Menu
Sign in
@ Contact
Search
Fasilitas pengeboran minyak dan gas. (Pixabay)

Fasilitas pengeboran minyak dan gas. (Pixabay)

Krisis Ukraina Bakal Berakhir, Minyak Merosot Ke Bawah US$100 per Barel

Rabu, 16 Maret 2022 | 13:01 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Meningkatnya harapan bahwa krisis Ukraina akan berakhir lebih cepat mendorong harga minyak turun ke bawah level US$ 100 per barel. Meski demikian, potensi memanasnya tensi antara Rusia dengan AS serta sekutunya. Ditambah, rencana perubahan kuotasi jual minyak menjadi yuan memberikan dukungan pada harga minyak.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan pada hari Rabu bahwa pembicaraan damai terdengar lebih realistis tetapi lebih banyak waktu diperlukan. “Komentar Zelenskiy tersebut semakin meningkatkan optimisme bahwa krisis Ukraina berpotensi untuk berakhir lebih cepat, kemungkinan pada Mei sebagaimana yang diutarakan sebelumnya oleh penasihat presiden Ukraina,” tulis tim riset ICDX dalam risetnya.

Baca juga: Dolar Menguat Karena Sentimen dari Harga Minyak Mentah

Di tengah isyarat positif pembicaraan damai antara Rusia dengan Ukraina tersebut, NATO dilaporkan berencana untuk menambah pasukan dan pertahanan rudal di Eropa timur, ungkap para pejabat dan diplomat NATO pada hari Rabu. Presiden AS Joe Biden dijadwalkan akan menghadiri pertemuan dengan para pemimpin NATO pada 24 Maret mendatang. Selain itu, Biden diperkirakan akan mengumumkan bantuan keamanan tambahan senilai US$ 800 juta ke Ukraina pada Rabu, kata seorang pejabat Gedung Putih.

Turut mendukung pergerakan harga minyak, pejabat Saudi dan Tiongkok sedang dalam pembicaraan untuk menentukan harga atas beberapa penjualan minyak negara Teluk itu dalam yuan daripada dolar atau euro, ungkap sumber yang dikutip oleh The Wall Street Journal pada hari Selasa. Adapun untuk wacana perubahan kuotasi harga minyak tersebut telah dibahas sejak enam tahun lalu, namun di tahun 2022 ini semakin meningkat intensitasnya. Saudi sendiri mulai menggunakan dolar untuk perdagangan minyaknya sejak pertengahan 1970-an.

Baca juga:  Minyak Turun di Bawah US$ 100/Barel

Meskipun nantinya Saudi tetap mempertahankan dolar untuk sebagian besar perdagangan minyaknya, namun sinyal pergeseran oleh Saudi ini berpotensi memicu efek domino bagi pemasok minyak utama Tiongkok lainnya, seperti Rusia, Angola dan Irak. Hal ini sekaligus mengindikasikan akan memudarnya kekuatan AS dalam mata rantai pasar minyak global yang saat ini hampir 80% kontrak penjualannya menggunakan dolar.

Sementara itu, dari pasar energi AS dilaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS dalam sepekan naik sebesar 3,75 juta barel, ungkap data dari grup industri American Petroleum Institute (API). Stok bensin dilaporkan turun sebesar 3,79 juta barel. Untuk angka resmi versi pemerintah akan dirilis Rabu malam oleh Energy Information Administration (EIA).

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 105 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 90 per barel,” tutup tim riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com