Menu
Sign in
@ Contact
Search
obligasi Surat Utang Negara (SUN)

obligasi Surat Utang Negara (SUN)

Harga SUN Diprediksi Naik, Investor Asing Mulai Melirik

Senin, 8 Agustus 2022 | 05:36 WIB
Zsazya Senorita (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id  – Harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi naik pekan ini, seiring imbal hasil (yield) yang cenderung mereda dan diproyeksikan bergerak di kisaran 7,2-7,3%. Sentimen negatif eksternal, terutama kenaikan suku bunga di negara maju diperkirakan sedikit mereda pekan ini. Hal ini membuat investor asing diperkirakan akan mulai melirik dan kembali masuk ke pasar SBN.

Analis fixed income Pefindo Ahmad Nasrudin menyebutkan, sejumlah bank sentral negara maju telah menaikkan suku bunga sebagai pengetatan moneter, mengantisipasi kemungkinan resesi. Di tengah ancaman resesi, perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang kuat. PDB riil Indonesia tumbuh 5,44% pada kuartal II-2022. Tingkat inflasi naik menjadi 4,94% (year on year/yoy) dengan inflasi inti masih berada pada 2,86% yoy atau masih dalam rentang target Bank Indonesia, yang membuktikan perekonomian Indonesia masih.

“Saya pikir asing akan mulai masuk ke pasar modal domestik, terutama saham. Sebagian mungkin juga akan masuk ke pasar SBN (Surat Berharga Negara),” ungkap Nasrudin kepada Investor Daily, Minggu (7/8/2022).

Nasrudin menjelaskan, investor asing masuk kembali ke pasar surat utang pemerintah karena melihat kenaikan suku bunga di pasar internasional saat ini sebagai puncak. Memang, ke depan, bank sentral diperkirakan akan menaikkan suku bunga, namun persentasenya diperkirakan lebih moderat. Di sisi lain, asing melihat Bank Indonesia (BI) akan berhati-hati untuk menaikkan suku bunga.

BI mencatat, investor asing di pasar keuangan domestik membukukan jual neto Rp 0,8 triliun sepanjang 1 – 4 Agustus 2022, terdiri dari beli neto Rp 3,42 triliun di pasar SBN dan jual neto Rp 4,22 triliun di pasar saham. Secara kumulatif, dari awal tahun hingga 4 Agustus 2022, asing membukukan jual neto Rp 129,86 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp60,28 triliun di pasar saham.

Baca juga: Hasil Lelang SUN di Atas Target Indikatif

“Dari data tersebut, meski asing membukukan jual neto yang signifikan di pasar SBN, namun saya melihat tidak semua dari mereka benar-benar keluar dari pasar modal domestik. Melainkan, sebagian beralih ke pasar saham,” ujar Nasrudin.

Nasrudin memperkirakan permintaan SBSN yang akan dilelang pada Selasa (9/8/2022) akan tetap menarik di tengah kemungkinan pasokan baru yang lebih sedikit. Kemungkinan kupon yang diminta juga akan relatif tinggi, mempertimbangkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi di pasar keuangan.

“Saya kira penawaran yang masuk akan lebih tinggi daripada yang dimenangkan dengan bid-to-cover ratio akan berada di atas 1,5 kali,” imbuhnya.

Lelang tersebut diprediksi masih didominasi investor domestik minimal sampai 80%. Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mengantongi hasil lelang SUN pada 2 Agustus 2022 sebesar Rp 19,06 triliun. Angka ini lebih tinggi dari target indikatif Rp 15 triliun.

“Dari sini, pemerintah nampaknya memanfaatkan yield yang relatif rendah saat ini dengan menyerap lebih banyak dari target indikatif sebelum naik ke depan,” kata Nasrudin.

Baca juga: Mantap! Investor Asing Serbu Lelang SUN di Pasar Perdana

Minat investor di lelang tersebut cenderung baik dengan penawaran yang masuk Rp 36,91 triliun, hampir dua kali lipat yang dimenangkan. Minat investor asing meningkat 46% dibandingkan lelang sebelumnya, yaitu dari Rp 4,76 triliun menjadi Rp 6,95 triliun. Minat investor asing mayoritas masih pada tenor 5 dan 10 tahun, dengan total penawaran yang dimenangkan atau sebesar Rp4,97 triliun setara 26,09% dari total incoming bids.

Hal senada diungkapkan Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto. Ia memprediksi harga SUN pekan ini masih menguat, melanjutkan tren penguatan pasar. Yield 10 tahun Indonesia diperkirakan bisa turun mendekati 7% dalam waktu dekat.

“Karena likuiditas dalam negeri masih sangat baik meski suku bunga di Amerika naik cukup agresif. Sehingga asing walau belum berbondong-bondong masuk ke indonesia, mereka sudah melirik pasar kita. Investor domestik lebih confidence untuk masuk ke pasar SBN kita,” ujar Ramdhan melalui sambungan telepon.

Dihubungi terpisah, Senior Economist Samuel Sekuritas Fikri C Permana juga memperkirakan harga SUN sepekan akan naik , dilihat dari data-data yang akan rilis ke depan. Dari global, tekanan terhadap yield US Treasury diprediksi melandai tetapi data inflasi CPI AS yang akan keluar pada Rabu (10/8/2022) akan sedikit melandai dari 9,1% ke konsensusnya 8,7%.

“Jika sesuai konsensus, risiko inflasi akan lebih rendah dan memengaruhi yield US Treasury rendah. Asumsi yield spread antara SUN dan US Treasury sama, harusnya yield SUN juga akan lebih rendah atau harganya naik,” ungkap Fikri.

Editor : Indah Handayani (indah.handayani26@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com