Menu
Sign in
@ Contact
Search
Fasilitas peternakan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (Foto: Perseroan)

Fasilitas peternakan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (Foto: Perseroan)

Inilah Menu Pilihan Saham Emiten Unggas, Japfa (JPFA) Paling Lezat?

Kamis, 30 Juni 2022 | 16:09 WIB
Ely Rahmawati (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Emiten di industri perunggasan (poultry) diuntungkan di tengah isu ketahanan pangan global. Pasar daging ayam Indonesia yang kelebihan pasokan (oversupply) membuka peluang ekspor ke sejumlah negara untuk memenuhi ketahanan pangan mereka.

Menurut riset terbaru BRI Danareksa Sekuritas, kondisi kelebihan pasokan daging ayam di Indonesia menciptakan ruang optimisme baru karena memungkinkan swasembada konsumsi ayam dalam negeri, sekaligus berpotensi memanfaatkan pasar ekspor.

“Meski harus diperhatikan pula risiko utama yang perlu diwaspadai, yaitu wabah flu burung,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dalam risetnya.

Menurut Victor, peningkatan inflasi berpotensi menyebabkan kerawanan pangan global. Indeks Harga Pangan FAO/food and agriculture organization (FFPI) rata-rata 157,4 poin pada 22 Mei (+23% yoy) dengan indeks daging rata-rata 122,0 poin (+14% yoy).

Untuk melindungi pasar domestiknya, beberapa pemerintah di beberapa negara telah mengambil kebijakan proteksionis, misalnya larangan ekspor minyak sawit Indonesia, larangan ekspor ayam Malaysia, dan larangan ekspor gandum India.

Baca juga: Presiden Jokowi: G-7 dan G-20 Harus Segera Atasi Krisis Pangan

“Semua kebijakan ini memiliki satu kesamaan, yakni pemerintah negara tersebut berusaha memastikan pasokan domestik aman. Namun, kondisi pasar unggas di Indonesia cukup berbeda, karena berada dalam kondisi kelebihan pasokan,” jelas dia.

Saat ini, ungkap Victor, program ekspor diharapkan bisa menjadi alternatif dari kebijakan pemusnahan dalam mengatasi masalah kelebihan pasokan di pasar domestik. Pemerintah Indonesia hingga kini belum mengeluarkan program pemusnahan pasca Ramadan, yang diyakini merupakan keputusan sulit untuk diambil. Alhasil, untuk mengakhiri kelebihan pasokan tanpa pemusnahan, diperlukan ekspor.

“Secara historis, Indonesia belum mampu mengekspor ayam karena tingginya harga. Namun, kami melihat kesenjangan makin menyempit, dengan harga ayam Indonesia yang lebih kompetitif,” jelas dia.

Di sisi lain, harga jagung domestik, sebagai pakan ternak telah stabil. Meskipun jagung domestik lebih mahal, harganya cenderung mendatar pada Mei 2022 sejak mengalami fluktuasi pada 2021. Sedangkan harga jagung di pasar internasional naik 24% pada periode yang sama. Dengan semakin menyempitnya gap harga jagung, biaya produksi Indonesia menjadi lebih kompetitif.

Victor menyarankan investor tetap mencermati risiko virus flu burung (Avian Influenza/AI). Secara historis, wabah AI telah menjadi dampak negatif utama pada industri unggas karena turunnya permintaan lebih mudah diatasi daripada gangguan kelebihan pasokan.

Wabah baru-baru ini, bagaimanapun telah berdampak lebih pada sisi penawaran dan penjualan daripada sisi permintaan dengan harga unggas yang merangkak naik. Selain Covid-19 dan masalah ketahanan pangan, perbedaan wabah saat ini dan masa lalu adalah jumlah korban manusia.

Sebab itu, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan overweight terhadap saham-saham emiten unggas. Artinya, potensi pertumbuhan bisa lebih tinggi daripada sektor lainnya. Terlebih, saham-saham di sektor poultry saat ini diperdagangkan di bawah penilaian rata-rata lima tahun.

Baca juga: Setor Dividen Rp 1,7 Triliun, Charoen (CPIN) Patok Pertumbuhan Laba 30%

“Kami percaya kelebihan pasokan saat ini tanpa program pemusnahan telah diperhitungkan, dengan kemungkinan dimulainya kembali program pemusnahan atau pemanfaatan pasar ekspor sebagai katalis untuk sektor ini. Risiko utama, menurut pandangan kami, adalah wabah AI di pasar unggas Indonesia. Kami lebih memilih JPFA dibandingkan CPIN dari sudut pandang penilaian,” tandas Victor.

Lebih jauh riset BRI Danareksa Sekuritas memaparkan, kenaikan harga ayam mencerminkan empat faktor berbeda. Ayam adalah daging yang paling banyak dikonsumsi di dunia dan harganya melonjak dalam beberapa bulan terakhir. Menurut Washington Post, ayam utuh eceran di AS berharga US$ 1,79 per pon pada April 2022, harga tertinggi dalam rekor 15 tahun dan sekitar 19% lebih tinggi dari rata-rata 10 tahun.

“Ketika dunia kembali normal setelah pandemi Covid-19, permintaan meningkat lebih cepat daripada produksi. Meskipun waktu produksi ayam lebih cepat daripada jenis protein hewani lainnya, masih diperlukan waktu untuk membangun kembali ke tingkat normal,” sebut Victor.

Di dunia peternakan ayam, varian flu burung telah melanda daerah penghasil utama, Amerika dan Uni Eropa. Hasilnya adalah pemusnahan massal dalam upaya membatasi penyebaran penyakit. Di AS, sekitar 40 juta ayam telah terpengaruh dan dimusnahkan sehingga menyebabkan pasokan berkurang.

Sementara itu, biaya adalah faktor lain. Biaya ayam sangat erat kaitannya dengan pakan yang digunakan untuk penggemukan. Jagung, bungkil kedelai, dan gandum adalah bahan pakan unggas utama, telah meningkat harganya secara perlahan. Siklus La Nina, yang biasanya membawa kondisi kering dan hasil pertanian yang lemah ke daerah penanaman jagung di AS dan Amerika Selatan, saat ini memasuki tahun ketiga berturut-turut.

Menu Saham

Di lain pihak, analis Ciptadana Sekuritas Asia Michael Filbery mengungkapkan, prospek emiten poultry masih positif hingga paruh kedua tahun ini. Kinerja emiten dari segmen pakan ternak dan broiler masih bisa tumbuh positif pada kuartal II-2022.

"Kinerja untuk segmen pakan ternak didukung oleh penyesuaian harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sejak kuartal pertama I-2022," tulis Michael dalam risetnya.

Namun, dia memperkirakan masih ada potensi tekanan kinerja dari penjualan ayam usia sehari (day old chicken/DOC) lantaran harganya yang menurun. Menurut Michael, kenaikan harga broiler dan feed (pakan ternak) cukup baik menunjang kinerja emiten poultry, tapi perlu dicermati juga tekanan inflasi belakangan ini yang berpotensi menekan daya beli konsumen.

"Karena meskipun bisa passing higher cost ke harga jual rata-rata (ASP), para integrator tetap mempertimbangkan daya beli konsumen juga. Sehingga risiko inflasi yang datang lebih tinggi dari ekspektasi dapat mempersempit margin emiten poultry," papar Michael.

Baca juga: 2022, Japfa Comfeed (JPFA) Siapkan Capex Rp 2 T

Dari jajaran saham emiten poultry, saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi pilihan teratas (top pick). Menurutnya, saham JPFA menarik didukung oleh kinerja earnings pada kuartal pertama 2022 yang melampaui ekspektasi dan kinerja penjualan yang solid.

Sepanjang kuartal pertama tahun ini, JPFA mencatatkan penjualan bersih Rp 12,14 triliun atau naik 12,61% dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 10,78 triliun. Namun, beban pokok juga ikut naik, sehingga laba bersih JPFA tercatat Rp 603,73 miliar atau lebih rendah dari kuartal pertama tahun lalu yang Rp 858,66 miliar.

Selain itu, dia menilai, saham JPFA juga menawarkan potensi upside yang lebih tinggi dibandingkan beberapa emiten poultry lainnya. Untuk itu, dia merekomendasikan buy saham JPFA dengan target harga di Rp 2.000.

Michael juga memberikan rekomendasi buy saham PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) dengan target harga Rp 760. Sedangkan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) disarankan hold dengan target harga Rp 5.000.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com