Menu
Sign in
@ Contact
Search
Trader memperhatikan pergerakan harga saham melalui ponselnya. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Trader memperhatikan pergerakan harga saham melalui ponselnya. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Semester II, Saham-saham Ini Paling Dijagokan!

Minggu, 17 Juli 2022 | 19:09 WIB
Zsazya Senorita (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Mirae Asset Sekuritas memilih sejumlah saham unggulan, yaitu UNVR, ICBP, INDF, PTBA, ITMG, ADRO, UNTR, dan SMDR. UNVR dan ICBP menjadi saham pilihan Mirae yang baru pada semester II-2022, menggantikan ASII dan AUTO.

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Hariyanto Wijaya menjelaskan, saham-saham dari sektor consumer non-cyclicals dipilih karena harga komoditas agrikultur seperti kopi, gandum, gula, hingga CPO turun cukup dalam sejak Juni 2022. Bahkan ia menyebut, harga CPO turun ke level 4.000 ringgit Malaysia per ton dari sebelumnya 7.000 ringgit Malaysia per ton.

“Ini bagusnya untuk consumer non-cyclicals. Komoditas itu adalah barang material penting bagi consumer goods seperti Mayora (MYOR) atau ICBP maupun INDF yang menggunakan komoditas agrikultur ini dengan signifikan,” ungkap Hariyanto kepada Investor Daily.

Ia meyakini kinerja UNVR juga akan terpengaruh karena produknya banyak menggunakan bahan turunan CPO. Dengan demikian, turunnya harga CPO dipercaya akan membuat biaya produksi UNVR turun pada kuartal selanjutnya karena penurunan harga produk agrikultur terjadi sejak bulan lalu.

Baca juga: Arah IHSG Awal Pekan, Plus Saham Pilihan

Ditambah, emiten-emiten consumer non-cyclicals terpantau telah menaikkan harga jual dalam enam bulan terakhir, seperti ICBP yang sudah menaikkan harga jual produk sekitar 12-14% (ytd) sampai Juni 2022. Mirae pun memprediksi pertumbuhan laba bersih ICBP akan naik pada kuartal III dan IV tahun ini.

Dengan harga jual lebih tinggi dan biaya produksi lebih rendah pada kuartal selanjutnya, Hariyanto menilai margin laba operasional dan pendapatan emiten-emiten tersebut akan meningkat sehingga prospek sahamnya tergolong bagus. “Makanya kami masukan consumer non-cyclicals karena terlihat ada normalizing agriculture prize. Ini bagus untuk pendapatan emiten pada kuartal selanjutnya,” imbuh dia.

Pilihan saham pada sektor tersebut juga didukung oleh perdagangan saham oleh investor asing, yang menurut Hariyanto belum memperlihatkan outflow hingga pertengahan Juli 2022 (ytd). Berbeda dengan saham-saham sektor keuangan, yakni BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI yang telah menunjukkan foreign fund outflow sejak Mei 2022 hingga pertengahan bulan ini.

Merujuk data yang dirangkum Mirae Asset Sekuritas, foreign fund flows di sektor keuangan dari Januari 2022 hingga pertengahan bulan ini masing-masing per bulan adalah Rp 5 triliun, Rp 10,5 triliun, Rp 6,6 triliun, Rp 7,35 triliun, Rp -5,48 triliun, Rp -2,98 triliun, dan Rp 2,57 triliun.

“Kami percaya outflow ini bisa berlanjut sampai kuartal III-2022. Makanya walaupun kami suka dengan sektor finansial karena laba bersihnya bagus, kami prefer mulai mengakumulasi pada kuartal IV-2022. Karena menurut kami, sulit melawan tren outflow dari investor asing,” jelas Hariyanto.

Baca juga: Masih Didominasi Milenial dan Gen Z, Jumlah Investor Saham Tembus 4 Juta di Semester I

Menurut dia, investor asing sebelumnya melihat harga tiga komoditas unggulan Indonesia bagus, namun harga CPO dan nikel justru merosot pada Juni 2022. Tersisa batu bara, yang harganya juga masih diyakini akan naik ke depan.

“Tapi satu hal yang konsisten, investor asing itu mengakumulasi saham-saham sektor non-cyclicals. Ini yang jadi sektor unggulan kami untuk semester II-2022,” tandas Hariyanto.

Mirae Asset Sekuritas mencatat, arus investasi asing di sektor consumer non-cyclicals sejak Januari-Juli (ytd) masing-masing sebesar Rp 545 miliar, Rp 889 miliar, Rp 645 miliar, Rp 1 triliun, Rp 1,4 triliun, dan Rp 630 miliar.

Hariyanto pun menargetkan harga saham UNVR mampu menembus Rp 5.500, sementara target harga saham ICBP di level Rp 10.925. “Target harga itu make sense ketika earnings tumbuh. UNVR salah satu top pick yang saat ini harganya sangat murah,” ujarnya.

Selain consumer non-cyclicals, Mirae memilih sektor pertambangan terutama batu bara, sektor keuangan untuk diakumulasi pada kuartal IV-2022, serta sektor industri yang berkaitan rantai pasok batu bara. Di sektor industri, Hariyanto merekomendasikan saham UNTR karena pembelian alat berat diprediksi meningkat, mengikuti kebutuhan produksi batu bara yang juga meningkat untuk memenuhi permintaan global.

Baca juga: Bersiap! Bukalapak (BUKA) Bisa Membalikkan Ekspektasi Investor

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Juan Harahap menambahkan, prospek saham batu bara seiring dampak perang Rusia-Ukraina yang membuat negara-negara di Eropa akan melarang batu bara Rusia pada Agustus 2022. Hal ini diprediksi akan menimbulkan disrupsi pasokan batu bara pada semester II-2022. Jepang juga mulai menerapkan embargo dan larangan batu bara Rusia.

“Ini akan menarik karena Jepang dan Eropa akan mencari destinasi baru untuk mengamankan pasokan energi mereka. Semester II-2022 adalah winter season, jadi harus cepat mencari pasokan energi,” ungkap Juan.

Peluang ini dinilai cukup besar bagi emiten batu bara Indonesia karena persentase kontribusi batu bara Rusia di pasar global cukup besar, yakni 15%. Sementara, Jepang menjadi importir batu bara sebesar 10% dari skala dunia. Juan memprediksi, nantinya negara yang akan diuntungkan adalah indonesia dan Australia sebagai produsen batu bara terbesar di dunia.

“Selain dari harga batu bara yang lebih tinggi, kami melihat potensi kenaikan berasal dari produksi yang lebih tinggi dari penambang batu bara,” sambung dia.

Disebutkan bahwa manajemen ADRO dan PTBA menargetkan peningkatan volume produksi masing-masing menjadi 59 juta ton (+12% yoy) dan 36 juta ton (+21% yoy). Sementara itu, manajemen ITMG memperkirakan akan melihat sedikit peningkatan volume produksi sebesar 19 juta ton (+1,6% yoy) tahun ini.

Di sisi lain, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2022 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), ada skema pajak progresif baru untuk Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) yang merupakan perpanjangan dari kontrak batu bara generasi pertama. Dengan skema baru, tarif pajak royalti batu bara direvisi naik dari 13,5% saat ini menjadi kisaran 14%-28%, tergantung pada Harga Batubara Acuan (HBA) Indonesia.

Selain itu, tarif pajak efektif turun menjadi 22% dari sebelumnya 45%. Pemerintah juga memberlakukan skema bagi hasil 10% yang akan dipotong dari laba bersih penambang batu bara. “Dalam pantauan kami, ADRO akan paling terpengaruh karena kontrak PKP2B-nya akan berakhir pada Oktober 2022, sedangkan PKP2B ITMG akan berakhir pada 2028. Adapun PTBA tidak akan terpengaruh karena semua kontrak berada di bawah IUP,” jelas Juan.

Mirae memperkirakan, ketika harga batu bara seperti sekarang di atas US$ 300 per ton, laba bersih emiten batu bara akan naik dibandingkan saat penerapan peraturan lama. Juan memprediksi, peraturan baru akan menurunkan laba bersih ADRO bila harga batu bara di level US$ 80-120 per ton. Namun, saat harga batu bara turun ke level US$ 60-80 per ton, peraturan baru akan menghasilkan laba bersih yang lebih besar dibandingkan peraturan lama.

Baca juga: Ekonomi Dunia Melambat, Bagaimana Dampaknya pada Adaro Minerals (ADMR)?

“Batu bara masih akan menarik sampai semester II-2022. Kami pilih ADRO karena selain melakukan peningkatan produksi signifikan, kami juga melihat pasar tertarik dengan rencana ADRO diversifikasi ke bisnis bauksit dan lainnya,” sambung Juan.

Ia pun memprediksi harga saham ADRO, ITMG, dan PTBA masing-masing bisa mencapai Rp 3.950, Rp 39.400, dan Rp 4.500. Pada perdagangan Jumat (15/7/2022), tiga saham tersebut ditutup masing-masing pada harga Rp 2.760, Rp 33.000, dan Rp 3.940.

Dengan demikian, ADRO masih berpeluang mencetak gain sebesar 43%, ITMG sebesar 19,4%, dan PTBA sebesar 14,2%.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com