Menu
Sign in
@ Contact
Search
ilustrasi harga minyak. Sumber: Antara

ilustrasi harga minyak. Sumber: Antara

Jepang dan Korea Selatan Ikuti Jejak IEA, Minyak Kian Merosot

Jumat, 8 April 2022 | 11:20 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut pada penutupan akhir pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak bearish. Dipicu oleh pengumuman dari Jepang dan Korea Selatan yang menyatakan akan turut berpartisipasi dalam rencana perilisan minyak terkoordinasi yang di inisiasi oleh Amerika Serikat (AS) dan negara-negara anggota IEA. Potensi India untuk ikut serta juga turut membuat pergerakan harga minyak kian terbebani.

Jepang akan merilis rekor 15 juta barel minyak dari cadangan strategis negara sebagai bagian dari putaran kedua rencana perilisan minyak terkoordinasi yang dipimpin oleh International Energy Agency (IEA), ungkap Perdana Menteri Fumio Kishida pada hari Kamis. Pada putaran pertama perilisan minyak terkoordinasi sebesar 60 juta barel, Jepang akan berkontribusi dengan merilis dari cadangan strategis swasta sebanyak 7.5 juta barel.

Baca juga: Minyak Menuju Penurunan Mingguan 3% Karena Rilis Stok Darurat

“Hal ini sekaligus menjadikan Jepang sebagai penyumbang terbesar kedua setelah AS dalam rencana perilisan minyak terkoordinasi yang di inisiasi oleh AS dan IEA tersebut,” tulis tim riset iCDX dalam risetnya, Jumat (8/4/2022).

Selain Jepang, Korea Selatan juga mengumumkan akan merilis 7.23 juta barel minyak dari cadangan strategisnya. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Seoul pada hari Jumat setelah diskusi dengan IEA.

Menurut tim riset ICDX, turut membebani pergerakan harga minyak lebih lanjut, Kementerian Perminyakan India pada Kamis malam mengatakan bahwa India sedang mempertimbangkan untuk ikut serta dalam inisiatif perilisan minyak secara terkoordinasi yang saat ini dilakukan oleh IEA. India sendiri merupakan rekanan IEA yang pada November lalu merilis 5 juta barel dari cadangan minyak darurat untuk intervensi pasar - bersama dengan konsumen minyak utama seperti Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan - saat harga minyak menembus US$ 80 per barel.

Baca juga: Minyak Berakhir Jatuh di Tengah Keraguan Sanksi Minyak Rusia

Sementara itu, fokus pasar juga tertuju pada keputusan dari Uni Eropa (UE) terkait dengan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia yang menargetkan pada sektor minyak. Pada hari Kamis, UE telah menyepakati untuk mengembargo batubara Rusia yang akan berlaku penuh mulai pertengahan Agustus, lebih lambat sebulan dari yang direncanakan semula.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 105 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 90 per barel,” tambah tim riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com