Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi investasi. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Ilustrasi investasi. (Andrea Piacquadio/Pexels)

Yield SUN Naik Dipicu Pengetatan Kebijakan Moneter

Senin, 11 April 2022 | 04:40 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Harga surat utang negara (SUN) diprediksi bakal melorot dalam sepekan ke depan, seiring imbal hasil (yield) yang cenderung bergerak ke atas. Harga SUN yang tertekan itu dipengaruhi oleh sentimen negatif dari global.

“Kalau dari range proyeksi saya untuk sepekan ke depan sekitar 6,6% sampai 6,9% dengan kecenderungan ke atas. Yield 10 tahun akan cenderung naik,” jelas Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin kepada Investor Daily, Minggu (10/4/2022).

Advertisement

Menurut dia, hal itu disebabkan oleh beberapa rilis data ekonomi Amerika dan negara-negara maju yang cenderung mengonfirmasi kebijakan moneter. Semisal di Amerika, bakal terbit rilis data inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE) yang berdasarkan konsensus Maret lalu naik menjadi 8,5% dari sebelumnya 7,9%.

“Jadi, saya melihat naik inflasinya. Kalau inflasi naik kemungkinan mengkonfirmasi kembali bahwa kebijakan moneter akan lebih ketat dibandingkan sebelumnya,” katanya.

Baca juga: Total Emisi Obligasi dan Sukuk Sepanjang 2022 Capai Rp 40,88 T

Selain data inflasi Amerika, Inggris juga akan merilis data tingkat pengangguran. Disusul Kanada yang bakal merilis suku bunga yang sebelumnya 0,5% menjadi 1% pada bulan ini. Jika suku bunganya naik, kemungkinan para investor akan meninggalkan pasar obligasi Indonesia.

Dengan demikian, sentimen-sentimen eksternal cenderung memberikan dampak negatif terhadap pasar surat utang Indonesia. Karena itu, dia memprediksi yield sepekan ke depan cenderung merangkak naik. Sentimen lain yang juga penting dicermati adalah harga minyak.

“Sekarang, harga minyak dunia masih bertahan di angka US$ 100 per barel dan tidak turun lagi. Itu salah satu yang jadi momok pasar. Karena minyak ini digunakan bukan hanya sebagai bahan bakar, tetapi juga menjadi bahan produk turunan lainnya,” kata dia.

Sementara itu dari sisi domestik, Nasrudin melihat masih berjalan sesuai jalur. Indikasinya, Bank Indonesia (BI) mulai waspada terhadap kenaikan inflasi yang terjadi pada bulan ini akibat sentimen bulan Ramadan dan harga minyak dunia.

Ia memprediksi, sebagai bank sentral BI masih akan mempertahankan suku bunga untuk mengonfirmasi data-data yang berkembang saat ini apakah dipicu oleh naiknya permintaan atau naiknya harga biaya produksi. Indikasi selanjutnya, progres pemulihan ekonomi nasional yang masih berjalan bagus karena tingkat kasus harian Covid-19 yang berangsur-angsur menurun.

Baca juga: Ada Listing GoTo, IHSG Bisa Rally ke 7.250

“Jadi kalau misalnya ekonomi pulih, pasar saham sebetulnya yang paling menarik. Makanya, kalau kita lihat investor asing dalam beberapa minggu terakhir lebih banyak masuk ke pasar saham dibandingkan pasar obligasi,” ujarnya.

Terbukti, sejak awal Maret sampai pekan pertama April, investor asing yang masuk ke pasar saham sekitar Rp 14 triliun. Sebaliknya, di pasar obligasi justru terkoreksi sekitar Rp 39 triliun lantaran para investor beralih ke pasar saham dan beberapa investor keluar karena mereka lebih memilih US Treasury yang dinilai lebih aman.

Terlebih, fenomena risk averse juga masih tinggi akibat meningkatnya risiko geopolitik yang  dipicu situasi perang yang serba tidak pasti. Jika ketidakpastian tinggi, maka para investor asing otomatis memilih portofolio yang aman terlepas dari berapapun imbal hasilnya.

“Makanya saya melihat, sentimen eksternal akan paling dominan mempengaruhi SUN karena data-data rilis ekonomi di negara maju mengonfirmasi bahwa pengetatan kebijakan moneter akan terus berjalan,” paparnya.

Baca juga: Sejauh mana Dana Asing Mengalir ke BEI?

Adapun terkait rencana pemerintah melelang tujuh seri SUN dengan target indikatif Rp 20-30 triliun, Nasrudin memproyeksikan penawaran masih akan oversubscribed dan bid to cover ratio sekitar 1 sampai 2 kali. Sementara, dari sisi permintaan 90% akan datang dari investor domestik. Sebab investor asing masih ingin bergeser ke pasar saham dan US Treasury.

Faktor lainnya, investor asing masih ragu untuk masuk ke pasar Indonesia karena intervensi BI dinilai cukup besar, sehingga investor asing tidak yakin harga dan permintaan dalam beberapa tahun terakhir mencerminkan fundamental pasar obligasi di Indonesia.

“Mereka masih ragu. Takutnya, kalau yield kita dalam dua tahun terakhir turun ternyata karena permintaan tingginya berasal dari bank sentral. Sedangkan permintaan domestiknya tidak tinggi,” ujar Nasrudin.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN