Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi CPO. (ICDX)

Ilustrasi CPO. (ICDX)

Larangan Ekspor CPO Dicabut, ‘Drama’ Emiten Sawit Belum Berakhir?

Jumat, 20 Mei 2022 | 08:42 WIB
Paluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Pemerintah telah mengumumkan secara resmi pencabutan larangan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan turunannya mulai Senin 23 Mei 2022. Pembukaan kembali ekspor ini mempertimbangkan kesejahteraan 17 juta orang yang bekerja di sektor perkebunan kelapa sawit.

Lalu, bagaimana dampak pencabutan larangan ekspor tersebut terhadap emiten CPO? Analis RHB Sekuritas Indonesia Hoe Lee Leng menyebutkan bahwa ‘drama’ tentang kebijakan perkebunan kelapa sawit dan CPO di Indonesia belum berakhir. Meski demikian, pencabutan tersebut bisa berimbas positif dalam jangka pendek bagi saham perkebunan di Indonesia.

Baca juga: Pertimbangkan Nasib 17 Juta Pekerja, Presiden Cabut Larangan Ekspor Minyak Goreng

Pencabutan larangan ekspor CPO saat harga minyak goreng curah belum turun sesuai dengan keinginan pemerintah tentu menimbulkan tanda tanya bagi pelaku pasar. Terbuka peluang ada perubahan sejumlah peraturan baru terkait CPO dengan tujuan harga minyak goreng tingkat konsumen sesuai dengan target pemerintah.

“Jika harga minyak goreng curah belum turun ke level yang ditetapkan, pemerintah kemungkinan menempuh kebijakan lain yang bisa berdampak negatif terhadap tingkat profitabilitas emiten perkebunan kelapa sawit dalam jangka panjang,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan hari ini.

RHB Sekuritas menyebutkan larangan ekspor CPO baru dalam beberapa pekan ini hanya mampu menekan harga jual minyak goreng curah turun dari level Rp 19.800 menjadi Rp 17.200-17.600 per liter. Meski suplai minyak goreng pada April melonjak menjadi 211 ribu ton, dibandingkan dengan Maret sebanyak 64.500 ton. Angka tersebut sudah melampaui konsumsi domestik mencapai 194 ribu ton per bulan.

Dia mengatakan, pemerintah bisa saja mengambil kebijakan menaikkan harga jual minyak goreng curah di tingkat konsumen ke level Rp 17.000 dari sebelumnya Rp 14.000, peningkatan pungutan ekspor CPO, bahkan perubahan skema domestic market obligation (DMO) dengan parameter yang lebih ketat.

Baca juga: Harga CPO Ambles saat Larangan Ekspor CPO Indonesia Dicabut

Meski demikian, dia mengatakan, pembukaan kembali kran ekspor CPO dan turunannya tetap menjadi sentimen positif terhadap emiten perkebunan di Indonesia. Sebab, eksporti bisa kembali melanjutkan ekspor. Sedangkan bagi pergerakan harga CPO dunia bisa menjadi sentimen negatif.

Perubahan kebijakan tersebut mendorong RHB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi netral saham perkebunan kelapa sawit. Saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.690 dan saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) direkomendasikan netral dengan target harga Rp 11.770 per saham.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN