Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kripto. (Pixabay)

Kripto. (Pixabay)

Dag Dig Dug, BTC dan ETH Akankah Ikuti Jejak LUNA? Ini Prediksi Pengamat....

Jumat, 13 Mei 2022 | 14:00 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – Hancur leburnya harga token Terra (LUNA) sudah pasti membuat pemegang aset kripto lainnya khawatir. Tak terkecuali bagi pemegang Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) yang menempati kapitalisasi pasar terbesar nomor 1 dan 2 tersebut.

Namun, Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo dan Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar Christopher Tahir meyakini BTC dan ETH tak akan bernasib buruk seperti LUNA.

“Untuk harga BTC dan ETH tidak ada yang tidak mungkin karena di tahun 2018 sempat anjlok hingga 90% juga. Tapi, kedua koin ini mempunyai ekosistem yang sudah besar dan merupakan market cap terbesar nomor 1 dan 2. Sehingga harganya bisa kembali naik dan relatif lebih aman jika untuk simpan long term,” katanya kepada Investor Daily, Jumat (13/5/2022).

Baca juga: Perdagangan LUNA Dihentikan, Gimana Nasib yang Pegang LUNA? Begini Curhatannya....

Merujuk CoinMarketCap, harga BTC pada perdagangan Jumat (13/5/2022) pukul 13.10 WIB di US$ 30.527,09 per BTC atau melemah 16,28% dalam sepekan terakhir. Sementara Ethereum juga menorehkan tren serupa. Tercatat, Ethereum saat ini berada di US$ 2.113,19 per ETH atau melemah 23,19%. Sedangkan, LUNA ada di US$ 0,0005 atau anjlok hingga 100% dalam sepekan.

Sutopo menjelaskan, penurunan harga aset kripto tak terlepas dari aksi jual di bursa saham utama di seluruh dunia. Hal ini seiring dengan laporan inflasi Amerika Serikat (AS) terbaru, yang menunjukkan harga konsumen lebih tinggi dari yang diharapkan pada bulan April.

“Hal ini membuat Bitcoin sempat jatuh ke level US$ 26.600 yang merupakan level terendahnya dalam setahun terakhir. Jika sampai Bitcoin diperdagangkan di bawah US$ 25.000, tidak menutup kemungkinan akan menyebabkan crash hingga ke level US$ 20.000,” sebutnya.

Baca juga: Terra (LUNA), UST dan Bitcoin Berdarah-darah, 3 Institusi Raksasa Ini Dalangnya?

Menurutnya, koreksi ini memang tidak bisa terhindarkan mengingat aset berisiko sedang dihindari di seluruh pasar keuangan global. Tak mengherankan jika pada akhirnya aset kripto mengalami penurunan yang lebih dalam karena tidak memberikan lindung nilai, layaknya emas atau dolar AS.

Kendati demikian, peluang untuk Bitcoin mengalami rebound dan kembali berada di zona hijau memang terbuka. Namun, di satu sisi, tren koreksi juga masih terbuka lebar karena pasar tidak bisa menebak seberapa dalam jurang koreksi.

Oleh karena itu, bagi investor yang ingin melakukan investasi, ada baiknya untuk menunggu terjadinya perubahan tren terlebih dahulu. Agar tidak terperangkap untuk menadah pisau yang sedang jatuh.

“Secara teknis, aset memasuki jenuh jual, namun perlu menunggu momentum pembalikan terlebih dahulu. Apalagi, isu kenaikan suku bunga masih sangat santer, dan intervensi verbal soal pengetatan moneter masih terus disuarakan. Jadi bisa saja naik ke all time high tapi tidak di tahun ini, bisa jadi saat halving Bitcoin lagi di tahun 2024-2025,” ujar Sutopo.

Baca juga:  Blockchain Terra Kembali Produksi, Harga LUNA Tinggal Rp 100-an, Apa Penyebabnya?

Senada Christopher menilai, BTC merupakan koin yang fully decentralized dan bukan hanya itu, tapi juga monetary policy-nya juga tidak berubah-ubah. “Yang artinya stabilitas monetary policy-nya itu membuat BTC lebih robust,” ucapnya.

Monetary policy itu termasuk jumlah suplai, jumlah yang dicetak tiap blok, dan apapun yang dapat memengaruhi cara suplai dari koin. BTC sejak rilis sampai saat ini max supply tetap 21 juta, koin akan dirilis tiap 1 blok kurang lebih 10 menit, jumlah koin yang dirilis saat ini di 6.25 BTC per blok dan akan ada halving tiap 210.000 blok (sekitar 4 tahun) yang mana akan terjadi nanti di 2024, dan yang tidak kalah penting yakni tidak ada orang pusat yang mengaturnya.

Sedangkan, LUNA turun karena pembakaran (burn) UST gila-gilaan yang akhirnya berdampak kepada suplai LUNA yang naik gila-gilaan. Suplai naik maka pemilik LUNA terdilusi sehingga turun dan ini terjadi sangat centralized.

Sementara, ETH saat ini malah berpindah ke protokol yang cenderung mengarah lebih pusat, maka ini menjadi ancaman pula sebenarnya. “Soal mungkin tidak mungkin, saat ini sih memang tidak ada kejadian seperti LUNA yang dapat memicu kejadian serupa, namun perubahan oleh golongan yang lebih terpusat ini dapat memicu tekanan harga berlebihan. Tapi, ETH paling tidak masih terbukti menjadi satu-satunya altcoin yang secara konsisten mengalahkan BTC dalam hal pengembalian,” pungkas Christopher.

 

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN