Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Tangki penyimpanan terlihat di Kilang Los Angeles Marathon Petroleum,
Foto diambil dengan drone. (FOTO: REUTERS / Bing Guan / File)

Tangki penyimpanan terlihat di Kilang Los Angeles Marathon Petroleum, Foto diambil dengan drone. (FOTO: REUTERS / Bing Guan / File)

Minyak Menguat Didorong Dua Sentimen Ini

Kamis, 19 Mei 2022 | 10:45 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut harga minyak pagi ini terpantau bergerak menguat didorong dua sentimen. Keduanya adalah rilisnya laporan EIA dan relaksasi aturan Covid di Tiongkok yang memicu optimisme peningkatan permintaan minyak. Meski demikian, rencana pelonggaran sanksi terhadap Venezuela berpotensi membawa lebih banyak pasokan ke pasar, yang membatasi pergerakan harga lebih lanjut.

Dalam laporan yang dirilis Rabu malam, badan statistik pemerintah AS Energy Information Administration (EIA) melaporkan stok minyak mentah dan stok bensin masing-masing mengalami penurunan sebesar 3.39 juta barel dan 4.78 juta barel. “Laporan EIA tersebut menguatkan data stok minyak mentah AS yang dirilis sebelumnya dari grup industri American Petroleum Institute (API), yang sekaligus mengindikasikan permintaan yang positif di pasar energi AS,” tulis tim riset ICDX dalam risetnya, Kamis (19/5/2022).

Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Tiongkok menghapus beberapa persyaratan tes Covid-19 pra-kedatangan untuk pelancong dari AS dan memperpendek karantina pra-keberangkatan untuk beberapa pelancong yang masuk menjadu 10 hari dari 14 hari. Relaksasi aturan penerbangan tersebut memicu optimisme akan kembali meningkatnya aktifitas perjalanan via udara, yang tentunya berdampak positif pada permintaan bahan bakar. Selain itu, di hari Rabu, otoritas kota Shanghai memberikan persetujuan kepada 864 perusahaan keuangan untuk dapat kembali bekerja.

Baca juga: IHSG Tertahan di Zona Merah pada Sejam Perdagangan

“Isyarat positif dari Tiongkok tersebut meningkatkan harapan akan pemulihan permintaan minyak dari negara importir minyak terbesar pertama dunia itu,” tambah tim riset ICDX.

Sementara itu, tim riset ICDX menyebut, sentimen bearish datang dari rencana AS yang akan akan mengizinkan perusahaan-perusahaan Eropa yang masih beroperasi di Venezuela untuk mengalihkan lebih banyak minyak ke benua itu segera, serta mengizinkan Chevron Corp untuk menegosiasikan lisensi minyak dengan produsen negara Venezuela PDVSA, ungkap sumber pada hari Rabu.

Eni SpA asal Italia dan Repsol SA asal Spanyol merupakan satu-satunya produsen minyak utama Eropa yang masih beroperasi di Venezuela dan saat ini sedang melakukan pembahasan dengan pemerintahan Biden untuk mengalihkan minyak yang menuju Tiongkok ke Eropa.

Baca juga: Mantap! Tesla akan Investasi Mobil Listrik di Indonesia Tahun Ini

Dari Eropa, komisi Uni Eropa (UE) pada hari Rabu merekomendasikan usulan senilai 210 miliar Euro guna mengakhiri ketergantungan pada Rusia yang memasok 40% gas dan 27% minyak ke UE. Tiga usulan yang direkomendasikan pada 27 negara anggota UE itu yaitu peralihan untuk mengimpor lebih banyak gas non-Rusia, peluncuran energi terbarukan yang lebih cepat, dan lebih banyak upaya untuk menghemat energi.

Di hari yang sama, kementerian ekonomi Rusia memperkirakan harga gas alam Rusia untuk pembeli di luar negara-negara CIS pada tahun ini akan naik 72% menjadi US$ 523,3 per 1.000 meter kubik. Selain itu produksi gas Rusia diperkirakan akan turun menjadi 721 bcm tahun ini dari 764 bcm pada 2021.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 115 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 100 per barel,” tutup tim riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN