Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi minyak
sumber: Antara

ilustrasi minyak sumber: Antara

Minyak Kembali Menguat Dipicu Isyarat OPEC+ Pertahankan Komitmen

Jumat, 24 Juni 2022 | 11:15 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Pada penutupan pekan pagi ini, Tim Riset ICDX mengatakan harga minyak terpantau kembali menguat dipicu sentimen dari OPEC+ yang kemungkinan akan mempertahankan komitmen produksinya. Selain itu, belum adanya pernyataan dari produsen energi AS untuk menambah produksi dalam waktu dekat turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut.

Tim Riset ICDX menjelaskan, OPEC dan sekutunya kemungkinan akan tetap mempertahankan kuota produksi yang disepakati dalam pertemuan pada 2 Juni lalu, yaitu menambah produksi sebesar 648 ribu bph pada bulan Juli dan Agustus, ungkap sumber dari OPEC+ pada hari Kamis. “Pernyataan tersebut mengindikasikan tidak akan ada penambahan lebih banyak pasokan dari OPEC+,” tulis Tim Riset ICDX dalam risetnya, Jumat (24/6/2022).

Baca juga: Minyak Turun, Investor Cemas Kenaikan Suku Bunga Fed Rusak Permintaan

Tim Riset ICDX menambahkan, aliansi 23 negara produsen minyak itu dijadwalkan akan bertemu kembali pada 30 Juni. Untuk kebijakan pembatasan kuota produksi OPEC+ yang dijalankan saat ini akan berakhir pada September nanti. Di saat yang sama, Presiden AS Joe Biden berencana mengunjungi Arab Saudi pada pertengahan Juli nanti untuk membahas masalah pasar minyak global.

Turut mendukung pergerakan harga minyak, Tim Riset ICDX menyebut, pertemuan antara tujuh perusahaan penyulingan minyak utama AS dengan Menteri Energi Jennifer Granholm pada hari Kamis belum mencapai kesepakatan apapun terkait langkah untuk menurunkan harga bahan bakar, meski demikian kedua pihak sepakat untuk kembali melanjutkan kembali pembicaraan dan siap untuk bekerja sama, ungkap sumber industri yang mengetahui masalah tersebut.

“Berita tersebut mengisyaratkan tidak akan peningkatan produksi dari para produsen energi AS dalam waktu dekat,” tambah Tim Riset ICDX.

Baca juga: BUMN Didorong Bantu Pemerintah Atasi Masalah Minyak Goreng

Masih dari AS, Tim Riset ICDX menambahkan, dalam laporan yang dirilis Kamis malam oleh badan statistik pemerintah AS, Energy Information Administration (EIA), menunjukkan stok minyak mentah dalam sepekan naik sebesar 1.96 juta barel, kenaikan tersebut diluar dugaan yang sebelumnya memperkirakan stok akan turun sebesar 1.31 juta barel.

Sementara itu, Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban pada hari Kamis mengusulkan agar Uni Eropa (UE) berhenti menambahkan sanksi terhadap Rusia dan sebaliknya mendorong gencatan senjata dan memulai negosiasi. UE sendiri saat ini tengah dilanda krisis energi akibat pengurangan pasokan gas Rusia melalui jalur pipa Nord Stream 1 sejak seminggu terakhir.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 110 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 100 per barel,” tutup Tim Riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN