Menu
Sign in
@ Contact
Search
COO Tokocrypto sekaligus Ketua Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh K Harmanda di acara Beritasatu Next Gen Fest 2022 sesi “Is It Too Late To Buy Cryptocurrency?”, Kamis (14/7/2022).

COO Tokocrypto sekaligus Ketua Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh K Harmanda di acara Beritasatu Next Gen Fest 2022 sesi “Is It Too Late To Buy Cryptocurrency?”, Kamis (14/7/2022).

Aman dan Menjanjikan, Guys… Belum Telat nih Investasi di Kripto

Kamis, 14 Juli 2022 | 17:38 WIB
Lona Olavia (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Berinvestasi di instrumen aset kripto menjadi salah satu pilihan yang wajib dimiliki bagi kalangan milenial saat ini. Apalagi, aset kripto sekarang sudah memiliki dasar hukum yang pasti.

Seperti diketahui, pengaturan aset kripto sebagai komoditas diatur pada Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 99 Tahun 2018 tentang Kebijakan Umum Penyelenggaraan Perdagangan Berjangka Aset Kripto dan Peraturan Teknis Bappebti No.5 tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka, serta Peraturan Bappebti Nomor 8 Tahun 2021 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto. Bahkan, perdagangan aset kripto sudah terkena Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta Pajak Penghasilan (PPh). Hal ini menjadikan sama seperti investasi di komoditas lainnya.

COO Tokocrypto sekaligus Ketua Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) Teguh K Harmanda yang akrab disapa Manda mengatakan, kehadiran kripto di setiap negara berbeda. Namun, di Indonesia perkembangannya saat ini sudah cukup cepat.   

Bitcoin (BTC) sendiri sebagai salah satu mata uang kripto paling populer di dunia sudah ada sejak tahun 2009 dan menghadapi gejolak di tahun 2016-2017.

“Sama sekali tidak telat, saat ini masih early adopter di industri kripto dan kripto mempunyai market yang sangat luas sekali di Indonesia,” ujarnya di acara Beritasatu Next Gen Fest 2022 sesi “Is It Too Late To Buy Cryptocurrency?”, Kamis (14/7/2022).

Baca juga: Bitcoin dan Kripto Lainnya Terbang saat Data Inflasi AS Meroket

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat transaksi aset kripto tembus Rp 212 triliun hingga Juni 2022, dengan jumlah pelanggan mencapai 14,58 juta orang. Di mana, untuk jumlah pelanggan berdasarkan data Aspakrindo 67% didominasi oleh usia 16-34 tahun. Lalu, dari data Bappebti ada 25 pedagang kripto yang terdaftar.

Ia pun berpesan kepada kaum muda yang tertarik terjun di kripto untuk lebih bijak dalam berinvestasi. Misalnya saja, sebagai investor jangan hanya melihat dari sisi keuntungan atau cuan semata. Tapi juga harus memahami analisa teknikal dan strateginya. Lalu pemilihan kripto bergantung pada referensi dan profil risiko masing-masing individu,

Risk profile sudah absolut untuk kita ketahui, itu diperlukan supaya tidak salah pilih instrumen mana yang akan diambil. Jangan FOMOPelajari juga profil-profil aset kripto untuk melihat profil dan fundamentalnya, dipelajari white paper atau litepaper-nya sebagai bahan analisa. Serta, yang terpenting pakai uang dingin, bukan uang untuk pendidikan, kesehatan, bahkan pinjol,” tegas ia.

Tidak kalah penting, masyarakat, kata Manda, juga harus memastikan calon pedagang fisik aset kripto memiliki tanda daftar sebagai calon pedagang fisik aset kripto dari Bappebti. Pahami dan kenali dulu seluk-beluk berinvestasi di aset kripto.

”Dapat dikatakan hampir tidak ada instrumen investasi yang tidak berisiko atau risk free, maka dari itu menjadi penting sebagai investor boleh paham dengan kadar risikonya, dan betul-betul mempelajari industrinya,” jelas Manda.

Manda menghimbau agar para investor tidak melihat industri aset kripto hanya dari 'angka atau bisnis' saja, tapi lihat lebih jauh tentang teknologinya, bagaimana teknologi blockchain bisa menjadi solusi finansial dan mewujudkan cita-cita nya Indonesia sebagai salah satu negara digital terbesar di Asia.

Baca juga: Menunggu Bursa Kripto

“Kripto atau teknologi blockchain jadi sesuatu hal yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya. Kita harus bisa menerima dalam pengertian bisa adaptasi untuk penggunaan secara baik untuk teknologi. Jangan lihat harga naik harga turun saja, tapi penggunaannya. No worries kalau tidak masuk sekarang, tapi suatu saat pasti akan masuk, yang membedakan hanya dari segi benefit-nya. Orang yang masuk di awal akan dapat keuntungan lebih banyak, bukan berarti dari segi materi semata, tapi juga pengetahuan dan lainnya. Karena semuanya akan ter-blockchain pada waktunya,” jelas Manda.

Di sisi lain, terkait kelesuan kripto, dia meyakini kelesuan pasar kripto ini hanya sementara. Perlu ditekankan anjloknya market tidak hanya terjadi di kripto saja, tapi juga di pasar saham global yang berjuang untuk rebound kembali.

Belakangan ini pasar kripto mulai lesu karena ketidakpastian makroekonomi, agresivitas The Fed hingga kegagalan sistem ekosistem kripto itu sendiri. Investor bahkan meyakini tidak melihat harga naik dalam waktu dekat, kecuali perubahan tak terduga terjadi.

Kondisi pasar saat ini hanya koreksi sementara. Fase bearish yang tengah melanda, bahkan menurutnya ini justru baik dan sehat untuk industri. Kondisi ini bisa seperti seleksi alam, mana proyek kripto yang punya fundamental dan utilitas yang baik dan tidak. Sehingga peluang untuk yang tumbuh lebih besar di masa mendatang.

Baca juga: BI Ungkap 20 Ribu Jenis Aset Kripto Beredar di Seluruh Dunia

“Terkait masalah kapan akan rebound ada dua perspektif, jika dikaitkan dengan siklus 4 tahunan Bitcoin, di mana butuh kurang lebih 4 tahun setelah ATH yaitu pada November tahun 2021 lalu, mungkin BTC akan comeback di 2023 akhir atau 2024. Saat ini BTC sedang mengalami masa koreksi yang belum sampai titik bottom yang diperkirakan akan sampai level US$ 11.000 (Rp 165 juta),” jelas Manda.

Tambah ia, tapi juga harus lihat dari sisi inflasi dan makroekonomi, karena korelasi kripto dan pasar saham AS itu setahun belakangan sangat erat. Secara keseluruhan pertumbuhan market masih menunggu kelonggaran suku bunga acuan The Fed dan inflasi yang menurun, meredanya konflik geopolitik, serta faktor makroekonomi lainnya.

Selain itu, peran investor institusi yang tetap percaya dan mengakumulasi kripto sebagai dana cadangan bisa membuat market kripto bergerak tumbuh. Apabila The Fed mampu menekan inflasi AS hingga 2%-3% dari posisi sekarang 8,6%, maka niscaya saham dan kripto akan kembali bull run.

Editor : Lona Olavia (olavia.lona@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com