Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Ilustrasi obligasi. Foto: beritasatu.com

Didukung Banyak Faktor, Pasar Obligasi Indonesia Punya Potensi Menarik Lho...

Senin, 25 April 2022 | 08:29 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Pasar obligasi Indonesia dinilai punya potensi yang menarik karena maraknya sentimen positif pendukungnya. Misalnya saja, ada optimisme pelaku pasar akan potensi ekonomi Indonesia, terlihat dari masuknya aliran dana asing yang stabil di pasar saham. Kondisi yang kondusif tadi, disertai dengan kepemilikan asing yang masih relatif rendah membuka peluang penguatan lebih lanjut di pasar saham Indonesia.

“Sementara ekspektasi pasar yang sudah sangat agresif terhadap kenaikan suku bunga Fed dan imbal hasil US Treasury, menciptakan peluang investasi di pasar obligasi,” kata Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Krizia Maulana dalam keterangan tertulis dikutip Senin (25/04/2022).

Krizia mengatakan, basis investor yang saat ini lebih terdiversifikasi terlihat dari naiknya partisipasi investor domestik dan menurunnya kepemilikan investor asing. Di mana, hal tersebut berkontribusi pada stabilitas pasar obligasi domestik. Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter, serta kondisi makro yang baik akan menopang pergerakan pasar obligasi Indonesia ke depannya.

Baca juga: Indosat (ISAT) Lunasi Utang Obligasi dan Sukuk Rp 1,3 Triliun

Lebih lanjut, setelah menutup kuartal I-2022 yang ditandai tingginya gejolak di pasar keuangan, khususnya di pasar global, ada beberapa isu kedepannya yang perlu menjadi perhatian pelaku pasar.

1.The Fed yang menjadi lebih hawkish.

Lonjakan inflasi di awal tahun membuat The Fed memberikan signal kenaikan suku bunga yang lebih agresif. The Fed menyatakan, bahwa tidak membatasi kemungkinan kenaikan suku bunga lebih dari 25 basis poin dalam satu rapat dan menekankan ekonomi AS cukup kuat dalam menghadapi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi. Hal ini mendorong ekspektasi pasar ke arah skenario yang lebih agresif, ekspektasi pasar sudah memperkirakan kenaikan suku bunga hingga mencapai 2,5% di akhir tahun 2022.

Imbal hasil US Treasury juga turut naik, sempat menyentuh level 2,5%, dimana terakhir kali kita melihat level tersebut adalah di tahun 2019, yang pada saat itu suku bunga The Fed berada pada rentang 2,25% sampai dengan 2,5% dibandingkan level saat ini yang masih berada pada rentang 0,25% sampai 0,5%.

Kondisi ini sebetulnya mencerminkan bahwa pasar sudah mengantisipasi dan bersiap dalam menghadapi kenaikan suku bunga yang tinggi. Apabila ternyata kenyataan kenaikan suku bunga lebih rendah dibandingkan ekspektasi maka hal ini dapat memberikan kejutan positif bagi pasar keuangan. Potensi moderasi pada pertumbuhan ekonomi AS dapat merubah stance (pendekatan) Fed menjadi lebih akomodatif.

Baca juga: Pembelian Obligasi ECB Diperkirakan Berakhir Juli

2.Konflik geopolitik antara Rusia-Ukraina.

Eskalasi konflik ini sangat mengejutkan pasar, apalagi terjadi bersamaan dengan dimulainya siklus pengetatan The Fed. Memperhitungkan peran Rusia dan Ukraina yang besar dalam rantai pasokan migas, metal dan pangan dunia, dampak instan yang dirasakan adalah lewat kenaikan harga komoditas dan inflasi.

