Menu
Sign in
@ Contact
Search
Pialang memantau jalannya pergerakan saham di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi:  Investor Daily/David Gita Roza

Pialang memantau jalannya pergerakan saham di sebuah sekuritas di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

HUT ke-45 Pasar Modal, Berikut Aspirasi dari Pelaku

Rabu, 10 Agustus 2022 | 00:09 WIB
Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Rabu, 10 Agustus 2022, Bursa Efek Indonesia (BEI) merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-45 diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Selama 45 tahun tersebut, sebanyak 809 perusahaan telah melantai di BEI. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah di level 7.355 (intraday) pada 11 April 2022.

Pasar modal Indonesia bahkan mencatatkan rekor nilai penggalangan dana terbesar di ASEAN via penawaran umum saham senilai total Rp 62,5 triliun.

Tak hanya itu, BEI juga menjadi bursa paling aktif di ASEAN dengan pencatatan saham baru terbanyak selama empat tahun berturut-turut. Sepanjang 2018-2021, terdapat 217 perusahaan tercatat baru di BEI dan pencapaian ini lebih tinggi dibandingkan bursa-bursa lain di ASEAN.

Baca juga: Jelang HUT Pasar Modal, Korporasi Beramai-ramai Masuk Bursa

Dari sisi investor, data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyebutkan bahwa jumlah investor saham di pasar modal Indonesia telah menembus 4 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir semester I-2022, dimana 99,79% di antaranya merupakan investor individu lokal. Sementara, total investor pasar modal menembus 9 juta.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin mengatakan, pasar modal Indonesia bahkan menjadi salah satu yang terbaik di Asia di tengah sentimen negatif eksternal yang begitu kuat selama pandemi, ditambah perang Rusia-Ukraina hingga pengetatan moneter yang agresif.

“Kalau kita berbicara pasar modal, itu tidak lepas dari dua pasar utama, yaitu surat utang pemerintah dan pasar saham,” kata dia kepada Investor Daily, Selasa (9/8/2022).

Baca juga: HUT Ke-45, Pasar Modal Masih Punya PR Soal Edukasi

Dia meyakini IHSG masih prospektif. Hal itu akan didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat dan menjadi daya dorong bagi kinerja positif pasar saham tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) telah melaporkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2022 sebesar 5,44% (year on year/yoy), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya yang sebesar 5,01%.

Kondisi itu menjadi alasan mengapa asing tetap memburu saham di pasar domestik di tengah ancaman resesi di negara maju akibat kenaikan suku bunga yang agresif. “Meski di pasar surat utang pemerintah, mereka membukukan jual neto, tapi sebaliknya di pasar saham, mereka membukukan beli neto senilai total Rp 60,28 triliun dari awal tahun hingga 4 Agustus,” ungkapnya.

Lebih lanjut, IHSG masih menjadi yang terbaik sejauh ini dengan return 7,6%. Persentase tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan Straits Times Index (Singapura) dengan return 5,1%.

“Bahkan ketika indeks saham utama lainnya di Asia negatif, kita masih positif. Pemulihan ekonomi yang kuat dan tetap berada jalurnya menjadi katalis bagi kinerja pasar saham tahun ini,” kata dia.

Secara terpisah, penasihat Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) yang juga Kepala Riset MNC Sekuritas Edwin Sebayang mengungkapkan beberapa ‘pekerjaan rumah’ (PR) bagi BEI yang belum selesai.

Baca juga: Ratusan Saham Masuk Watchlist Bursa, Hati-hati!

Menurut dia, pasar modal di Tanah Air masih perlu memperluas produk, salah satunya menyiapkan perdagangan option dan beberapa produk market yang lebih dalam agar investor mempunyai banyak pilihan. Ini tentunya akan menarik investor baru ke pasar modal.

“Selain itu, melihat kondisi pasar yang kembali membaik, sebaiknya bursa mulai mengembalikan regulasi ke awal sebelum pandemi, seperti mengembalikan ketentuan soal auto reject harga saham, yang dapat meningkatkan transaksi dan daya tarik bagi investor,” jelas Edwin.

Ke depan, menurut dia, tantangan yang akan dihadapi BEI masih sama, yakni terus meningkatkan jumlah investor di pasar modal. Sebab makin banyak jumlah investor, makin menarik investasi di pasar modal. “Dengan demikian, akan lebih besar pula kemungkinan calon-calon perusahaan baru yang masuk, karena melihat pasar modal Indonesia dapat menjadi sumber alternatif pendanaan,” tutur dia.

Baca juga: Belanja Saham Bulan Agustus, ADRO, ITMG hingga ICBP Masuk Keranjang

Di lain pihak, tim riset NH Korindo Sekuritas mengungkapkan beberapa tantangan pasar modal Indonesia ke depan, antara lain masih rendahnya literasi, terutama pemahaman mengenai produk-produk di pasar modal.

“Literasi yang belum merata ke seluruh masyarakat Indonesia menyebabkan mereka lebih suka mendapatkan rekomendasi-rekomendasi saham dari orang yang tidak kompeten di bidang tersebut daripada mencoba memahami atau memperlajari ilmu investasi sendiri,” papar tim riset NH Korindo Sekuritas.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat mengatakan, PR bagi bursa saat ini adalah meningatkan likuiditas saham dengan menerbitkan berbagai produk turunan. “Butuh ada semacam ekstra keseriusan dalam menanggapi produk derivatif dari equity, misalnya untuk pasar futures perlu dilakukan kegiatan yang menyeluruh untuk meningkatkan transaksi, karena produknya sudah ada. Mungkin perlu dikenalkan lebih dalam lagi,” ujar dia.

Editor : Jauhari Mahardhika (jauhari@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com