Menu
Sign in
@ Contact
Search
Usaha robot trading ilegal. (Foto: Biro Humas Kemendag/Bappebti)

Usaha robot trading ilegal. (Foto: Biro Humas Kemendag/Bappebti)

Investasi Bodong GampangTelan Banyak Korban, Kenapa Yah?

Kamis, 31 Maret 2022 | 07:08 WIB
Nabil Alfaruq (nabil.alfaruq@beritasatumedia.com) ,Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital Universitas Indonesia (UI) Firman Kurniawan menyampaikan, antusiasme masyarakat pada investasi semacam binary option atau opsi biner tinggi karena didorong oleh beberapa faktor.

Pertama, masyarakat yang pada umumnya sedang mengalami kesulitan ekonomi akibat terpaan pandemi yang berkepanjangan. Mereka membutuhkan pemasukan utama maupun tambahan sebagai pengganti dari sumber-sumber yang kolaps akibat pandemi 

Kedua, tersedianya waktu yang cukup luang akibat Work From Home (WFH), sehingga berkegiatan yang menjanjikan keuntungan, menjadi daya tarik. Ketiga, Tersedianya teknologi yang ada di dalam genggaman. Ini membuka akses yang mudah untuk berpartisipasi.

Keempat, modal untuk memulai berinvestasi binary option yang relatif kecil, puluhan sampai ratusan ribu. Kelima, waktu pembelajarannya yang relatif mudah dan cepat.

Baca juga: Waduh! Praktik Investasi Bodong Tak Akan Bisa Hilang 100% dari Indonesia

“Faktor-faktor tersebut menjanjikan keuntungan seketika yang luar biasa besar, yang dipertontonkan oleh para afiliator. Faktor-faktor itu membangun ekosistem ketertarikan yang tinggi dan massif,” ujar dia kepada Investor Daily, Rabu (30/03/2022).

Untuk mencegah hal tersebut terjadi, Firman menyampaikan bahwa semua pihak yang memahami persoalan investasi harus membangun literasi investasi. Menurut dia, korban yang mengalami investasi bodong ini bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia.

“Sebelumnya, sempat marak tentang investasi yang ditawarkan koperasi simpan pinjam (kospim), juga pernah investasi dari produk-produk pertanian, bahkan Indonesia pernah dihebohkan oleh  investasi yang ditawarkan orang yang mengaku mampu melipatgandakan uang secara ajaib,” ujar ia.

Terkait dengan regulasi investasi, Firman menilai cukup lengkap namun perlu dilakukan evaluasi secara penegakannya dan relevansi. Relevansi yang dimaksud yakni telah terjadi gelombang perubahan yang terdorong oleh perkembangan teknologi digital. Ini berpengaruh terhadap cara mempengaruhi orang agar mau berinvestasi, cara terlibat pada aktivitas investasi dan lainnya, yang sangat berbeda antara era analog dengan digital.

“Dari hasil evaluasinya, saya menilai adanya gap yang sangat tajam, akibat perkembangan teknologi digital maka perlu direvisi aturannya,” ujar dia.

Sementara itu, Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir menuturkan, penyebab investasi ilegal ini marak tak lain dikarenakan greed yang adalah sifat dasar manusia, yaitu serakah dan takut. Jadi, untuk membantu pencegahannya, maka dibutuhkan literasi keuangan, bukan inklusi keuangan.

“Menariknya Singapura negara maju, namun angka inklusi keuangan mereka rendah tidak setinggi angka literasi keuangan mereka yang lebih dari 70%. Ini dapat berarti dua hal, yakni karena tidak sanggup untuk terinklusi karena kendala penghasilan yang kurang tinggi dan karena mereka lebih skeptis. Namun saya cenderung melihat yang terjadi adalah yang kedua,” jelasnya.

Sebaliknya di Indonesia menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2019, 38% melek keuangan, 76% terinklusi, mereka banyak yang ikut produk dan jasa keuangan tanpa mengerti apa yang mereka beli. Ini terlihat dari masalah ponzi, opsi biner, asuransi, dan lainnya. Jadi, memang ini harus dimulai dari diri sendiri, membekali otak dulu dengan bayar untuk belajar lagi, sebelum bayar untuk menanamkan modal mereka.

“Regulasi sudah ada namun belum memadai untuk mengatasi masalah ini,” tambah Christopher.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, penyebab maraknya investasi bodong, sambungnya tak lain karena literasi keuangan masyarakat relatif rendah sehingga mudah terbujuk iming-iming return investasi tinggi. Modus binary juga beragam tidak hanya saham atau bursa komoditas tapi sekarang merambah ke aset kripto dan NFT.

Baca juga: Polisi Tangkap Bos Investasi Bodong Robot Trading Fahrenheit

“Sosialisasi tidak cukup efektif, harus ada penegakan hukum yang tegas. Misalnya ada afiliator yang memasarkan binary tanpa menunggu korban melapor langsung diproses hukum,” katanya.

Tambah Bhima, regulasi sudah lengkap sebenarnya. Dalam konteks binary option masuk pada tahap perjudian, kemudian soal investasi ilegalnya juga ada regulasi OJK. Plus tindak pidana pencucian uang pun sudah cukup digunakan untuk menjerat pelaku binary option.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menambahkan, setidaknya ada beberapa penyebab mengapa kasus penipuan dan investasi bodong seperti binary option  tetap marak. Salah satunya yakni sistem saat ini semua sudah online dan akses bisa global, jadi informasi itu tidak ada batasnya. Selain itu, karena sikap masyarakat yang sukanya instan tanpa mau belajar terlebih dahulu.

“Menurut saya hal terpenting saat ini untuk mengatasi dan mencegah adalah dengan literasi keuangan dan investasi yang baik dan benar dan yang gencar kepada masyarakat Indonesia yang masih gampang tergiur penawaran bombastis,” imbau Sutopo.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com