Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden AS Joe Biden (kiri) berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (di layar) dari Gedung Putih di Washington, DC, pada 18 Maret 2022. Xi mengatakan perang bukan kepentingan siapapun, pada panggilan telepon Jumat dengan Biden. (FOTO: The White House / AFP)

Presiden AS Joe Biden (kiri) berbicara dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping (di layar) dari Gedung Putih di Washington, DC, pada 18 Maret 2022. Xi mengatakan perang bukan kepentingan siapapun, pada panggilan telepon Jumat dengan Biden. (FOTO: The White House / AFP)

Riset: Perdagangan Tiongkok Menguntungkan Barat Daripada Rusia

Senin, 21 Maret 2022 | 17:48 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

WASHINGTON, investor.id – Kepentingan ekonomi Tiongkok tetap condong mendukung Barat, menurut data perdagangan yang ditinjau Reuters. Berpihak pada sekutu politik Rusia tidak akan masuk akal secara ekonomi bagi Tiongkok, kata para analis. Pasalnya, pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) masih mengonsumsi lebih dari sepertiga ekspor Tiongkok.

Peringatan Presiden AS Joe Biden telah disampaikan tentang ‘konsekuensi’ bantuan yang mungkin diterima Tiongkok untuk upaya perang Rusia di Ukraina. Presiden Tiongkok Xi Jinping bisa terpaksa memilih antara hubungan perdagangan menguntungkan yang telah berlangsung lama dengan Barat atau kemitraan strategis yang berkembang dengan Rusia.

Berdasarkan umpan perdagangan saja, Tiongkok memiliki banyak hal yang dipertaruhkan setelah panggilan video selama hampir dua jam Biden dengan Xi pada Jumat (18/3). Pemerintah AS mengonfirmasi sanksi Tiongkok adalah sebuah opsi.

Baca juga: Berlanjutnya Konflik Rusia-Ukraina akan Picu Risiko Jangka Menengah-Panjang

“Pada masalah ekonomi murni jika Tiongkok harus membuat pilihan, Rusia versus orang lain, maksud saya, tidak perlu dipikirkan lagi karena Tiongkok sangat terintegrasi dengan semua ekonomi barat ini,” kata Chad Bown, senior di lembaga pemikir Peterson Institute for International Economics yang berbasis di Washington yang mengamati perdagangan Tiongkok, pada Senin (21/3).

Hubungan Dekat dengan Rusia

Sementara itu, Duta Besar Tiongkok untuk AS Qin Gang pada Minggu (20/3) menekankan hubungan erat antara Tiongkok dan Rusia.

“Tiongkok memiliki kerja sama perdagangan, ekonomi, keuangan, dan energi yang normal dengan Rusia,” kata Qin kepada program ‘Face the Nation’ CBS, ketika ditanya apakah pemerintah Tiongkok akan memberikan dukungan keuangan ke Rusia.

“Ini adalah bisnis normal antara dua negara berdaulat, berdasarkan hukum internasional, termasuk aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO),” lanjutnya.

Menargetkan Tiongkok dengan jenis sanksi ekonomi luas yang telah dijatuhkan pada Rusia akan berpotensi menimbulkan konsekuensi serius bagi AS dan di seluruh dunia, mengingat Tiongkok adalah ekonomi terbesar kedua di dunia dan eksportir terbesar.

Ekonomi Tiongkok telah tumbuh menjadi US$ 16 triliun selama 20 tahun terakhir. Dengan demikian, ketergantungannya pada perdagangan dengan negara lain untuk kesejahteraan ekonominya menurun.

Data Perdagangan

Ketika warga negara Tiongkok semakin kaya, konsumsi dan layanan domestik memainkan peran yang lebih besar dalam ekonomi negara tersebut.

Namun Tiongkok masih lebih bergantung pada perdagangan, sekitar 35% dari produk domestik bruto (PDB), dibandingkan AS sebesar 23% atau Jepang sebesar 31%.

Negara-negara kaya G-7, yang membentuk inti aliansi anti Rusia setelah serangan ke Ukraina, masih mengkonsumsi lebih dari sepertiga ekspor Tiongkok. Namun angkanya menurun dibandingkan hampir dua dekade lalu, tercatat kurang lebih setengah ekspor Tiongkok. Tetapi pangsa pasar itu relatif stabil sejak 2014, ketika Rusia mencaplok wilayah Krimea Ukraina.

Data perdagangan dari Tiongkok pada periode Januari-Februari 2022 menunjukkan ekspor ke UE meningkat paling tinggi, yakni 24%.

Baca juga: Tiongkok Berusaha Menghindari Sanksi Rusia

Perdagangan Rusia secara keseluruhan dengan Tiongkok telah meningkat sejak Barat pertama kali memberlakukan sanksi terhadap Rusia, sebagai tanggapan atas aneksasi Krimea.

Tetapi ekspor Tiongkok ke Rusia berkisar antara 1%-2% selama 20 tahun terakhir.

Impor Rusia dari Tiongkok mengikuti impor dari banyak negara lain. Barang elektronik dan barang konsumsi termasuk ponsel, komputer, pakaian, mainan, dan sepatu menempati urutan teratas.

Berdasarkan nilai, Tiongkok mengekspor ponsel 10 kali lebih banyak ke AS senilai US$ 32,4 miliar pada 2020, menurut data dari lembaga statistik UN Comtrade.

Sedangkan impor Tiongkok dari Rusia didominasi oleh minyak. Mencapai nilai US$ 27 miliar pada 2020, minyak mentah dan produk minyak bumi lainnya bernilai paling besar dibandingkan komoditas seperti tembaga, kayu lunak, gas alam cair, batubara, logam, dan bijih besi.

Meskipun pemerintah AS telah melarang impor energi Rusia, sanksi Barat tidak secara khusus menargetkan ekspor minyak dan gas Rusia.

“Tetapi sanksi AS terhadap bank-bank Rusia yang melarang transaksi dolar telah menghambat kemampuan Tiongkok untuk menyediakan pembiayaan perdagangan untuk pengiriman minyak Rusia,” kata lembaga tersebut.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : REUTERS

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com