sebesar US$ 146 miliar pada 2024. Potensi ini akan terus meningkat mencapai US$ 316 miliar pada 2030. "Potensi ini bukan hanya dari perkotaan saja, namun sudah mulai bergeser dari kota metropolitan ke kota non metropolitan," jelas Johnny pada HSBC Wealth Outlook 2022, Jumat (25/2).

Baca juga: HSBC Indonesia Tawarkan Reksa Dana Syariah Teknologi Global ke Nasabah Premier

Johnny menjelaskan, ekonomi digital di kota tier dua dan tier tiga yang merupakan kota slow adopter terhadap ekonomi digital bisa bertumbuh tiga kali lipat pada 2025 dan berkontribusi 30-50% terhadap keseluruhan ekonomi digital. Dengan pertumbuhan tersebut, Johnny menyebutkan ada enam industri yang akan berkembang, yakni e-commerce, healthtech, fintech lending, edutech,  digital payment serta ride and delivery. "Industri fintech bahkan sangat mendukung keberlangsungan usaha pelaku UMKM dalam masa pandemi," kata dia.

Demi menangkap peluang transformasi digital itu, Verawaty Zhao, Head of Wealth Development, HSBC Indonesia mengatakan, pasar saham masih menjadi prioritas portofolio investasi dengan return positif dan lebih tinggi dari obligasi. Hal ini ditopang oleh harapan adanya fase pertumbuhan setelah pandemi. "Sektor teknologi akan terus unggul di tengah adopsi dunia pada gaya hidup berbasis digital yang memungkinkan masyarakat tetap maju di tengah ketidakpastian seperti pandemi saat ini," jelas Verawaty.

Baca juga: HSBC Indonesia Tingkatkan Layanan Digital Bagi Nasabah Korporasi

Verawaty menambahkan, arus modal akan terus masuk ke pasar saham Indonesia seiring berkembangnya sektor teknologi. Sejumlah rencana IPO perusahaan teknologi dalam 12 bulan ke depan menjadi katalis masuknya aliran dana asing lebih lanjut. "Kesempatan investasi akan muncul di sektor yang berhubungan dengan transformasi digital seperti cloud computing, AI/Machine learning dan analytics, Internet of Things dan elektrifikasi, financial technology dan pembayaran digital, digital customer engagement serta 5G," tambah Verawaty.

Editor : Gita Rossiana (gita.rossiana@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN