Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN).

PGN (PGAS) Tergolong Defensif, Target Harga Sahamnya Baru nih!

Kamis, 23 Juni 2022 | 13:30 WIB
Ely Rahmawati (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN dinilai memiliki kinerja yang defensif pada kuartal I-2022. Sebab harga jual produk gas PGN sekitar 57% lebih murah dibandingkan bahan bakar lainnya.

“Kami berpendapat bahwa PGN harus dianggap sebagai pemain defensif. Selain alasan harga jual yang lebih murah dibandingkan bahan bakar lainnya pada kuartal I-2022, total cakupannya sudah mencapai 63% pada April 2022 dari total volume, sehingga akan membuat produknya menjadi lebih menarik,” tulis analis Trimegah Sekuritas Hasbie dan Willinoy Sitorus dalam risetnya.

Hasbie dan Willinoy menilai, pendapat umum pasar tentang PGAS sebagai saham volatil dan beta saham tinggi tidak lagi relevan, karena betanya telah turun dari 1,4 pada Desember 2021 menjadi 0,94 saat ini. Beta saham adalah indikator untuk mengukur sensitivitas suatu saham terhadap pergerakan pasar secara keseluruhan atau indeks harga saham gabungan (IHSG).

Baca juga: PGAS Usung 3 Proyek Strategis Demi Tekan 5 Juta Ton Emisi Karbon

Selain itu, menurut mereka, eksposur hulu PGN melalui anak usahanya, PT Saka Energi Indonesia, akan memberikan potensi kenaikan harga gas guna menahan kenaikan harga minyak karena sekitar 63% dari volume pengangkatannya didasari pada kontrak terkait indeks.

Meski demikian, pasokan minyak dan gas diperkirakan tetap di bawah tekanan. Hasbie dan Willinoy memprediksi, harga minyak mentah brent hingga Juni 2022 diperdagangkan pada US$ 104 per barel atau naik 59% dibanding tahun lalu.

“Kami berpendapat bahwa kemungkinan harga minyak kurang dari US$ 100 per barel, termasuk rendah, karena terbatasnya pasokan tambahan baru. Di sisi lain, permintaan sangat kuat, terutama di pasar AS (20% global),” jelas Hasbie dan Willinoy.

Adapun kombinasi dari tingkat pengangguran AS yang rendah dan musim panas yang mendekat, telah mempercepat penurunan persediaan minyak. Konfirmasi lain dari harga minyak yang tinggi datang dari pasar keuangan, karena kurva telah berubah menjadi kemunduran. “Oleh karena itu, kami memperkirakan harga minyak pada 2022–2024 menjadi US$ 110/95/85 per barel dan asumsi Henry Hub (gas) sebesar US$ 7/6/5,5 per mmbtu,” ungkap Hasbie dan Willinoy.

Baca juga: Asyik! PGN (PGAS) Bagi-bagi Dividen Rp 124,42 per Saham, Totalnya Rp 3 Triliun

Sementara itu, pemicu pertumbuhan kinerja PGAS terus berlangsung saat ini. Hasbie dan Willinoy memperkirakan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) volume minyak dan gas Saka sebesar 7% pada 2021-2024 karena memproyeksikan lebih banyak volume dari Fasken dan Pangkah, lalu CAGR volume gas distribusi sebesar 6% karena pasca pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pasca Covid-19.

Sedangkan CAGR harga spread gas sebesar minus 6% karena porsi harga khusus yang lebih tinggi dan biaya perpanjangan kontrak yang lebih tinggi dengan blok Corridor. Ini berarti, CAGR EBITDA sebesar 11% untuk periode yang sama dari US$ 842 juta menjadi US$ 1,1 miliar.

Kinerja PGAS sebagian besar didorong oleh Saka, dengan kontribusi EBITDA menjadi 37% pada 2022-2024. Pendapatan Saka Energi dan EBITDA meningkat dari masing-masing US$ 400 juta/260 juta selama 2017-2021 menjadi rata-rata US$ 527 juta/408 juta pada 2022-2024.

Hal ini akan menjadi positif bagi margin EBITDA PGAS karena margin Saka sekitar 77%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan distribusi gas yang mencapai 22%. Kontribusi EBITDA Saka meningkat dari hanya 27% (periode 2017–2021) menjadi 37% (2022–2024). Mengingat terbatasnya pilihan yang tersedia untuk industri hulu migas, PGAS memberikan sesuatu yang unik pada IHSG.

Baca juga: Energi Mega (ENRG) Temukan Minyak Baru 115 Juta Barel di Blok KKS Malacca Strait

Sebab itu, Hasbie dan Willinoy merekomendasikan beli saham PGAS dengan target harga baru Rp 2.300 atau meningkat 40%. Target harga tersebut mencerminkan EV/EBITDA 2022 sebesar 5,96 kali, yang hanya 7% lebih tinggi dari EV/EBITDA 3 tahun ke depan.

“Kami percaya PGAS memiliki banyak ruang untuk penilaian ulang, karena kami yakin pasar belum sepenuhnya memberi harga pada sisi positif dari Saka. Selain itu, kami memperkirakan PGAS menjadi salah satu pesaing utama untuk penyertaan MSCI berikutnya pada 22 November. Risiko utama adalah asumsi harga minyak yang lebih rendah dan cakupan yang lebih tinggi untuk harga gas khusus,” tandas Hasbie dan Willinoy.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN