Menu
Sign in
@ Contact
Search
Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

Tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.

Harga CPO Bergerak Mixed di Akhir Pekan

Sabtu, 4 Juni 2022 | 07:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives bergerak mixed pada perdagangan Jumat (3/6/2022).

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Jumat (3/6/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juni 2022 turun 44 Ringgit Malaysia menjadi 6.704 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Juli 2022 terkoreksi 44 Ringgit Malaysia menjadi 6.675 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak pengiriman Agustus 2022 jatuh 15 Ringgit Malaysia menjadi 6.453 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman September 2022 menanjak 8 Ringgit Malaysia menjadi 6.257 Ringgit Malaysia per ton. Serta, kontrak pengiriman Oktober 2022 terdongkrak 36 Ringgit Malaysia menjadi 6.146 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman November 2022 naik 55 Ringgit Malaysia menjadi 6.098 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga: Audit Transparan Perusahaan Sawit Bisa Turunkan HTE Migor Jadi di Bawah Rp 14 Ribu 

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, pergerakan harga CPO pada akhir pekan dipengeruhi seputar perkembangan izin ekspor para eksportir CPO Indonesia dan kinerja ekspor CPO Malaysia. Hal ini mengingat saat pasokan CPO dari Indonesia selaku produsen terbesar pertama dunia dilarang, maka kandidat pengganti yang dilirik oleh pasar pastinya adalah produsen terbesar kedua, yang dalam hal ini adalah Malaysia.

Menurut Yoga, pasca Indonesia mencabut larangan ekspor tersebut, maka ekspor Malaysia berpotensi kembali menurun meskipun tidak secara signifikan, hal ini dikarenakan masih belum semua eksportir CPO Indonesia diperbolehkan untuk melakukan ekspor.

“Selain itu, Malaysia sendiri masih menghadapi masalah tenaga kerja, sehingga dari situasi tersebut dapat berimbas pada penurunan produksi maupun kinerja ekspornya,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, Jumat (3/6/2022).

Baca juga: Inovasi Sawit Penting Untuk Penggunaan Produk Sawit

Yoga menjelaskan, pembukaan lockdown Tiongkok akan sangat berpengaruh terhada permintaan CPO. Hal ini karena Tiongkok merupakan importir CPO terbesar kedua dunia setelah India. Sehingga pembukaan lockdown Shanghai tentunya akan berdampak pada pemulihan ekonomi di Tiongkok, terlebih ekonomi Shanghai merupakan penyumbang pertama terhadap ekonomi Tiongkok secara keseluruhan.

Lebih lanjut Yoga mengatakan, perang Rusia-Ukraina yang makin belum jelas akhirnya, apalagi ditambah banyak dengan embargo-embargo dari UE dan AS, akan semakin membuat harga-harga komoditas semakin melambung. Namun, hal itu juga tergantung pada intervensi dari pasar sendiri. Sebagai contoh, efek dari embargo UE terhadap impor minyak Rusia pada akhir tahun nanti berpotensi mendorong harga minyak semakin melambung.

“Namun, OPEC+ melakukan intervensi yaitu dengan menaikkan produksinya di bulan Juli dan Agustus nanti sebesar 50% lebih tinggi dari produksi bulan Juni. Alhasil, lonjakan harga minyak berhasil teredam sementara ini,” tutup Yoga.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com