Menu
Sign in
@ Contact
Search
Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Nikel Terbukti Tangguh, Setangguh Apa Saham Vale Indonesia (INCO)?

Kamis, 23 Juni 2022 | 14:11 WIB
Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diprediksi kinclong pada tahun ini, yang ditopang oleh tingginya permintaan nikel dan bisnis yang solid. Pada kuartal I-2022, perseroan mencetak pertumbuhan laba bersih 100,7% menjadi US$ 67,7 juta dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 33,7 juta.

Dalam risetnya, analis RHB Sekuritas Ryan Santoso mengungkapkan, nikel menjadi komoditas yang terbukti tangguh sejauh ini dan memberikan dampak positif bagi Vale Indonesia. Ini dibuktikan dengan kembali melonjaknya harga nikel setelah sebelumnya terkena guncangan hingga turun 23%, akibat penyesuaian harga harian yang dilakukan London Metal Exchange (LME).

Baca juga: Target Kinerja Direvisi Naik, Begini Prospek Saham Antam (ANTM)

“Meski demikian, saat ini harga nikel kembali meroket pada level US$ 28.000 per ton, lebih tinggi dari harga tahun lalu US$ 21.000 per ton,” tulis Ryan Santoso dalam risetnya.

Pemulihan harga nikel ini sejalan dengan optimisme dari Pemerintah Tiongkok yang menyebutkan bahwa bencana pandemi sudah dapat dikendalikan, sehingga pemerintah memutuskan untuk memangkas suku bunga pinjaman. Di sisi lain, persediaan nikel global juga masih rendah pada level 75.000 ton dari rata-rata kebutuhan 200.000 hingga 400.000 ton.

Sementara itu, performa bisnis Vale Indonesia masih sesuai prediksi. Kinerja keuangan perseroan nantinya didorong oleh harga rata-rata yang lebih tinggi dan berdampak positif pada laba bersih hingga akhir 2022.

Hingga kuartal I-2022, harga jual nikel melesat 25% menjadi US$ 17.400. “Kami melihat outlook kinerja perseroan yang lebih baik dalam beberapa kuartal mendatang, seiring dengan peningkatan harga jual nikel,” terang Ryan.

Baca juga: PGN (PGAS) Tergolong Defensif, Target Harga Sahamnya Baru nih!

Emiten dengan kode saham INCO ini juga didukung oleh sejumlah proyek masa depan, di antaranya pembangunan smelter dengan kapasitas 120 ribu ton per tahun. Proyek ini akan digarap dengan mitra Zhejiang Huayou Cobalt. Smelter tersebut ditargetkan siap beroperasi tahun 2025-2026. Perseroan juga berpotensi mencetak peningkatan iron nickel (Fe-Ni) produksi dari smelter baru Bahodopi.

Ryan menambahkan, kenaikan harga jual nikel tentu akan berimbas terhadap peningkatan margin keuntungan INCO. Apalagi volume penjualan perseroan diperkirakan sebanyak 64-78 ribu ton sepanjang tahun ini. Sedangkan perbaikan tanur perseroan diperkirakan berdampak terhadap volume produksi. “Kami merekomendasikan beli untuk saham INCO dengan target harga Rp 9.000,” sebut Ryan.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com