Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Karyawan melintas di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

IHSG Anjlok 4,4%, Saham LAND dan SMDR Justru Auto Reject Atas

Senin, 9 Mei 2022 | 15:14 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA,Inveator.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek In8donesia (BEI), Senin (9/5), ditutup anjlok 319,16 poin (4,4%) menjadi 6.909,75. Indeks bergerak dalam rentang 6.897-7.156 dengan nilai transaksi Rp 22,12 triliun.

Penurunan indeks dipengaruhi anjloknya seluruh sektor saham, seperti saham sektor teknologi  dan keuangan. Penurunan indeks juga dipicu anjloknya saham-saham unggulan.

Baca juga: Sell in May and Go Away? Begini Kata Analis dan Data Historis

Sebelumnya, Kepala Riset Praus Capital Alfred Nainggolan mengatakan, koreksi IHSG di pembukaan perdagangan pasca libur panjang Idul fitri yang sangat dalam (terendah mencapai -4,5%) dipengaruhi oleh sentimen kenaikan suku bunga The Fed.

“Setelah menaikan sebesar 50 bps di awal Mei, pasar masih akan mengantisipasi potensi kenaikan yang kembali dilakukan The Fed di bulan Juni . Karena spread suku bunga The Fed saat ini 0,75-1,00% masih jauh dengan level inflasi Amerika Serikat (AS) yang berada di atas 8% (8,4% Maret 2022),” ujarnya kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (9/5).

Kenaikan The Fed hingga 50 bps ditambah peluang kenaikan suku bunga pada Juni 2022, dia mengatakan, bisa menimbulkan shock (kenaikan yang besar dalam waktu yang cepat) bagi pasar aset berisiko, termasuk saham.

Penurunan dalam indeks, ungkap dia, juga dipengaruhi atas keputusan investor asing dalam merealisasikan penjualan bersih (net sell) saham hingga Rp 1,65 triliun di pasar reguler. “Jika sebelum-sebelumnya, asing bisa menopang aksi jual investor dikala IHSG terkoreksi, hari ini terjadi sebaliknya. Aksi jual asing yang masif membuat koreksi IHSG semakin dalam,” terangnya.

Meski demikian, Alfred mengatakan, rebound IHSG dalam jangka pendek bisa terjadi dengan melihat dua indikator, yaitu pergerakan rupiah dan kembalinya asing net buy. Sentimen positif dalam jangka pendek bagi IHSG adalah rilis GDP Indonesia di kuartal I-2022 dan kinerja emiten kuartal I-2022 yang kuat terkhusus untuk komoditi sektor, perbankan, dan telekomunikasi.

“Dalam jangka menengah juga kami lihat masih banyak sentimen internal yang menopang IHSG seperti rilis performa emiten di kuartal II-2022 dan juga GDP kuartal II setelah melihat belanja masyarakat yang sangat baik di moment lebaran. Berharap kasus Covid bisa tetap rendah pasca Lebaran ini,” terangnya.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN