Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi kilag minyak
(FOTO: REUTERS / Bing Guan / File)

Ilustrasi kilag minyak (FOTO: REUTERS / Bing Guan / File)

Minyak Terkonsolidasi Dipicu Sinyal Pasar Beragam

Jumat, 20 Mei 2022 | 11:15 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut, harga minyak pada penutupan pekan pagi ini terpantau bergerak terkonsolidasi. Menyusul beberapa katalis positif antara lain sinyal optimisme rencana Shanghai mencabut lockdown, meningkatnya permintaan gas alam di AS, dan isyarat semakin berlanjutnya konflik Ukraina. Namun, di saat yang sama, rencana pemberlakuan sanksi sekunder AS serta potensi tambahan pasokan dari Abu Dhabi memberikan tekanan pada harga minyak.

Tim riset ICDX menjelaskan, ekspektasi pemulihan permintaan bahan bakar di Tiongkok semakin meningkat seiring dengan relaksasi pembatasan yang semakin terlihat di Shanghai. Otoritas kesehatan Shanghai pada hari Kamis melaporkan jumlah kasus baru kurang dari 800 kasus, dan tidak ada infeksi baru yang berasal dari luar area karantina selama lima hari berturut-turut.

Komisi Transportasi Shanghai pada hari Kamis mengumumkan akan membuka kembali empat dari 20 jalur kereta bawah tanah pada hari Minggu. Selain itu, lebih banyak warga kota yang terlihat pergi berbelanja bahan makanan untuk pertama kalinya dalam hampir dua bulan pada hari Kamis.

Baca juga: ICDX Group Gandeng Helixtap Technologies Hadirkan Kontrak Berjangka Karet

Dari AS, tim riset ICDX mengatakan, harga listrik dan gas alam melonjak pada hari Kamis ke rekor tertinggi dalam satu tahun seiring dengan meningkatnya penggunaan AC di beberapa negara bagian untuk menghindari gelombang panas memasuki awal musim semi. Di hari yang sama, Senat AS menyetujui RUU bantuan militer baru untuk Ukraina senilai hampir US$ 40 miliar, yang telah diserahkan ke Gedung Putih untuk ditandatangani Presiden Joe Biden segera.

“Dengan adanya bantuan militer tersebut sekaligus mengisyaratkan potensi terus berlanjutnya konflik di Ukraina,” tulis tim riset ICDX dalam risetnya, Jumat (20/5/2022).

Sementara itu, tekanan pada harga minyak datang dari AS yang mengatakan tidak mengesampingkan kemungkinan menjatuhkan sanksi pada negara-negara yang membeli minyak Rusia, ungkap Menteri Energi AS Jennifer Granholm pada hari Kamis. Namun, Granholm juga menyatakan langkah tersebut belum dilakukan karena masih mempertimbangkan dampaknya pada pasar minyak secara global.

Baca juga: Pitik Dapat Suntikan Dana Rp 206 Miliar dari Alpha JWC Ventures 

Putaran pertama sanksi Barat terhadap Rusia telah menyebabkan kehilangan pasokan sekitar 1,5 juta bph dari pasar global dan rencana UE untuk mengembargo minyak Rusia dan produk olahan dapat mengurangi 1,5 juta bph lagi pada akhir tahun, tambah Granholm.

Turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada hari Kamis pengumuman tiga lokasi ladang minyak baru dengan total kapasitas produksi minyak mentah mencapai 650 ribu bph. ADNOC merupakan perusahaan minyak milik negara UEA, sehingga dari berita tersebut sekaligus mengindikasikan potensi tambahan pasokan dari UEA yang menjadi eksportir minyak terbesar keenam dunia.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 115 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 100 per barel,” tutup tim riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN