Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Soal Nasib Pasar Saham Pekan Ini, Begini Skenarionya...

Senin, 16 Mei 2022 | 21:47 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Pasar saham Indonesia tengah mengalami tekanan berat akibat berbagai sentimen, terutama soal inflasi, rencana kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat yaitu The Fed yang bakal lebih tinggi, serta perang Rusia-Ukraina yang berlarut-larut.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) selama pekan lalu anjlok 8,73% ke level 6.597,9 dari 7.228,9 pada pekan sebelumnya. Lantas, bagaimana pergerakan IHSG selama pekan ini?

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG pada Mei ini sejalan dengan prediksi yang bergerak terkoreksi.

“Untuk pergerakan selama pekan ini, kami memperkirakan IHSG sudah berada di akhir koreksi jangka pendek, sehingga IHSG berpeluang menguat terlebih dahulu untuk menguji rentang area 6.659-6.700,” kata Herditya kepada Investor Daily.

Baca juga: IHSG dalam Volatilitas Tinggi, Sampai Kapan? Berikut Prediksinya

Meski demikian, menurut dia, pelaku pasar dapat mencermati level terendah (support) terdekat di 6.484-6.509. Apabila IHSG secara agresif kembali terkoreksi ke bawah level tersebut, target koreksi IHSG diperkirakan menuju ke 6.350.

Adapun pergerakan saham-saham big cap seperti BBCA, BBRI, dan TLKM tetap berpeluang menguat dalam jangka pendek dan dapat digunakan untuk trading buy terlebih dahulu. Investor asing kemungkinan akan mencatatkan transaksi beli bersih (net buy), seiring dengan sentimen harga komoditas dan fundamental ekonomi Indonesia yang masih tergolong baik di antara emerging market yang lain.

“Untuk itu, selama pekan ini, para investor bisa buy on weakness (BoW) dan mencermati saham-saham sektor barang konsumsi dan batu bara, antara lain UNVR, HMSP, ADRO, dan ITMG,” ungkap pria yang akrab disapa Didit ini.

Secara terpisah, Investment Education Team Yuanta Sekuritas Indonesia Haikal Putra Samsul mengatakan, ada indikasi aliran dana bergerak ke saham-saham di sektor yang lebih defensif, seperti sektor barang konsumsi primer dan kebutuhan dasar.

Buktinya, di tengah pelemahan saham big cap, investor asing justru mengakumulasi saham-saham seperti UNVR, INDF, ICBP, dan PGAS. Tercatat selama pekan lalu, UNVR naik 23,39%, ICBP menguat 7,21%, PGAS naik 3,1%, dan INDF meningkat 2,38%.

Baca juga: Inilah 10 Saham Penggerak IHSG di Bulan Mei

Dalam strategi investasi “rotasi sektor” ini, Haikal menjelaskan bahwa aliran dana tersebut bisa menjadi sinyal dimulainya transisi siklus ekonomi dari “fase ekonomi ekspansi akhir” ke “fase ekonomi kontraksi awal” yang lazimnya berlangsung selama 2-8 bulan.

Sebab itu, dia merekomendasikan investor untuk menerapkan strategi investasi yang lebih aktif dan jangka pendek untuk mencermati pergerakan saham di sektor defensif.

“Kami mengunggulkan INDF dan ICBP yang masing-masing menunjukkan kinerja lebih apik dibandingkan kompetitornya. Dengan proyeksi INDF mampu mencetak pertumbuhan laba bersih tahun ini hingga 18% dan ICBP mencapai 11%, kami menargetkan harga INDF bisa mencapai Rp 7.300 dan ICBP Rp 9.100,” ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN