Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu lokasi tambang Adaro Energy

Salah satu lokasi tambang Adaro Energy

Dipicu Sanksi Rusia dan Penurunan Produksi Tiongkok, Saham Emiten Batu Bara kian Membara

Jumat, 22 April 2022 | 09:04 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, Investor.id - BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan saham emiten batu bara tetap menjadi primadona tahun ini, seiring dengan potensi harga yang tetap tinggi sampai akhir tahun. Hal ini dipengaruhi atas sanksi terhadap Rusia dan perlambatan produksi batu bara Tiongkok.

“Kami memperkirakan bahwa suplai komoditas batu bara akan tetap ketat pada semester II thaun ini setelah banyak negara ikut memberikan sanksi kepada Rusia,” terang analis BRI Danareksa Sekuritas Hasan Barakwan dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, hari ini.

Baca juga: Harga Tinggi Diprediksi Bertahan, Trimegah Sekuritas Naikkan Target Saham Emiten Batu Bara

BRI Danareksa Sekuritas menyebutkan bahwa Uni Eropa telah melarang impor batu bara Rusia, baik secara langsung maupun tidak langsung, sejak 9 April 2022. Kontrak pembelian batu bara maupun energi fosil Rusia yang sudah ditandatangani sebelum 9 April hanya bisa dilanjutkan sampai 10 Agustus 2022.

Usai pelarangan Uni Eropa, dia mengatakan, Jepang juga berniat mengimplementasikan larangan impor batu bara dari Rusia. Sebagaimana diketahui Rusia menyuplai sebanyak 11% kebutuhan batu bara Jepang tahun 2021. “Larangan itu berarti mendorong Jepang untuk mencari alternatif sumber batu bara untuk menghindari kekurangan pasokan. Kondisi ini tentu sangat memberikan dampak positif terhadap produksi batu bara Indonesia,” terangnya.

Baca juga: Garap Smelter Aluminium, Target Harga Saham Adaro (ADRO) Direvisi Naik

Selain faktor tersebut, dia mengatakan, produksi batu bara Tiongkok menunjukkan penurunan akibat harga jual batu bara termal untuk pembangkit listrik di negara tersebut dinilai terlalu murah, dibandingkan dengan harga internasional. Hal ini mendorong para penampang memperlambat produksi.

Top Picks ADRO

Berbagai faktor tersebut diproyeksikan membuat harga jual batu bara akan tetap bertahan tinggi sampai akhir tahun. BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target rata-rata harga jual batu bara dunia tahun ini menjadi US$ 200 per ton dan sebesar US$ 150 per ton pada 2023. Sedangkan ratarata harga jual batu bara year to date (ytd) mencapai US$ 261 per ton.

“Kami memperkirakan produsen batu bara lokal akan mulai mengirimkan batu bara ke Eropa dalam waktu dekat. Apalagi Adaro telah menyebutkan telah mengapalkan sekitar 300 ribu ton batu bara ke pembeli di Eropa,” terang Hasan.

Peningkatan ekspor batu bara ke Eropa, ungkap dia, diprediksi berlanjut sampai akhir tahun, seiring dengan berlanjutnya larangan ekspor batu bara Rusia. Sedangkan emiten saham batu bara yang paling diuntungkan adalah PT Adaro Energy Tbk (ADRO) didukung atas kemampuan perseroan mendapatkan keuntungan paling optimal atas kenaikan harga batu bara. Saham ADRO menjadi pillihan teratas untuk emiten sektor batu bara. Saham ADRO direkomendasikan beli dengan target harga Rp 4.300.

BRI Danareksa Sekuritas juga merekomendasikan beli saham PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Indo Tambangraya Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dengan target harga masing-masing Rp 16.750, Rp 33.000, dan Rp 4.600.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN