Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk (Foto: Investor Daily/Emral)

Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk (Foto: Investor Daily/Emral)

Investasi US$ 50 Juta, Protech Mitra Perkasa (OASA) bakal Bangun Industri Bio PG Pertama di Indonesia

Senin, 23 Mei 2022 | 18:23 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA) tengah mematangkan rencana pembangunan pabrik bio propylene glycol (bio PG) pada 2023. Pabrik bio PG pertama di Indonesia itu bakal menelan investasi  US$ 50 juta atau sekitar Rp 730 miliar (kurs Rp 14.600 per dolar AS).

"Bio PG adalah bahan kimia organik yang secara luas digunakan banyak sektor industri, di antaranya industri farmasi, makanan, kosmetik, dan industri kimia," kata  Presiden Direktur  Protech Mitra Perkasa, Bobby Gafur Umar dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin (23/5).

Advertisement

Bobby  mengungkapkan, keputusan Protech masuk lini industri kimia ini sejalan dengan komitmen perseroan untuk mulai serius ikut menghidupkan industri hijau (green industry).

"Sejak masuk menjadi pengendali utama di Protech Mitra Perkasa, saya memang sudah komit untuk membawa perseroan menjadi salah satu pemain utama yang harus ungggul di bidang energi terbarukan. Sekarang kami memulainya secara serius. Industri yang akan kami jalani ini juga sejalan dengan komitmen ekonomi hijau yang sedang dipacu pemerintah,” ujar dia.

Menurut Bobby Gafur Umar, Indonesia selama ini masih mengimpor fossil-based propylene glycol yang merupakan salah satu produk bahan kimia strategis dan sangat penting bagi banyak produk aneka industri kosmetika, makanan, dan farmasi. Selama ini Indonesia sepenuhnya mengimpor karena belum ada yang memproduksi di dalam negeri. “Padahal, Indonesia memiliki potensi sangat besar sebagai produsen bio PG,” tegas dia.

Bobby menjelaskan, bahan utama pembuatan bio PG pada pabrik perseroan adalah gliserol yang sangat mudah didapatkan karena merupakan produk samping industri biodiesel. Kini, gliserol dimanfaatkan sebagai bahan baku produksi bio PG.

“Biodiesel juga merupakan industri oleokimia yang menghasilkan gliserol. Jadi, ini merupakan industri yang sedang berkembang sangat pesat di Indonesia, sehingga pasokan gliserol sebagai bahan baku pembuatan bio PG mudah didapatkan dan berlimpah,” tutur dia.

30 Ribu Ton Bio PG

Pabrik yang akan mulai dibangun pada 2023 di Pulau Jawa itu, kata Bobby, bakal mampu menghasilkan sekitar 30 ribu ton bio PG per tahun. Produk tersebut akan dipasarkan di dalam negeri dan ekspor. “Sojitz akan menjadi salah satu mitra kami, terutama sebagai distributor, karena mereka sudah punya pengalaman dan jaringan yang sangat luas dalam memasarkan produk-produk semacam ini. Mereka juga sudah siap menjadi off taker-nya,” ucap dia.

Bobby menambahkan, Sojitz telah menyatakan kesanggupannya menyediakan kedua bahan kimia tersebut guna memenuhi kebutuhan produksi Protech Mitra Perkasa. Sojitz bertindak sebagai pemasok glyserin mentah dan refined glyserin atau glyserin yang telah dimurnikan.

Bobby Gafur Umar mengemukakan, Protech Mitra Perkasa yang sejak 2013 memperluas cakupan bisnis ke sektor telekomunikasi dan beberapa tahun setelah itu merambah bisnis energi, termasuk kelistrikan dan energi terbarukan, sejatinya adalah perusahaan berbasis manajemen proyek dan konstruksi terintegrasi.

“Ke depan, kami sudah menetapkan rencana dan telah menyusun cetak-biru bisnis kami, dengan tetap mempertahankan dan terus mengembangkan kegiatan usaha di bidang konstruksi barang elektrikal, telekomunikasi, dan tetap menjadi pemasok utama di sektor energi migas,” tandas dia.

Bobby mengakui, konstruksi barang elektrikal, telekomunikasi, dan energi migas bakal menjadi sektor-sektor bisnis yang digarap perseroan secara serius, terutama sektor energi baru dan terbarukan (EBT). “Kami telah menyiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) seluruhnya dari internal,” ujar Bobby.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN