Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan saham perdananya pada Senin (11/4/2022). Foto: Ist

PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mencatatkan saham perdananya pada Senin (11/4/2022). Foto: Ist

Investasi Jangka Panjang, Potential Loss Telkom (TLKM) di GOTO Hanya Pencatatan Akuntansi

Jumat, 27 Mei 2022 | 13:55 WIB
Parluhutan Situmorang (redaksi@investor.id)

JAKARTA, Investor.id - Investasi pada startup bukanlah investasi investasi portofolio jangka pendek, sehingga tidak bisa dinilai dari pergerakan harga saham semata. Dengan demikian, potensi kerugian (potential loss) dalam investasi ini tidak bisa dijadikan sebagai ukuran kinerja BUMN, apalagi sebagai ukuran salah atau benar sebuah kebijakan.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah Redjalam menjawab polemik isu potential loss investasi PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) di startup decacorn PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).

Advertisement

Baca juga: Bukan Kenaikan Harga Saham, Lalu Keuntungan Apa Yang Dikejar Telkom dari GOTO?

Piter mengatakan di balik investasi di startup ada risiko yang tak kecil. Terutama ketika startup dengan valuasi yang begitu besar sudah melantai di bursa dan melibatkan banyak investor ritel. Valuasi startup tidak sepenuhnya tergambarkan dalam pergerakan harga saham. Faktor sentimen akan ikut atau bahkan dominan mewarnai pergerakan harga saham.

“Risiko pergerakan harga saham start up ketika melantai di bursa ini tentu saja harus dihadapi oleh BUMN yang menjadi investor sejak awal. Harga saham Bukalapak dan Go To yang turun dibawah harga perdana pasti akan memunculkan potensial loss di dalam portofolio mereka. Tetapi hal tersebut seharusnya dilihat sebagai sebuah kewajaran,” ujarnya.

Meski demikian, dia menegaskan, investasi BUMN di perusahaan startup bukanlah investasi jangka pendek. Kepemilikan saham pada startup oleh BUMN bukan untuk dijual segera ketika harganya sudah cukup tinggi.

“Kepemilikan saham startup digital oleh BUMN adalah untuk strategi jangka panjang dalam upaya membangun ekosistem digital di masa depan yang akan memberikan jaminan memenangkan persaingan,” ujarnya.

Dengan dasar tersebut, Piter menegaskan ketika sebuah BUMN melakukan potential profit atau potential loss di investasi startup hendaknya diperlakukan hanya sebagai catatan dalam laporan keuangan, bukan sebagai ukuran kinerja BUMN, apalagi sebagai ukuran salah benar sebuah kebijakan.

Telkom mencatatkan unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan) senilai  senilai Rp 881 miliar dari investasi di GOTO, pada laporan keuangan Kuartal I-2022. Pada tahun sebelumnya, Telkom mencatatkan unrealized gain (keuntungan yang belum direalisasikan) sebesar Rp2,5 triliun. Baik unrealized loss maupun unrealized gain bersifat potensi dan hanya pencatatan akuntansi sesuai dengan tanggal terakhir laporan keuangan.

Menurut Piter, menyalahkan BUMN karena adanya potential loss dari sebuah investasi pada startup digital, akan berdampak buruk bagi masa depan startup di Indonesia. Keterlibatan BUMN dalam perkembangan startup digital akan menurun drastis, dan start up di Indonesia akan kembali bergantung kepada modal asing.

“Startup yang potensial akan kembali dikuasai oleh investor asing. Jangan menjadi penyesalan apabila kelak pasar dan industri digital dikuasai oleh asing karena BUMN dibatasi pergerakannya untuk berinvestasi sejak dini pada startup Indonesia,” ujarnya.

Baca juga: Harga Naik, Saham GOTO Pimpin Top Value dan Top Volume Lagi

Berdasarkan laporan Startup Ranking, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perusahaan startup digital terbanyak ke lima di dunia. Pada tahun 2022 Indonesia memiliki 2.346 startup digital.

Dari banyaknya startup digital tersebut terdapat 10 startup yang sudah tergolong unicorn dan dua diantaranya bahkan sudah menjadi decacorn. Unicorn adalah istilah untuk startup yang memiliki valuasi minimal US$1 miliar atau Rp14,5 triliun (kurs US$1 = Rp14.500). Sementara decacorn adalah startup dengan valuasi minimal US$10 miliar atau Rp 145 triliun.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN