Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Investor mengamati pergerakan saham. Foto ilustrasi: Investor Daily /David Gita Roza

Investor mengamati pergerakan saham. Foto ilustrasi: Investor Daily /David Gita Roza

Prospek Masih Cerah, Tekanan Jual Saham Teknologi Diperkirakan Sementara

Senin, 16 Mei 2022 | 12:11 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Laporan terbaru e-Conomy SEA 2021 yang dikeluarkan Google, Bain & Company menyebutkan nilai ekonomi digital Indonesia melesat 49% year-on-year menjadi US$ 70 miliar pada tahun 2021. Bahkan nilai ekonomi digital Indonesia akan menyentuh US$146 Miliar pada tahun 2025.

Masih tingginya potensi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia disebabkan perubahan perilaku konsumsi masyarakat Indonesia. Bahkan hingga Januari 2021 di saat pandemi Covid-19, peningkatan jumlah konsumen digital mencapai 21 juta sejak Januari 2021.

Besarnya potensi ekonomi digital tersebut harus ditangkap sebagai peluang. Arya Anugrah Pratama Kuntadi, Ketua Bidang IV BPP HIPMI berharap bangsa Indonesia tak hanya sekadar sebagai pengguna platform digital perusahaan multi nasional. Tetapi lebih dari itu yakni sebagai developer dan mampu menjual platform digital asli Indonesia ke pasar internasional.

Langkah Menteri Erick Thohir dalam membuat Merah Putih Fund dinilai Arya sebagai terobosan yang sangat strategis untuk menumbuhkan dan membuat ekosistim digital Nasional semakin kuat. Diharapkan akan semakin banyak bermunculnya unicorn dan decacorn di asli Indonesia.

Kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) atau 0,50 persen membuat indeks bursa global dan Indonesia mengalami tekanan. Tekanan jual saham yang terbesar saat ini dialami oleh perusahaan yang bergerak di bidang teknologi seperti bank digital dan market place.

Tekanan jual yang saat ini terjadi di pasar saham dinilai wajar oleh Arya. Koreksi yang terjadi pada saham-saham teknologi dinilai Arya hanya sementara saja. Ketika sentimen kenaikan Suku bunga The Fed sudah mereda, kinerja harga saham perusahaan digital akan kembali pulih. Dengan jumlah penduduk yang besar dan besarnya potensi masyarakat Indonesia yang belum menggunakan platform digital masih menjadi daya pikat tersendiri pertumbuhan ekonomi digital.

"Elon Musk dengan SpaceX dan Starlink aja tertarik untuk menggarap ekonomi digital Indonesia. Itu menunjukan potensi pertumbuhan ekonomi digital Nasional yang sangat besar. Termasuk di perusahaan startup dan digital Nasional," ungkap Arya yang dihubungi, Senin (16/5/2022).

Beberapa waktu yang lalu Telkom Group melakukan investasi di saham GoTo. Arya menilai investasi yang dilakukan Telkom Group ke perusahaan digital seperti GoTo merupakan keniscayaan. Sebab investasi ke perusahaan digital juga dilakukan oleh perusahaan telekomunikasi global. Tujuannya adalah untuk dapat membangun ekosistim digital. Sehingga perusahaan telekomunikasi dapat terus mempertahankan pendapatannya dan mampu berkembang di pasar digital yang semakin luas.

"Telkom Group harus menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Bahkan kalau bisa Telkom harus menjadi leader ekonomi digital di kawasan regional. Agar Telkom dapat terus mempertahankan pendapatannya dan bisa menggembangkan ekonomi digital Nasional mereka harus masuk ke perusahaan digital. Mereka juga harus memasukan orang-orang yang berpengalaman di perusahaan rintisan digital. Dan itu mereka sudah lakukan," kata Arya.

Saat ini investasi yang ditanamkan Telkom Group di perusahaan digital seperti GoTo mengalami koreksi yang sangat drastis. Arya melihat koreksi harga saham GoTo yang mempengaruhi nilai investasi Telkom Group adalah suatu lumrah terjadi. Sebab harga saham GoTo dan perusahaan teknologi lainnya baik itu di BEI maupun di global tengah mengalami tekanan jual.

Arya menilai fluktuasi harga yang saat ini terjadi di pasar saham adalah suatu wajar. Investor tidak bisa memastikan investasi yang ditanamkan pasti untung atau rugi. Sebab fluktuasi harga saham di bursa dipengaruhi beberapa sentimen seperti sentimen global, regional dan lokal. Saat ini koreksi harga yang terjadi di saham GoTo Arya menduga semata-mata karena kenaikan bunga FED. Penurunan harga saham juga dialami oleh perusahaan teknologi lainnya. Tidak ada sentimen lain di luar kenaikan suku bunga FED.

"Saya yakin pihak Telkom Group sudah menjalankan prosedur yang benar ketika hendak melakukan investasi di perusahaan digital seperti GoTo. Justru saya mendorong agar terus ada kolaborasi yang positif antara BUMN dengan swasta Nasional. Termasuk dalam menggembangkan perusahaan digital. Sebab negara yang maju pasti memiliki kolaborasi yang kuat antara BUMN dan swasta. Jika bukan BUMN kita yang berperan siapa lagi yang akan menggembangkan ekonomi digital Indonesia,"pungkas Arya.

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN