Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Tahan Banting! IHSG Peringkat 3 di Dunia

Jumat, 24 Juni 2022 | 21:34 WIB
Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Dibanting sana-sini dengan berbagai sentimen eksternal, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga kenaikan suku bunga The Fed, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini terbukti tahan banting.

Secara year to date (ytd), IHSG mampu tumbuh 7,01% ke level 7.042,9 hingga perdagangan Jumat (24/6/2022) atau menempati peringkat 3 di dunia. Peringkat 1 adalah indeks BIST100 (Turki) yang melejit 36,95%. Peringkat 2 yaitu IPSA (Chili) yang melonjak 14,54%.

Advertisement

Sementara itu, DJIA (Amerika Serikat) minus 15,58%. Di Eropa, DAX (Jerman) minus 18,24%, FTSE100 (UK) minus 4,05%, dan CAC40 (Prancis) minus 16,81%.

Baca juga: Hati-hati, 133 Saham Masuk Watchlist Bursa

Di Asia, Nikkei225 (Jepang) minus 7,99%, Shanghai Composite (Tiongkok) minus 7,97%, HSI (Hong Kong) minus 7,17%, dan KOSPI (Korea Selatan) minus 20,52%. Khusus di kawasan Asia Pasifik, IHSG menempati peringkat 1.

Head of Equity Analyst Mandiri Sekuritas Adrian Joezer berpendapat Indonesia lebih resilient menghadapi risiko eksternal. Dia memproyeksikan IHSG dapat mencapai level 7.800 pada akhir 2022.

Menurut Adrian, proyeksi itu didukung oleh sejumlah faktor, antara lain estimasi pertumbuhan laba per saham (earning per share/EPS) di atas 20%, pemulihan pandemi Covid-19 yang semakin baik, serta commodity boom yang diharapkan dapat berujung kepada peningkatan konsumsi.

“Itu akan memicu terjadinya capex cycle dan labor rehiring pada semester II-2022,” jelas dia dalam ulasannya.

Lebih lanjut Adrian mengatakan, faktor yang juga penting adalah ketahanan ekonomi Indonesia terhadap risiko eksternal. Sebut saja neraca perdagangan yang kuat, external debt to GDP sehat, kondisi likuiditas domestik yang baik, dan tingkat inflasi yang masih terjaga meskipun dalam pergerakan yang naik. Kemudian, laba operasional perusahaan tumbuh sebesar 40% (year on year/yoy) pada kuartal I-2022.

Baca juga: Per 27 Juni 2022, BEI Tutup Kode Investor Asing dan Lokal

“Kinerja yang sudah sangat baik ini mengindikasikan bahwa kinerja pada kuartal-II 2022 akan lebih baik, terutama mempertimbangkan data selama Ramadan,” tambahnya.

Dia tidak menampik bahwa volatilitas global masih akan terus berlangsung, namun dengan valuasi saham yang tidak terlalu mahal. “Ditambah lagi, real yield yang masih positif dan tinggi relatif ke negara-negara lain, membuat Indonesia lebih resilient menghadapi risiko eksternal,” tutup Adrian.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN