Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Petani menunjukkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/2/2022).  Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Petani menunjukkan buah sawit di perkebunan kelapa sawit di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/2/2022). Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Tren Bearish Masih Bercokol, Harga CPO Kembali Rontok

Sabtu, 2 Juli 2022 | 07:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali rontok pada perdagangan Jumat (1/7/2022). Tren bearish masih bercokol karena kekhawatiran atas data ekspor yang lebih lemah.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Jumat (1/7/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juli 2022 turun 202 Ringgit Malaysia menjadi 4.886 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Agustus 2022 jatuh 207 Ringgit Malaysia menjadi 4.776 Ringgit Malaysia per ton.

Advertisement

Sementara itu, kontrak pengiriman September 2022 terkoreksi 202 Ringgit Malaysia menjadi 4.708 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Oktober 2022 menurun 203 Ringgit Malaysia menjadi 4.691 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga:Kuartal I-2022, Sawit Sumbermas (SSMS) Catat Pertumbuhan Laba 468,38%

Serta, kontrak pengiriman November 2022 anjlok 202 Ringgit Malaysia menjadi 4.8701 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 terpeleset 203 Ringgit Malaysia menjadi 4.720 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, sejauh ini sebagian besar katalis yang ada di pasar masih cenderung menjadi sentimen negatif bagi pergerakan harga CPO. Fokus utama pasar juga akan tertuju pada rilis data ekspor CPO Malaysia bulan Juni, pajak ekspor bulan Juli baik di Malaysia maupun di Indonesia, dan perkembangan uji coba program B40.

Pada pekan depan, Yoga menambahkan, indikator yang akan dipantau adalah data ekspor CPO Malaysia periode awal Juli, dan perkembangan program B40 di Indonesia. “Apakah benar-benar dijalankan atau tidak karena hal ini akan berdampak pada pasokan CPO Indonesia ke pasar CPO global,” paparnya.

Baca juga: Buyback Obligasi Global, Sawit Sumbermas (SSMS) Dapat Pinjaman Rp 3,6 Triliun

Menurut Yoga, tren permintaan akan tergantung dari kebijakan ekspor dari negara produsen utama yaitu Indonesia dan Malaysia terutama mengenai pajak ekspor yang akan dikenakan. Selain itu, kebijakan bea masuk dari negara importir utama seperti India juga akan berdampak pada laju permintaan CPO global.

Untuk pasar minyak kedelai, katalis yang ada di pasar sejauh ini masih cenderung berdampak positif pada pergerakan harga minyak kedelai. "Antara lain ancaman cuaca panas di AS dan lonjakan harga pupuk yang dipicu oleh konflik Ukraina,” tutup Yoga.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN