Menu
Sign in
@ Contact
Search
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Ekonom: Indonesia Jauh dari Resesi, Pasar Saham Bergerak Sideways

Senin, 18 Juli 2022 | 10:12 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap melaju dan terhindar dari krisis ekonomi global, meski lonjakan inflasi telah memukul ekonomi berbagai negara. Inflasi yang tinggi pasca pandemi dan tensi politik global telah memicu sejumlah negara mengalami kebangkrutan.

Sejumlah indikator di dalam negeri dinilai relatif cukup aman menahan angin resesi yang dipicu oleh sejumlah sentimen negatif dari sejumlah kondisi di luar Indonesia. Investor didorong untuk mampu mengendalikan kepanikan dan “kerakusan.”

Baca juga: IMF Yakin Ekonomi Indonesia Tumbuh Sehat dan Positif  

Hal itu mengemuka dalam webinar Investment Talk Series bertema “Potensi Market Semester II-2022” yang diselenggarakan D Origin Advisory bekerja sama dengan IGICO Advisory, pada Minggu (17/7/2022).

Chief Economist PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat mengatakan, probabilitas Indonesia dilanda resesi global hanya 5% dan berdasarkan data Bloomberg, probabilitas Amerika Serikat terkena resesi adalah 40%. “Artinya, Indonesia masih jauh dari resesi. Untuk Indonesia, saya lihat ini volatility, alih-alih tsunami,” ujar Budi.

Kendati jauh dari krisis gobal, Budi berkelakar, Indonesia sesungguhnya menghadapi ancaman krisis yang lebih pasti, yakni growing old before growing rich atau menua sebelum kaya.

Budi menyebutkan bahwa demografi penduduk Indonesia akan mulai menua pada 2030. Hal itu akan menjadi risiko apabila masyarakat belum menyiapkan investasi sedari sekarang. “Makanya kita persiapkan investasi dari sekarang,”kata Budi.

Dia mengakui, selama berpuluh tahun mengamati kondisi ekonomi, ada sejumlah hal yang membedakan antara krisis 1998, krisis 2008, 2013, dan krisis 2020 serta krisis kali ini yang dipicu oleh situasi pandemi.

Pada krisis yang disebabkan oleh pandemi, berbagai negara melakukan pagelaran stimulus luar biasa. Dia mencontohkan bank sentral yang menciptakan likuiditas luar biasa sehingga suku bunga rendah. Kemudian ada fenomena kenaikan aset kripto.

Namun, globalisasi telah menyebabkan proses penemuan vaksin berlangsung sangat cepat, yakni hanya 9 bulan – tercepat dalam sejarah. Hal ini menyebabkan ketimpangan stimulus di tengah pandemi, juga dinamika lainnya termasuk pembukaan kembali mobilitas.

Baca juga: Lonjakan Harga Energi Jadi Ancaman Pemulihan Ekonomi Global

“Pandemi juga telah menyebabkan pembatasan pergerakan orang serta hilangnya banyak nyawa, sehingga ada kelangkaan tenaga kerja dan modal. Ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga. Namun, di saat yang sama, ada ancaman inflasi tinggi pasca pandemi. “Di AS, persoalan ini lebih kompleks lagi,” kata Budi.

Baik di Indonesia dan global, lanjut Budi, perlu diwaspadai inflasi tinggi yang diperkirakan akan berlangsung cukup lama. Ia mengatakan, Indonesia sebetulnya memiliki posisi yang cukup diuntungkan. Pasalnya, inflasi saat ini dipicu oleh pergerakan komoditas.

“Komoditas itu ada dua jenis. Ada cost commodity, seperti minyak. Ada income commodity yang menghasilkan valas, seperti coal, nikel, karet, CPO, dan gas. Sejauh ini, kita masih beruntung karena income commodity kita tumbuh lebih pesat ketimbang cost commodity,”ujarnya.

Meskipun kini dunia menghadapi tantangan yang menggoyang ekonomi, Budi memberikan kerangka kepada para pelaku pasar untuk mengukur kepanikan – khususnya dalam pembentukan strategi investasi.

Pertama, dinamika global, baik dari segi ekonomi maupun geopolitik. Kedua, opsi kebijakan domestik serta responnya. Ketiga, pengambilan posisi oleh investor asing. Sebagaimana kejadian pada krisis 2008 dan 2020, apakah para investor asing tersebut dalam keadaan panik sehingga harus menjual portofolionya di Indonesia?

“Nah, ini perlu kita evaluasi. Acuan untuk cuan, lebih baik mengendalikan kerakusan, cukup rajin ambil untung, built in, dan cegah cut loss,” kata Budi.

Lebih lanjut, Budi menilai pasar modal Indonesia memasuki musim semi. Artinya ada peluang untuk bergerak membaik dan memberikan cuan. Secara historikal, Budi menyebutkan bahwa semester kedua biasanya market memang mengalami volatilitas. Selama 15 tahun terakhir, ujarnya, ada kecenderungan pola huruf V pada triwulan ketiga tahun berjalan, serta kecenderungan pasar memerah pada November, kemudian berbalik menjadi hijau pada Desember.  “Apakah tetap tesis ini? Saya sendiri menguji diri dengan investasi saya,” katanya.

Di kesempatan yang sama, Ade Permana, professional independent, trader dan investor setuju bahwa Indonesia dikatakan masih relatif jauh dari resesi. Menurut dia, hal itu pun tergambar di performa pasar modal.

Dia menyebutkan bahwa sejak harga tertinggi pada 11 April hingga saat ini, IHSG mengalami koreksi sekitar 10%. Di saat yang sama, indeks Dow Jones yang menunjukkan kinerja pasar modal AS mengalami penurunan lebih dari 19% atau hampir 20%.

Baca juga: Menkeu Pastikan Kondisi Ekonomi RI Terjaga Tak Seperti Sri Lanka

“Artinya dari segi ekonomi, dari segi indeks saham, kita (Indonesia) termasuk yang paling bagus di dunia untuk saat ini. Bahkan di regional pun Indonesia masih perkasa,” ujarnya.

Kendati demikian, Dow Jones perlu terus dipantau karena Amerika menjadi salah satu barometer pelaku pasar dalam negeri. Terlebih, sebanyak 60% - 70% investor di pasar modal Indonesia merupakan investor asing.

Indeks selanjutnya yang juga terus dipantau adalah DXY atau indeks dolar serta XAU atau indeks emas. “Kenapa? Karena banyak juga emiten-emiten kita yang listing di bursa efek itu sensitif terhadap pergerakan salah satunya XAU, DXY sama Dow Jones Industrial,” tutur Ade.

Fase Sideways

Sementara itu, Direktur PT Kurikulum Saham Indonesia, Alex Sukandar menyebutkan bahwa pasar saat ini sedang memasuki fase sideways yang cukup besar, seolah-olah membentuk triangle besar. Oleh karena itu, lanjutnya, harga terlihat sangat volatile.

Dari sisi performa, lanjutnya, sejumlah sektor masih terbilang unggul. Diantaranya IDXEnergy (sektor energi), IDXTransportation (sektor transportasi dan logistik), IDXIndustry (sektor industri), IDXHealth (sektor perawatan kesehatan), dan IDXNoncyc (sektor consumer non-cyclicals).

Baca juga: Pasar Saham Ambles, BEI Nyatakan Tak Ada Yang Mundur IPO

Sementara itu, index composite yang sempat bertumbuh, malah menjadi minus. Pelemahan indeks terutama tertekan oleh penurunan IDXProperty, IDXTechno, dan IDXFinance. Kendati demikian, Alex menilai investor mewaspadai prospek tiap-tiap sektor di masa mendatang.

“Kita lihat sektor IDXEnergy memang outperformed sekali, 41% jauh lebih unggul ketimbang composite itu sendiri. Namun, ada tanda-tanda breakaway gap yang kemungkinan besar adalah penanda terbentuknya tren baru. Begitu juga di IDXTransportation. Nah itu yang perlu diwaspadai,” katanya.

Ke depan, lanjutnya, beberapa sektor berpeluang mengalami kenaikan performa meskipun terbatas. Di antaranya IDXHealth, IDXNoncyc, IDXBasic (sektor basic material). Lebih lanjut, Alex menyoroti sektor syariah yang akan menopang pasar di saat terjadi koreksi. “Jadi memang kalau ketika market terkoreksi, biasanya indeks-indeks saham syariah itu yang survive,” kata Ade.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com