Ketatnya pasokan di pasar komoditas sejak pandemi, ditambah lagi kekhawatiran disrupsi pasokan yang disebabkan oleh konflik ini, mendorong harga komoditas menyentuh level yang sangat tinggi. Dampak konflik ini pada setiap negara akan sangat berbeda, tergantung pada berbagai faktor, seperti misalnya posisi negara tersebut, apakah net importir atau eksportir terhadap pangan dan energi. Kemudian besaran bobot pangan dan energi dalam keranjang inflasi, serta posisi fiskal dan ruang kebijakan moneternya.

Sejauh ini konflik masih berlangsung. Seberapa besar dampaknya tergantung pada durasi konflik dan dampak sanksi yang diberikan terhadap pertumbuhan global.

3.Aksi jual yang terjadi kepada pasar saham Tiongkok.

Pada kuartal kemarin, pasar saham Tiongkok mengalami pelemahan, dibayangi beberapa faktor yang bersifat sementara, seperti melonjaknya kasus Covid-19 yang memicu lockdown di beberapa kota yang strategis secara perekonomian, konflik Rusia–Ukraina yang dikhawatirkan dapat berimbas terhadap kondisi geopolitik Tiongkok dan pengetatan aturan bagi saham Tiongkok yang listing di AS. Hal-hal inilah yang menekan pasar saham Tiongkok di kuartal kemarin. 

Namun on the positive note, saat ini pemerintah Tiongkok menekankan fokusnya untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi dengan bantuan stimulus fiskal dan moneter. Pemerintah juga berkomitmen untuk mengurangi tindakan keras regulasi, mendukung sektor properti dan teknologi.

Setelah melalui kejutan dari berbagai dinamika global, saat ini volatilitas pasar mulai mengalami normalisasi, indeks volatilitas menurun dan kinerja pasar saham global pun mulai membaik. Rapat Fed bulan Maret menjadi titik balik, kejelasan arah kebijakan Fed mengurangi liarnya spekulasi pasar.

"Kami menilai bahwa faktor ketidakpastian yang disebabkan oleh perkembangan akhir-akhir ini berpotensi merubah pendekatan bank sentral menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan pengetatan moneter, serta memberikan dukungan lebih lanjut terhadap perekonomian," pungkas Krizia.

Meski begitu, tahun ini Indonesia berada pada posisi yang atraktif, berbeda dengan negara maju yang mengalami tren normalisasi, Indonesia justru diuntungkan oleh momentum pemulihan ekonomi seiring dengan pulihnya mobilitas masyarakat dan meningkatnya vaksinasi.

Baca juga: BEI Jajaki Pemesanan Obligasi lewat Sistem e-IPO

Sinyal pemulihan ini mulai terlihat pada kuartal IV-2021 di mana pertumbuhan ekonomi balik tumbuh ke level 5% secara tahunan. Perbaikan pada stabilitas eksternal yang salah satunya ditunjukkan oleh surplus neraca perdagangan dan cadangan devisa yang kuat, membuat nilai tukar Rupiah tetap stabil dan menjadi bantalan dalam menghadapi perubahan kebijakan moneter global.

Hal inilah yang juga membuat Bank Indonesia menunjukkan sikap yang tidak terburu-buru, dan menegaskan bahwa kebijakan suku bunga rendah akan dipertahankan sampai terjadi tekanan inflasi yang bersifat fundamental, yang terlihat pada kenaikan inflasi inti.

Sementara dampak langsung yang rendah terhadap konflik Rusia-Ukraina dan posisi Indonesia sebagai net eksportir komoditas, membuat Indonesia menjadi lebih terlindungi dari konflik ini. Kenaikan harga komoditas memberikan trickle-down effect terhadap perekonomian secara keseluruhan lewat meningkatnya kesejahteraan masyarakat yang bekerja dan berhubungan dengan sektor yang bersangkutan.

“Salah satu cara untuk mengelola volatilitas di pasar finansial adalah dengan melakukan diversifikasi, atau meragamkan portofolio investasi dengan aset yang memiliki korelasi rendah. Hal ini penting dilakukan untuk meminimalisir risiko dan mengoptimalkan imbal hasil,” tutup Krizia.

 

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN