Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta.  Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

IHSG dalam Volatilitas Tinggi, Sampai Kapan? Berikut Prediksinya

Senin, 16 Mei 2022 | 20:27 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pasar saham Indonesia tengah mengalami tekanan berat akibat berbagai sentimen, terutama soal inflasi, rencana kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat yaitu The Fed yang bakal lebih tinggi, serta perang Rusia-Ukraina yang berlarut-larut.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) selama sepekan lalu anjlok 8,73% ke level 6.597,9 dari 7.228,9 pada pekan sebelumnya. Lantas, sampai kapan tekanan ini berlangsung?

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, sepekan ke depan, IHSG memiliki peluang untuk rebound. Meski demikian, secara umum cenderung melemah. Volatilitas yang tinggi ini diperkirakan berlangsung selama tiga bulan, yaitu Mei, Juni, dan Juli. “Selama The Fed akan menaikkan suku bunga secara agresif,” kata dia kepada Investor Daily.

Baca juga: Inilah 10 Saham Penggerak IHSG di Bulan Mei

Menurut Hans, kemungkinan besar akan ada dua kenaikan suku bunga lagi oleh The Fed, yakni pada Juni yang diprediksi sebesar 50 basis poin, lalu pada Juli yang juga diperkirakan naik 50 basis poin. Kemudian, The Fed akan melakukan pengurangan neraca, sehingga likuiditas akan turun mulai Juni.

Sementara itu, Investment Education Team Yuanta Sekuritas Indonesia Haikal Putra Samsul memperkirakan, volatilitas tinggi di pasar saham Tanah Air dapat berlangsung selama dua bulan. “Kami mengantisipasi volatilitas tinggi IHSG setidaknya selama dua bulan ke depan, sebelum IHSG kembali ke tren penguatan yang konsisten menuju level 7.355 sebagai level tertinggi sepanjang masa,” jelasnya.

Menurut Haikal, anjloknya IHSG seiring masifnya aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing yang mengakibatkan saham-saham big cap terpangkas. Kekhawatiran investor mencuat setelah AS merilis data inflasi April 2022 yang mencapai 8,3% (yoy) atau di atas perkiraan 8,1%. The Fed pun menaikkan suku bunga lebih agresif untuk menekan inflasi.

Di Indonesia, inflasi pada April 2022 sebesar 3,47% (yoy) atau masih sesuai target Bank Indonesia di rentang 3%+1%. Namun, secara bulanan, inflasi melonjak sampai 0,95% (mtm) akibat kenaikan harga minyak goreng dan penyesuaian harga BBM.

Baca juga: IHSG Amblas 8,7%, Saham-saham Ini Malah Terbang 29%-61%

“Mengamati situasi tersebut, kami menilai inflasi di Indonesia masih akan tetap naik menjadi 4%-5% pada semester II-2022,” tutur Haikal.

Sebab itu, Bank Indonesia diprediksi bakal menaikkan suku bunga pada pertengahan semester II-2022 hingga akhir tahun ini di rentang 75-100 bps demi menjaga nilai rupiah lebih kompetitif.

Alhasil, kenaikan suku bunga acuan tersebut akan membuat IHSG bergerak dengan volatilitas tinggi dalam beberapa bulan ke depan. “Secara teknikal, IHSG sebenarnya telah memberikan sinyal jenuh jual (oversold),” ujarnya. (C01)

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN