Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa saham Wall Street, New York, AS. (FOTO: AFP)

Bursa saham Wall Street, New York, AS. (FOTO: AFP)

Wall Street Turun Lagi, S&P 500 Memasuki Tren Bearish

Jumat, 20 Mei 2022 | 07:36 WIB
Grace El Dora (redaksi@investor.id)

NEW YORK, investor.id – Saham Wall Street berakhir dengan lebih banyak koreksi pada Kamis (Jumat pagi WIB) karena upaya untuk rebound dari penurunan di sesi sebelumnya gagal. Sementara itu, kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan masih menjadi sentimen utama pasar.

Sehari setelah indeks utama merosot lebih dari 3%, pasar melemah, namun sesekali naik ke wilayah positif beberapa kali.

Advertisement

S&P 500 turun 0,6% dan sekarang 18,6% di bawah rekor penutupan tertinggi yang dicapai pada awal Januari 2022. Indeks ini juga lebih dari 19% di bawah level tertinggi harian sepanjang masa, yang dicapai awal tahun ini. Pada level ini, indeks benchmark tersebut berada dalam jarak yang sangat dekat untuk memasuki pasar bearish karena didefinisikan oleh banyak orang di Wall Street sebagai penurunan 20% dari level tertinggi dalam 52 minggu.

Tetapi investor tetap khawatir menyusul laporan pendapatan yang dirilis awal pekan ini oleh perusahaan ritel besar, setelah laporan pendapatan tertekan oleh biaya yang lebih tinggi.

“Adalah satu hal ketika ahli strategi membicarakannya. Tetapi itu hal lain, ketika Anda benar-benar mendengar dari perusahaan bahwa mereka mengalami kesulitan dengan harga yang lebih tinggi, tanpa dapat meneruskan (harga yang lebih tinggi kepada konsumen),” kata Quincy Krosby, kepala strategi ekuitas dari LPL Financial, Jumat (20/5). Ia mencatat bahwa pasar masih belum yakin inflasi telah mencapai puncaknya.

Dow Jones Industrial Average berakhir turun 0,8% pada 31.253,13.

S&P 500 berbasis luas turun 0,6% menjadi 3.900,79, sedangkan Nasdaq Composite Index yang kaya teknologi turun 0,3% menjadi 11.388,50.

Saham telah berada di bawah tekanan pekan ini, dengan S&P 500 dan Nasdaq masing-masing kehilangan lebih dari 3% dan Dow jatuh 2,9%. Laporan keuangan kuartalan terbaru dari peritel besar seperti Walmart dan Target meningkatkan kekhawatiran tentang melemahnya basis konsumen dan kemampuan bagi perusahaan untuk menghadapi inflasi yang tinggi selama beberapa dekade. Saham Target dan Walmart turun tajam setelah mengunggah hasil kuartalan mereka minggu ini.

"Sementara banyak arus silang yang menyebabkan aksi jual saat ini, penyebab langsung dari percepatan penurunan saham baru-baru ini berkisar pada kekhawatiran tentang konsumen AS," tulis CIO Glenview Trust, Bill Stone.

“Untuk pertama kalinya dalam periode pasca Covid-19, peritel terjebak dengan beberapa kelebihan persediaan. Biaya akibat inflasi juga membebani pendapatan mereka. Terakhir, ada bukti bahwa konsumen kelas bawah merasakan tekanan dari kenaikan harga,” jelasnya.

Di antara perusahaan individu, Cisco Systems merosot hampir 14% setelah mengumumkan proyeksi penjualan dan laba yang lebih lemah dari perkiraan untuk kuartal mendatang.

Harley-Davidson jatuh 9,2% setelah menangguhkan sebagian besar operasional perakitan dan pengiriman selama dua minggu, karena masalah rantai pasokan yang tidak ditentukan.

Under Armour adalah mencatat penurunan besar lainnya, turun 15,9% setelah mengumumkan bahwa Patrik Frisk akan mundur sebagai CEO karena perusahaan pakaian olahraga itu berjuang dengan masalah rantai pasokan.

Sementara itu, Federal Reserve (The Fed) telah mengisyaratkan akan terus menaikkan suku bunga untuk mencoba meredam lonjakan inflasi baru-baru ini. Awal pekan ini, Gubernur Fed Jerome Powell mengatakan bahwa jika ada pergerakan melewati level netral inflasi yang dipahami secara luas, pihaknya tidak akan ragu untuk melakukan kembali menaikkan suku bunga.

Sikap keras terhadap kebijakan moneter telah memicu kekhawatiran minggu ini bahwa tindakan Fed dapat mengarahkan ekonomi ke dalam resesi. Pada Kamis (19/5), Deutsche Bank mengatakan S&P 500 bisa turun menjadi 3.000 jika ada resesi yang akan segera terjadi. Itu 23% di bawah penutupan Kamis.

Editor : Grace El Dora (graceldora@gmail.com)

Sumber : AFP

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN