Menu
Sign in
@ Contact
Search
PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR).

Top! Laba Bersih Adaro Minerals (ADMR) Melonjak US$ 155 Juta

Rabu, 2 Maret 2022 | 07:59 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) membukukan lonjakan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menjadi US$ 155,11 juta pada 2021, dibandingkan rugi tahun berjalan pada 2020 senilai US$ 28,39 juta.

Manajemen Adaro Minerals melalui laporan keuangan yang diterbitkan di Jakarta disebutkan bahwa lonjakan laba bersih tersebut didukung atas kenaikan pendapatan usaha dari US$ 123,30 juta menjadi US$ 460,17 juta.

Kenaikan tersebut berimbas terhadap laba usaha mencapai US$ 217,55 juta pada 2021, dibandingkan rugi usaha senilai US$ 29,01 juta pada 2020. Kenaikan tersebut menjadikan laba per saham ADMR meningkat menjadi US$ 0,0096, dibandingkan rugi per saham US$ 0,0022.

Baca juga: Tak Hanya Adaro Minerals (ADMR), Gain Saham-saham Grup Saratoga Ini juga Fantastis

Sebelumnya, Adaro Minerals telah menuntaskan IPO saham dengan melepas sebanyak 6,05 miliar saham atau setara dengan 15% saham. Saham tersebut dilepas direntang harga Rp 100, sehingga total dana yang diraup dari aksi korporasi ini Rp 604,86 miliar. Sedangkan harga saham ADMR telah mengalami lonjakan signifikan menjadi level Rp 1.280 pada penutupan kemarin.

Terkait prospek bisnis perseroan, Adaro Minerals melalui prospektus yang diterbitkan sebelumnya menyebutkan bahwa permintaan batu bara metalurgi berkaitan erat dengan peningkatan permintaan besi baja. Sedangkan permintaan besi baja dipengaruhi atas peningkatan aktivitas perekonomian negara. Dengan kondisi ekonomi global yang terus membaik setelah dihantam pandemi Covid-19, permintaan besi baja diperkirakan kembali meningkat.

Batu bara metalurgi dijual ke produsen baja yang digunakan untuk memproduksi pig iron/baja. Produsen baja mengubah batu bara menjadi kokas dalam oven kokas, kemudian memasukkan kokas ke blast furnace bersamaan dengan bijih besi dan fluks. Sedangkan jenis batu bara yang diproduksi perseroan adalah hard coking coal (HCC), semi hard coking coal (SHCC), dan green coal (GC).

Kondisi tersebut akan berimbas terhadap kenaikan permintaan batu bara metalurgi ke depan. Permintaan impor terbesar diperkirakan tetap berasal dari Tiongkok, India, Vietnam, dan Turki setidaknya dalam 10 tahun mendatang. Permintaan batu bara metalurgi juga diperkirakan datang dari sejumlah negara lainnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com