Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit. Foto: BeritaSatu Photo/Defrizal

Kebun Sawit. Foto: BeritaSatu Photo/Defrizal

Harga CPO Terkoreksi Dalam Hingga ke Zona 4.000 Ringgit Malaysia per Ton

Kamis, 7 Juli 2022 | 06:21 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives makin terkoreksi dalam hingga ke zona 4.000 Ringgit Malaysia per ton pada perdagangan Rabu (6/7/2022). Angka itu merupakan yang terendah dalam tahun ini, setelah mengalami pelemahan dalam empat hari berturut-turut.

Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan Selasa (5/7/2022), kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Juli 2022 anjlok 126 Ringgit Malaysia menjadi 4.073 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Agustus 2022 jatuh 126 Ringgit Malaysia menjadi 4.067 Ringgit Malaysia per ton.

Advertisement

Sementara itu, kontrak pengiriman September 2022 terkoreksi 119 Ringgit Malaysia menjadi 4.055 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Oktober 2022 turun 113 Ringgit Malaysia menjadi 4.068 Ringgit Malaysia per ton.

Baca juga: Cegah Kampanye Negatif Sawit, Mahasiswa Didorong jadi Duta Sawit

Serta, kontrak pengiriman November 2022 merosot 101 Ringgit Malaysia menjadi 4.100 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak pengiriman Desember 2022 jatuh 102 Ringgit Malaysia menjadi 4.138 Ringgit Malaysia per ton.

Research & Development ICDX Girta Yoga mengatakan, sentimen negatif masih membayangi pergerakan harga CPO pada pekan ini. Yoga menjelaskan, sentimen negatif tersebut bakal berasal dari rilis data ekspor CPO Malaysia bulan Juni. Hal ini akan mengggambarkan permintaan dari negara importir. Selain itu, tren permintaan juga akan tergantung dari kebijakan ekspor dari negara produsen utama yaitu Indonesia dan Malaysia terutama mengenai pajak ekspor yang akan dikenakan.

“Ditambah lagi, kebijakan bea masuk dari negara importir utama seperti India juga akan berdampak pada laju permintaan CPO global,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, belum lama ini.

Baca juga: Generasi Milenial Didorong Ekspor Sawit dan Produk Turunannya

Meski demikian, Yoga menegaskan masih ada potensi untuk tren bearish ini berbalik apabila mendapat katalis positif di pasar, yaitu Indonesia yang akan memulai program uji coba biodiesel B40 pada bulan Juli nanti. Sebab, hal ini akan berdampak pada pasokan CPO Indonesia ke pasar CPO global.

Ditambah lagi, pasar minyak kedelai sejauh ini masih cenderung berdampak positif pada pergerakan harga minyak kedelai. “Antara lain ancaman cuaca panas di AS dan lonjakan harga pupuk yang dipicu oleh konflik Ukraina,” tambah Yoga.


 

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN