Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah menunggu pelayanan di Bank Syariah Indonesia (BSI) di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten.   Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah menunggu pelayanan di Bank Syariah Indonesia (BSI) di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

BSI bakal Menjadi BUMN, Isu Merger Mencuat Kembali

Senin, 14 Maret 2022 | 09:07 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id -  Kabar merger antar sesama bank BUMN kembali berhembus di kalangan pasar modal. Kabar ini meluncur setelah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mendorong PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) mengakuisisi unit usaha syariah Bank Tabungan Negara (BBTN).

"Itulah yang kita harapkan supaya posisi BSI ini semakin besar dan tentunya semakin kuat, dalam arti kapitalisasi pasar dan tentu dorongannya untuk industri perbankan," kata Erick dalam keterangan resmi pekan lalu. Tidak lama kemudian berhembus isu menjadikan BSI sebagai Bank BUMN tersendiri.

Pernyataan Erick tersebut kemudian memunculkan kembali wacana lama mengenai konsolidasi bank pelat merah. Namun, kali ini skemanya tidak satu melainkan terbagi menjadi dua, plus keinginan BSI menjadi Bank BUMN. Jadi, konon, akan ada 3 BUMN. Salah satunya Bank BUMN Syariah.

Skema pertama adalah holdingisasi Bank BUMN. Program ini sudah digodok sejak Kementerian BUMN dipimpin oleh Sofyan Djalil hingga Rini Soemarno, namun belum terwujud. Saat itu, Danareksa sempat diusulkan menjadi induk dari BRI, BNI, Mandiri dan BTN. Konsep tersebut meniscayakan empat bank BUMN beroperasi seperti biasa.

Di era kepemimpinan Erick, konsep holding berjalan mulus. Yang fenomenal terjadi di sektor pertambangan dengan terbentuknya Mining Industry Indonesia (MIND.ID). Induk usaha ini membawahi PT Bukti Asam Tbk (PTBA), PT Antam Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), Inalum dan Freeport.

Masing masing entitas bisnis tetap beroperasi seperti biasa dan tidak memicu kegaduhan di pasar modal. Strategi serupa juga terjadi di industri perkebunan. “Erick seperti ingin menduplikasi kesuksesan konsep holding di sektor pertambangan dan perkebunan ke industri lain, termasuk bank,” kata Ekonom Piter Abdullah.

Baca juga: Laba BSI (BRIS) bakal Semakin Tebal, Bagaimana Harga Sahamnya?

Terakhir, Kementerian BUMN membentuk holding asuransi dan penjaminan melalui Indonesia Financial Group (IFG). Selain itu, ada holding ultra mikro yang terbentuk tahun lalu dan dipimpin oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Saat ini ada 9 holding BUMN di berbagai sektor usaha.

Skema kedua adalah menggabungkan bank BUMN berdasarkan kecocokan segmen bisnis. Ide ini juga bukan sesuatu yang baru. Pernah dicoba di era Menteri BUMN Dahlan Iskan, tapi tak kunjung terwujud. Dengan mengacu ke gagasan lama, BRI akan mengambil BTN karena sama sama melayani segmen mikro dan masyarakat berpenghasilan rendah. Sedangkan Bank Mandiri akan memangku BNI karena bersaing di segmen yang sama, yakni korporasi, konsumer dan menengah.

Pengamat Perbankan dari Core Institute Piter Abdullah menilai bahwa isu mengenai holding bank bumn bukanlah hal baru karena sudah berkali-kali dihembuskan. Namun, berbeda dengan holding BUMN lainnya, holding bank tidak mudah diwujudkan menyangkut 4 BUMN besar yang menguasai perekonomian Indonesia.

“Bagaimana skemanya, siapa yang jadi holding, hingga apa tujuan dari holding itu harus jelas dulu agar tidak merugikan bank BUMN itu sendiri maupun stakeholder lainnya,” ujar Piter.

Merger Bank BUMN

Rencana merger antara Bank Mandiri dan BNI terakhir kali tercatat menjadi pembahasan pada 2015. Namun, rencana ini hilang di tengah jalan seiring dengan wacana pembentukan Holding Bank BUMN.

Rencana holding bank BUMN atau merger antara bank BUMN disebabkan karena segmentasi bisnis antara keempat bank menjadi tidak jelas. Misalnya Bank Mandiri, BNI, dan BRI juga bermain di KPR sehingga mengambil sebagian potensi dari BUMN. Sebaliknya, bisnis mikro yang menjadi fokus dari BRI ternyata juga digenjot oleh ketiga bank lainnya.

Selain itu, ada juga yang mengharapkan holding atau merger bank BUMN bisa memperbesar aset dari bank BUMN secara cepat seperti yang terjadi di holding bank syariah di bawah BSI. “Namun, apakah hal tersebut bisa efektif? Atau malah menyisakan masalah-masalah baru,” ujarnya.

Apapun semua skema konsolidasi bank BUMN yang akan diambil harus difokuskan kepada seberapa besar manfaat yang akan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat. Apakah dengan skema tersebut pelayanan akan semakin baik atau produk yang diberikan semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat sebagai nasabah.

“Bila manfaat itu tidak menjadi fokus utama, maka masyarakat pun tidak akan menyambut rencana itu secara baik, bahkan pasif,” ujar Piter

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN