Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Area pertambangan milik PT PAM Mineral Tbk. (Foto: Ist)

Area pertambangan milik PT PAM Mineral Tbk. (Foto: Ist)

Prospek Bisnis Baterai Listrik, PAM Mineral (NICL) Genjot Produksi Nikel

Rabu, 6 Juli 2022 | 13:43 WIB
Thresa Sandra Desfika (thresa.desfika@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Emiten pertambangan nikel PT PAM Mineral Tbk (NICL) akan meningkatkan kegiatan eksplorasi dan produksi di tahun ini seiring dengan pertumbuhan kinerja perusahaan dan tingginya kebutuhan nikel, terutama untuk industri manufaktur, konstruksi, dan bahan baku produksi baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

PAM Mineral akan menggenjot produksi dan eksplorasi untuk menambah inventory atau cadangan yang berkelanjutan, dengan total target penjualan 1,5 juta ton bijih nikel, naik dari target 2021 sebanyak 1,3 juta ton.

Advertisement

Baca juga: Agung Menjangan (AMMS) Mau IPO, Buka Harga di Rp 100-150

Target tahun ini terdiri dari 900.000 ton bijih nikel kadar tinggi (high grade, kandungan 1,5-1,75% Ni) dan 600.000 ton bijih nikel kadar rendah (low grade, kandungan di bawah 1,5% Ni). Khusus untuk kategori high grade hasil produksi NICL berhasil terjual habis sesuai dengan kontrak dengan pelanggan.

Pada 2024, guna memperluas jangkauan pemasaran dan ikut menghasilkan Mix Hydroxide Precipitate/MHP (bahan baku pembuatan katoda baterai), NICL juga menargetkan penjualan 920.000 ton bijih nikel kadar tinggi.

Direktur Utama PAM Mineral Ruddy Tjanaka
 mengatakan kebutuhan nikel mulai intensif dalam perkembangan industri hulu-hilir saat ini.

“Kondisi ini membuat kami lebih optimistis ke depan ini akan ada nikel beserta turunannya yang akan menjadi salah satu primadona dari penggerak ekonomi Indonesia,” kata Ruddy usai paparan publik setelah rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), Rabu (6/7/2022).

Dalam jangka panjang, kata Ruddy, prospek industri pertambangan dan produksi nikel akan positif lantaran tingginya kebutuhan nikel. Adapun saat ini, produksi NICL berasal dari dua entitas, yaitu dari pertambangan NICL sendiri dan PT Indrabakti Mustika (IBM), anak usaha NICL dengan kepemilikan langsung NICL 99,05% saham.

Menurut Ruddy, prospek bisnis NICL akan ditopang oleh prospek tingginya permintaan bijih nikel kadar tinggi, terutama karena industri pengolahan (smelter). Hadirnya industri baterai nasional, seiring tumbuhnya smelter dengan teknologi hydrometalurgi, juga akan mendorong kinerja NICL dengan diserapnya nikel kadar rendah.

Baca juga: Adhi Karya (ADHI) Lunasi Obligasi Jatuh Tempo Rp 3,5 Triliun

Apalagi, menurut riset BloombergNEF, adopsi kendaraan listrik akan tumbuh dalam jangka panjang. Data Badan Energi Internasional (IEA) juga mengungkapkan EV menyumbang 2% lebih dari penjualan mobil global dan akan menjadi 58% di 2040.

Data terbaru Ev-volume.com mencatat, hingga Desember 2021, penjualan EV tembus 6,75 juta unit, naik 118% dari 2020 hanya 3,1 juta unit. “Ini mengindikasi adanya peningkatan permintaan nikel untuk komponen baterai Nickel Metal Hydride untuk mengoperasikan kendaraan listrik,” kata Ruddy.

Editor : Theresa Sandra Desfika (theresa.sandra@investor.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN