Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu armada Garuda Indonesia. Foto: DAVID

Salah satu armada Garuda Indonesia. Foto: DAVID

Lebih Detail tentang Skema Penyelesaian Utang Garuda (GIAA)

Selasa, 28 Juni 2022 | 22:52 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memiliki utang senilai Rp 138 triliun yang harus dilunasi. Utang ini berasal dari klaim 365 kreditur dalam proposal perdamaian penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, dalam voting PKPU, sebanyak 347 kreditur atau 95% menyetujui proposal perdamaian dari Garuda Indonesia. Jumlah tersebut merepresentasikan utang Rp 122 triliun, sedangkan 18 kreditur dengan nominal Rp 16 triliun tidak menyetujui hasil PKPU.

Advertisement

"Jadi, ada sekitar Rp 16 triliun (18 kreditur). Mereka yang memiliki utang dan menyatakan tidak setuju, dengan hasil ini dapat dinyatakan bahwa proposal perdamaian dapat diterima oleh mayoritas kreditur," tuturnya di Jakarta, Selasa (28/6/2022).

Ia menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan berbagai skema pembayaran utang yang dikelompokkan berdasarkan sisi kreditur.

Baca juga: Utang Garuda (GIAA) Bakal Susut 81%, Wamen BUMN: Jarang Maskapai Dapat Pemotongan Sebesar Ini

Pertama, utang prioritas dengan skema akan dilunasi secara bertahap melalui arus kas operasional GIAA di dalamnya termasuk pajak dan hak karyawan.

Kedua, piutang PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dilunasi melalui Obligasi Wajib Konversi (OWK) senilai Rp 1 triliun yang kemudian akan dikonversi menjadi ekuitas.

Ketiga, piutang financial lease dari Export Development Canada (EDC) akan diselesaikan melalui penjualan atau pengalihan aset pembiayaan.

"Apabila ada sisa utang akan diselesaikan dengan skema ekuitas baru dan new coupon debt," jelasnya.

Selanjutnya keempat, piutang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), Himbara, dan bank swasta akan dikonversikan menjadi long term loan.

Baca juga: Bakal Ada PMN dan Investor Strategis, Garuda (GIAA) Mau Dua Kali Rights Issue Tahun Ini

Kelima, untuk piutang BUMN akan dikonversi menjadi long term payable. Keenam, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) akan dimodifikasi dengan jadwal pembayaran. Ketujuh, untuk pemegang sukuk, lessor, maintenance repair and overhaul (MRO), serta vendor yang nilai tagihannya di atas Rp 255 juta akan diselesaikan dengan ekuitas baru, new coupon debt, new sukuk, maupun tagihan utang.

Kedelapan, untuk utang dari vendor lain yang nilai uangnya di bawah Rp 255 juta, akan diselesaikan secara bertahap melalui arus kas operasional GIAA.

“Terkait dengan restrukturisasi ini dan kompleksitas yang kita lakukan di dalam proses negosiasi yang tentu saja mengedepankan good corporate govermance dan memastikan bahwa itu dapat diimplementasikan secara optimal, maka kami ingin sampaikan juga ada beberapa restrukturisasi yang kami juga negosiasi penyesuaian dengan skema restrukturisasi," jelas Irfan.

Menurutnya, untuk ke depan, sewa pesawat akan diberlakukan power by hour yakni Garuda hanya akan membayar jika pesawat diterbangkan. Untuk kontrak sewa pesawat narrow body 737 dan 320 akan dilakukan hingga Desember 2022, sementara untuk pesawat jenis wide-body hingga 30 Juni 2023 dan untuk pesawat 777 akan sampai Desember 2023.

Baca juga: PKPU Beres, Garuda (GIAA) Mau Cepat-cepat Tambah Pesawat

"Jadi, secara biaya sewa untuk pesawat narrow-body secara average berhasil menurunkan lease rates sebesar 31% dan untuk wide-body berhasil diturunkan sebesar 55%. Kemudian, yang non-kontak sewa pesawat konversi utang ke ekuitas. Sehingga ekuitas akan disesuaikan dan dapat memberikan tingkat recovery yang sesuai dengan kebutuhan dalam perjanjian baru, surat utang baru," ucapnya.

Kemudian, untuk surat utang baru, skema restrukturisasi surat utang dengan tenor panjang dan tingkat bunga rendah, sementara pinjaman bank dan vendor akan ditentukan dengan tenor yang panjang dan suku bunga kompensasi keterlambatan pembayaran yang lebih rendah.

"LTL dan LTP, pinjaman bank dan tagihan vendor dengan tenor panjang dan tingkat suku bunga atau kompensasi keterlambatan pembayaran yang rendah," ujarnya.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN