Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Foto: PTKS

Produk baja PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. Foto: PTKS

30% Saham Anak Usaha KS untuk Investor Strategis, Publik 20%

Senin, 5 Juli 2021 | 14:02 WIB
Lona Olavia

JAKARTA, investor.id – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) atau KS siap melepas 20-30% saham anak usahanya, PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) yang akan berganti nama menjadi PT Krakatau Sarana Infrastruktur, kepada investor strategis. Setelah itu, perseroan akan menawarkan 20% saham Krakatau Sarana Infrastruktur kepada publik melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO).

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, Krakatau Sarana Infrastruktur bakal terlebih dahulu ditawarkan ke investor strategis pada Agustus-September 2021, sebelum dilepas ke pasar modal. Dalam hal ini, Indonesia Investment Authority (INA) menjadi lead strategic investor yang dibidik dalam rencana tersebut. “Untuk alokasi strategic investor porsinya 20-30%, untuk IPO sekitar 20%,” kata dia kepada Investor Daily.

Silmy menegaskan, dengan mempertimbangkan nilai aset Krakatau Sarana Infrastruktur, pihaknya berharap memperoleh dana yang cukup besar dari IPO. Krakatau Sarana Infrastruktur merupakan subholding yang terdiri atas PT Krakatau Bandar Samudera (KBS), PT Krakatau Daya Listrik (KDL), dan PT Krakatau Tirta Industri (KTI).

Per 30 September 2020, nilai aset sebelum eliminasi KDL tercatat US$ 245,38 juta, KBS senilai US$ 224,91 juta, dan KTI sebesar US$ 98,42 juta. Sementara, nilai aset KIEC sendiri mencapai US$ 178,46 juta.

Krakatau Steel telah melakukan penambahan modal terhadap KIEC dengan cara penyetoran modal dalam bentuk lainnya (inbreng) saham perseroan di masing-masing anak usahanya, yakni KBS, KDL, dan KTI. Langkah ini sebagai persiapan KIEC yang akan berubah menjadi Krakatau Sarana Infrastruktur dan melangsungkan IPO saham pada kuartal I-2022.

Dengan penatausahaan anak usaha tersebut, maka terdapat pengalihan 99,99% saham perseroan pada KBS, KDL dan KTI sebagai setoran modal perseroan dalam bentuk lainnya kepada KIEC yang merupakan perusahaan terkendali perseroan, dimana Krakatau Steel memiliki 99,99% saham KIEC. Adapun harga penyertaan untuk KBS sebesar Rp 3,85 triliun, KDL Rp 3,74 triliun, dan KTI Rp 2,08 triliun. Beralihnya saham ini efektif mulai 30 Juni 2021.

Langkah ini selaras dengan program dari pemegang saham Krakatau Steel untuk melakukan penataan di lingkungan anak perusahaan yang memiliki bidang usaha atau fokus bisnis yang sama agar efektif dalam pengelolaannya.

Perseroan melakukan penataan pada anak perusahaan yang bergerak dalam layanan industri terintegrasi yaitu layanan kawasan industri, layanan air industri, layanan listrik industri, dan layanan pelabuhan yang terintegrasi secara penuh untuk mendukung kegiatan industri dan mendatangkan manfaat yang optimal bagi perseroaan.

Alasan lain dilakukan transaksi ini adalah mendukung persiapan pengembangan klaster industri baja 10 juta ton per tahun di Cilegon dan mengembangkan alternatif usaha lainnya yang lebih menguntungkan dan dapat memberikan pendapatan, serta laba pada perseroan.

“Secara umum, tujuan dari rencana penatausahaan portofolio bisnis anak perusahaan ini adalah untuk meningkatkan nilai bisnis dan daya saing anak perusahaan. Dengan dilakukannya penatausahaan anak perusahaan di lingkungan perseroan, diharapkan dapat memperkuat bisnis non-core perseroan dalam layanan industri terintegrasi sehingga dapat mendukung kinerja keuangan perseroan,” jelas manajemen.

Lebih lanjut, ada empat manfaat yang diharapkan akan diperoleh perseroan dengan dilakukannya penataausahaan anak perusahaan ini. Pertama, perseroan memiliki keunggulan kompetitif yang bernilai tambah, yaitu perusahaan induk layanan industri terintegrasi pertama di Indonesia. Kedua, perseroan dapat meningkatkan kapitalisasi pasar melalui penyediaan one-stop services solutions yang meliputi layanan manajemen properti, kepelabuhanan, dan utility yang terintegrasi.

Ketiga, perseroan dapat membuka peluang untuk meningkatkan penawaran skala layanan yang lebih cepat dan mendalam, termasuk layanan yang inovatif dan bernilai tambah yang dibutuhkan konsumen. Keempat, perseroan dapat berkontribusi dalam program sustainability development melalui konsep green technologies (misalnya, reverse osmosis air laut, pembangkit listrik tenaga surya terapung, dan pembangkit listrik siklus gabungan) yang akan membantu perusahaan mencapai tujuan kelangsungan usaha.

Sebagai informasi, Krakatau Steel telah menuntaskan pembentukan subholding sarana infrastruktur yang merupakan perusahaan hasil integrasi dari beberapa anak perusahaan perseroan.

Silmy Karim mengatakan, subholding sarana infrastruktur memiliki pondasi yang kuat secara finansial. Penggabungan empat perusahaan tersebut memiliki pendapatan Rp 3,4 triliun dan nilai EBITDA sebesar Rp 1 triliun pada tahun 2020 dan akan terus berkembang seiring dengan pertumbuhan kebutuhan kawasan industri di Indonesia.

“Dari pembentukan subholding ini diproyeksikan menghasilkan pendapatan hingga Rp 7,8 triliun dalam lima tahun mendatang. Sementara, untuk EBITDA diproyeksikan meningkat mencapai Rp 2,2 triliun pada 2025,” sebut Silmy.

Anak-anak usaha yang tergabung dalam subholding ini memiliki keunggulan-keunggulan tersendiri. Misalnya, KIEC yang mengelola 3.250 hektare lahan industri dengan 920 hektare lahan industri yang tersedia untuk pengembangan tiga tahun ke depan. KDL memiliki kapasitas 120 MW dan saat ini tengah membangun fasilitas energi terbarukan melalui energi surya terapung yang mulai beroperasi pada tahun 2023.

Lalu, KTI merupakan perusahaan penyedia jasa air industri terintegrasi terbesar di Indonesia dengan kapasitas 3.000 liter per detik di Cilegon. Sedangkan KBS memiliki kapasitas bongkar muat pelabuhan sebesar 25 juta ton per tahun.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN