Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
ilustrasi minyak
sumber: Antara

ilustrasi minyak sumber: Antara

Sanksi AS Pada Pembeli Minyak Iran Bebani Harga Emas Hitam

Kamis, 7 Juli 2022 | 13:00 WIB
Indah Handayani (handayani@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Tim riset ICDX menyebut, pergerakan harga minyak mentah masih dalam tren menurun pasca dirilisnya laporan API dan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap pembeli minyak Iran. Meski demikian penegasaan AS akan sanksi terhadap Iran dan perkembangan kasus Covid-19 Tiongkok membatasi penurunan harga lebih lanjut.

Dalam laporan terbaru yang dirilis oleh American Petroleum Institute (API), menunjukan kenaikan stok minyak mentah AS dalam sepekan sebesar 3.83 juta barel. Laporan API ini mengindikasikan permintaan yang sedang lesu di pasar energi AS. “Namun pasar masih menantikan angka resmi dari pemerintah yang akan dirilis malam nanti,” tulis Tim riset ICDX dalam risetnya, Kamis (7/7/2022).

Advertisement

Baca juga: Minyak Jatuh ke Terendah 12 Minggu di Tengah Ketakutan Resesi Global

Masih dari AS, Tim riset ICDX mengatakan, pada Rabu kemarin Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi terhadap jaringan perusahaan Tiongkok, Emirat, dan perusahaan lain yang dituduh membantu pengiriman dan penjualan produk minyak dan petrokimia Iran ke Asia Timur. Dengan dikeluarkannya sanksi AS terhadap Iran ini berpotensi membuat para pembeli menghindari minyak dari Iran.

Meski demikian, Wakil Mentri Keuangan Brian Nelson mengatakan AS berkomitmen untuk mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mematuhi kesepakatan nuklir 2015. AS juga akan terus menggunakan semua otoritas untuk menegakan sanksi atas penjualan minyak bumi dan petrokimia Iran. “Pernyataan AS tersebut mengindikasikan Iran masih belum dapat menjual minyaknya secara penuh dalam waktu dekat,” tambah Tim riset ICDX.

Baca juga: Saham Mitsui dan Mitsubishi Jatuh Setelah Komentar Mantan Presiden Rusia Soal Pasokan Minyak dan Gas Rusia ke Jepang

Turut mendukung pergerakan harga lebih lanjut, Komisi kesehatan nasional Tiongkok melaporkan 409 kasus Covid-19 baru pada 6 Juli dimana diantaranya 124 bergejala dan 285 tidak menunjukan gejala, angka ini lebih rendah dari hari sebelumnya sebesar 427. Penurunan kasus Covid ini memicu harapan akan dilonggarkannya pembatasan dibeberapa wilayah Tiongkok saat ini, yang sekaligus meningkatkan potensi meningkatnya kembali permintaan di negara importir minyak terbesar pertama dunia tersebut.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 105 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 90 per barel,” tutup Tim riset ICDX.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN