Menu
Sign in
@ Contact
Search
Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal)

Fundamental Ekonomi Indonesia Kuat, Berikut Sejumlah Saham Pilihan

Senin, 8 Agustus 2022 | 11:04 WIB
Novy Lumanauw (novy@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Pasar modal diproyeksikan tetap bertumbuh, meski menghadapi tantangan resesi global. Sikap optimisme itu didukung oleh kemampuan Indonesia dalam mengurangi dampak resesi global  dan ekonomi Indonesia memiliki fundamental yang masih kokoh.

Founder Forum Saham & Beta Trader Yuza Sha mengungkapkan, Amerika Serikat (AS) sedang dibayangi resesi dalam beberapa bulan terakhir ini ditandai dengan adanya inversi yield. “Perbandingan antara surat utang jangka pendek dan jangka panjang AS yang normal itu terakhir terjadi pada 2021, di mana surat utang jangka pendek akan lebih kecil yield-nya ketimbang yang jangka panjang. Jika sebaliknya terjadi, maka perekonomian tengah mengalami resesi. Ini bisa menjadi salah satu indikator,” terang Yuza Sha dalam diskusi daring Investment Talk bertajuk “Indonesia Capital Market in Global Recession” yang diselenggarakan D Origin Advisory bersama Igico Advisory, Minggu (7/8/2022).

Baca jug: DPR Sebut Pertumbuhan Ekonomi 5,44% Modal Penting Hadapi Tekanan Eksternal

Seperti diketahui, perekonomian dunia kini dibayangi resesi, akibat geopolitik global dan isu perang, inflasi yang meningkat, hingga krisis energi. Bayang-bayang resesi global telah digambarkan Dana Moneter Internasional (IMF) yang kembali memangkas pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,2%. Penurunan ini akibat adanya inflasi yang tinggi di sejumlah negara, terutama AS.

Inflasi AS juga melambung dan ekonomi yang terkontraksi. Posisi terakhir inflasi berada di angka 9,1%, tertinggi dalam empat tahun terakhir, dan pertumbuhan ekonomi per Agustus 2022 berada di minus 1%. Sebagai respons kondisi tersebut, Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) melakoni kebijakan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate). Hal ini tentu akan berdampak pada perekonomian negara lainnya.

Yuza menilai, Indonesia telah memiliki pengalaman yang yang baik dalam menghindari resesi global dan memiliki ketahanan yang cukup kuat. Terbukti, pada krisis 2008 akibat subprime mortgage, Indonesia menjadi salah satu negara dari 5 negara yang tidak terlalu terdampak. Kemudian, pada proyeksi resesi global kali ini, Indonesia juga diproyeksikan oleh Bank Dunia sebagai salah satu negara dengan potensi terdampaknya rendah, yakni sebesar 3%.

Dari sisi fundamental perekonomian Indonesia, dia menilai, tergolong baik dengan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2022 tumbuh sebesar 5,44%. Dengan tingkat inflasi mencapai 4,94% secara tahunan. Bank Indonesia (BI) telah menyatakan bahwa inflasi inti masih terjaga dengan baik.

Sementara itu, Maryadi Laksmono, Founder Mal Asociates, mengatakan bahwa krisis energi telah dirasakan dunia sejak akhir 2021. “Di tengah potensi resesi global, Indonesia dan India menjadi beberapa negara yang terdampak minimal. Mengapa demikian? Karena kebijakan fiskal dan moneternya sama, yakni melakukan subsidi kepada kelas menengah ke bawah,” jelas Maryadi.

Bagi Maryadi, hal yang perlu diperhatikan adalah kondisi negara mitra dagang Indenesia, di mana yang terbesar itu AS dan Tiongkok. Jika kedua negara besar itu mengalami resesi, permintaan barang atau produk dari kedua negara itu akan berkurang.

“Namun demikian, lagi-lagi, kalau dilihat kita masih jauh dari imbas resesi. Ekonomi kita ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Malah kita tengah ekspansi. Kemudian, secara balance sheet kita juga diuntungkan dengan adanya peningkatan harga komoditas karena kita menjadi salah satu negara pengekspor. Di luar itu, Indeks Kepercayaan Konsumen masih di atas 100, yakni 128,2 per April 2022 dan Purchasing Manager Index (PMI) juga masih di atas angka 50,” beber Maryadi.

Sektor Unggulan

Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi satu dari beberapa indeks saham gabungan yang terbaik di dunia. “Dibandingkan indeks saham gabungan negara lain year to date pertumbuhannya mencapai 7,6%. Nomor 1 di ASEAN, semua negara merah hanya Singapura yang hijau. Lalu, nomor 1 di Asia Pasifik dan nomor 6 di dunia,” terang Yuza.

Baca juga: INDEF Beberkan Tantangan Ekonomi Kuartal III-IV, Jangan Euforia Dulu!

Hal senada diungkapkan Head of Equity Retail Samuel Sekuritas, A.A. Damargumilang. Dia menilai kinerja IHSG diproyeksikan akan terus menguat. Ia melihat dalam sebulan terakhir setelah berada di angka terendah di level 6.500, IHSG kemudian perlahan terus naik dari level 6.740 sampai 6.800, dan pekan lalu berada di level 7.084,65.

“Sejak 26 Juli 2022 up trend bagus dan sangat cepat. Untuk ke depan, IHSG punya resistance di level 7.300 sampai 7.555, namun untuk support terbawahnya di angka 6.900 sampai 7.000 sudah cukup bagus,” jelas Damargumilang.

Proyeksi tersebut tentu saja sesuai dengan kondisi dan fundamental yang ada. Mulai dari pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS untuk kuartal II 2022, dan laporan kinerja yang bagus dari para emiten untuk kinerja kuartal II 2022.

“Untuk saham-sahamnya, dari bluechip yang terbaik itu BBCA harga sahamnya sudah cukup tinggi. Untuk opportunity ada di BBRI dan ASII. Untuk sektor yang berikutnya adalah perusahaan komoditas, ada batu bara, sawit, dan metal, dan migas, serta sektor lainnya seperti telekomunikasi dan media, serta teknologi,” jelas Damargumilang.

Sejatinya, saham-saham yang lebih tahan terhadap resesi global bisa dilihat dari fundamentalnya. “Fundamental yang menjadi landasaan dasar perusahaan adalah aktivitas atau bisnis perusahaan. Perusahaan itu baik sekali jika kualitas dan efisien secara bisnis,” terang Krisantus, Founder Analisa Fundamental Saham Indonesia (AFSI).

Sementara itu, Founder Syariah Saham, Asep M. Saepul Islam yang kerap dipanggil Mang Amsi, menambahkan, sejauh ini pasar bursa saham masih positif. Saham syariah tetap menjadi pilihan, karena sudah teruji saat pandemi lalu di mana harga saham lainnya jatuh, justru indeks saham syariah tetap di jalur positif. Demikian pun dengan kinerja Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) yang tetap kinclong hingga saat ini, bahkan mengalahkan indeks saham LQ45.

“Dari sisi sektor yang lagi di puncaknya adalah transportasi dan logistik. Sedangkan, yang lagi jatuh itu teknologi, juga properti dan real estat. ISSI jadi indeks saham syariah dunia terbaik naik 6%. Untuk saham syariah likuid pilihan kuartal II 2022 itu ada UNTR, AKRA, HRUM, BTPS, TAPG, dan SMDR,” tutup Mang Amsi.

Editor : Parluhutan (parluhutan@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com