Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pengunjung melihat pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Pengunjung melihat pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Ekonomi Pulih, IHSG Diprediksi Tembus 7.400-7.600 Akhir 2022

Kamis, 19 Mei 2022 | 11:08 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diproyeksikan tembus level 7.400-7.600 hingga akhir tahun. Target tersebut didukung terkendalinya Covid-19 dan pulihnya perekonomian nasional tahun ini.

Pengamat pasar modal yang juga Founder Indonesia Superstocks Community Edhi Pranasidhi mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun ini diprediksi dalam kisaran 5,2%. “Produk domestik bruto (PDB) Indonesia secara rata-rata setiap tahun sejak 2001-2020 adalah sekitar 5%. Pada 2021, saat pandemi, PDB Indonesia hanya 3,69%. Pada tahun 2022 optimisme kembali tumbuh seiring pandemi yang semakin terkendali,” kata Edhi dalam diskusi daring Investment Talk bertajuk “Buy in May Harvest in November” yang digelar D' Origin Advisory bersama Igico Advisory, pada Rabu sore (18/5/2022).

Advertisement

Baca juga: Mandiri Sekuritas: IHSG Berpeluang Rebound, Empat Saham Masuk Radar

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2022 terbilang baik, yaitu 5,01%. Sementara itu, mengacu pada PDB growth base, IHSG tahun ini dapat dihitung dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% dikali investment banking data, yaitu 2,5 kali dari PDB yaitu dengan kenaikan sekitar 13%, dibandingkan dengan 2021.

Pada 2021 lalu, level tertinggi IHSG mencapai 6.581. Dengan kenaikan sebesar 13%, IHSG sudah berada di level 7.400.

“Namun, jika memperhitungkan earnings per index pada 2022 yang sekitar 440-an atau 430, dikalikan rata-rata price earnings ratio (PER) IHSG tertinggi dalam 10 tahun terakhir, yaitu 17. Maka, kita akan mendapatkan IHSG tahun 2022 harusnya antara 7.400 - 7.600, seperti itu,” ujarnya.

Perhitungan itu, menurutnya, diperkuat juga dengan nilai tukar rupiah yang cenderung stabil di kisaran Rp 14.400. Serta harga komoditas andalan Indonesia seperti batu bara dan nikel yang terjaga positif. Selain itu, faktor lain yang dapat memperkuat IHSG adalah dana asing yang masuk ke pasar modal dalam negeri.

Pasalnya, tingkat inflasi yang menerpa perekonomian global akibat konflik geopolitik Rusia - Ukraina, membuat dana asing dalam jumlah besar masuk ke emerging market termasuk pasar modal di Tanah Air. “Nah, sampai hari ini tahun 2022 net buy asing itu sekitar Rp63 triliun,” ujarnya.

Di sisi lain, Edhi juga mengingatkan perlunya mewaspadai kenaikan suku bunga oleh The Fed. Langkah otoritas keuangan Amerika Serikat dinilai selalu menciptakan disinflationary di stock market. Artinya, setiap kenaikan bunga acuan The Fed membuat stock market turun.

“Paling lama itu impact hanya 9 bulan. Jadi yang harus kita catat juga kondisi ini artinya bahwa sentimen market itu lebih berpengaruh dibandingkan apapun. Oleh karena itu rajin- rajinlah meng-update diri terhadap perkembangan ekonomi dunia dan kira-kira apa yang akan terjadi dan mempengaruhi investasi anda,” kata dia.

Rekomendasi Emiten

Edhi merekomendasikan saham-saham emiten yang layak dikoleksi adalah TLKM yang terkoreksi 13,8% dari level 4.850, BBRI terkoreksi 10,6% dari level 4.980, BBCA terkoreksi 10,8% dari level 8.300, ASII terkoreksi9% dari level 7.700, TOBA terkoreksi 45% dari level 1.890.

Investor juga dapat menilik saham KAEF yang sudah turun 58%, MLPL sudah turun 78% dan ada EXCL yang sudah turun 20%.

“Jadi silahkan saja pilih emiten dengan fundamental yang bagus tapi sudah turun lebih dari 30% silahkan dikoleksi untuk kemudian berinvestasi selama 5 tahun. Dan selalu ingat, pergantian presiden di tahun 2024. Mau tak mau selalu membawa IHSG naik kalau misalnya calon presiden dinilai bagus oleh masyarakat,” terangnya.


 

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN